Mencari “Manusia Indonesia Baru”

1 20

MANUSIA Indonesia – Apakah ada perbedaan mendasar,  antara “Manusia Indonesia” masa kini dengan “Manusia Indonesia Indonesia” masalalu ? Ya, manusia Indonesia yang digambarkan Mochtar Lubis, cenderung negatif. Digambarkan sebagai manusia yang munafik. Memang banyak contoh dari penggambaran itu, kasus korupsi yang dilakukan manusia Indonesia lintas SARA. Hampir semua oknum dari berbagai suku, agama,  ras dan antargolongan terlibat dalam pencurian uang negara tersebut. Apakah Indonesia  hari ini berbeda dengan Indonesia pada masa lalu ?

Indonesia hari ini adalah Indonesia yang  sama dengan apa yang dinyatakan sebagai bangsa pada 28 Oktober 1928 dan sebagai negara berdaulat pada  17  Agustus 1945.

Apa makna menjadi bangsa Indonesia hari  ini?  Pada  titik perkembangan bangsa dan negara  sekarang ini, kita rasanya dihentakkan oleh kesadaran  perlunya menelaah ulang  hakikat bangsa dan  negara kita. Maka kita memerlukan peneguhan kembali ikatan  batin atau komitmen semua  warga negara kepada cita-cita nasionalnya, disertaipembaharuan tekad bersama untuk melaksanakannya.

Kita harus menemukan  cara untuk mengatasi persoalan  bangsa dan negara kita, sekali ini dan untuk  selama-lamanya (once and for  all). Hanya dengan serupa itu  kita akan  terhindar dari kemungkinan mengalami krisis lagi yang tanpa berkesudahan. Now or never! (Madjid   – Indonesia Kita, 2004).

Nasionalisme sejati, dalam artian suatu  paham yang memerhatikan kepentingan seluruh warga bangsa tanpa kecuali, adalah  bagian integral yang dibangun Nabi Muhammad  saw. Berkenaan dengan Madinah Nabi itu Robert N.Bellah (sosiolog terkemuka saat ini), menyebutkan, bahwa contoh  pertama nasionalisme modern ialah sistem masyarakat Madinah masa Nabi dan para khalifah yang menggantikannya (ibid).

Lalu bagaimana untuk menentukan  hari depan  Indonesia itu  sendiri? Jawabannya adalah “masa  depan  Indonesia ditentukan pada  hari ini”. Dari  titik inilah, hari ini  merupakan penentuan masa  depan  bangsa kita. Ini harus dilakukan bagi  seluruh  warga negara, tanpa kecuali. Kebhinekatunggalikaan telah kita tetapkan sebagai sebuah bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Ada yang menarik pada dua negara, antara Republik Indonesia dan Amerika  Serikat. Kedua  negara itu menggunakan simbol “burung  elang” sebagai lambang negaranya. Republik Indonesia menamakan lambangnya “Garuda Pancasila”, sementara Amerika Serikat  menamakannya “Amerika Serikat Seal”  yang merupakan segel resmi dari pemerintah AS. Sebutan yang dominan adalah “Eagle American”  yang ditunjukkan dengan sayapnya yang melebar.

Elang tersebut di paruhnya membawa sebuah gulungan yang muncul dalam bahasa Latin dengan motto “E pluribus unum” (Dari berbagai aliran, tetapi satu). “E pluribus unum” adalah motto Amerika Serikat,  motto ini muncul pada  berbagai koin dan uang kertas serta banyak pada monumen publik. Sementara pada Garuda  Pancasila tertera “Bhinneka Tunggal Ika” yang artinya, mirip  dengan sang elang Amerika,  yaitu “Berbagai  aliran, tapi  satu tujuan”.  Bedanya “burung  elang” Amerika nampak  lebih  kurus, sedangkan  “elang  Indonesia” nampak  lebih  gemuk (NMN, 2014).

Menurut Madjid,  semuanya beraneka  ragam, namun hakikatnya satu jua, sebab tidak  ada jalan kebaktian yang  mendua tujuan (Bhinneka Tungga lIka, tan Hanna Dharma Mangroa).  Walaupun  begitu, perbedaan relatif tidak mungkin dihapuskan, dan kedua pola  budaya pesisir dan pedalaman tetap memengaruhi bangsa Indonesia secara  keseluruhan, sekalipun sebagian  besar warga masyarakat telah  beralih ke agama Islam. Ketegangan dalam interaksi  antara kedua pola budaya dengan perbedaan relatif  itu telah menjadi salah  satu sumber berbagai persoalan nasional Indonesia.

Apa Itu Nasionalisme?

Apa Itu Nasionalisme
Ilustrasi: Nasionalisme. Photo: nasionalisme.id

Nasionalisme, dalam sejarah modern merupakan gerakan negara-bangsa dianggap sebagai sesuatu yang  penting untuk realisasi aspirasi sosial, ekonomi, dan budaya suatu bangsa. Nasionalisme ditandai terutama oleh perasaan komunitas di antara orang-orang, berdasarkan keturunan umum, bahasa, dan agama. Sebelum abad ke-18, ketika nasionalisme muncul sebagai gerakan khas, negara biasanya didasarkan pada ikatan keagamaan atau dinasti; warga berutang kesetiaan kepada gereja mereka atau keluarga penguasa. Prihatin dengan marga, suku, desa, atau provinsi, orang jarang diperpanjang kepentingan mereka secara nasional.

Secara historis, kecenderungan ke arah nasionalisme didorong oleh berbagai teknologi, budaya, politik, dan ekonomi kemajuan. Peningkatan komunikasi memperluas pengetahuan orang luar desa atau provinsi mereka. Penyebaran pendidikan dalam bahasa roh vernakular untuk kelompok berpenghasilan rendah memberi mereka perasaan partisipasi dalam warisan budaya umum.

Melalui pendidikan, orang belajar dari latar belakang umum dan tradisi dan mulai mengidentifikasi diri mereka dengan kontinuitas sejarah bangsa. Pengenalan konstitusi nasional dan perjuangan untuk hak-hak politik masyarakat memberi arti membantu untuk menentukan nasib mereka sebagai bangsa dan berbagi tanggung jawab untuk masa depan kesejahteraan bangsa itu. Pada saat yang sama pertumbuhan perdagangan dan industri meletakkan dasar bagi unit-unit ekonomi yang lebih besar dari kota-kota tradisional atau provinsi.

Menurut pakar politik Amerika Hans Kohn (2003) pada awal dari nasionalisme modern yang dapat ditelusuri kembali ke disintegrasi, pada akhir Abad Pertengahan, dari tatanan sosial di Eropa dan kesatuan budaya dari berbagai negara Eropa. Kehidupan budaya Eropa didasarkan pada warisan umum ide dan sikap ditransmisikan di Barat melalui Latin, bahasa kelas terdidik. Semua Eropa Barat menganut agama yang sama, Kristen Katolik.

Pecahnya Feodalisme

Pecahnya Feodalisme
Ilustrasi: Pecahnya Feodalism. Photo: Frepik.com

Pecahnya feodalisme, sistem sosial dan ekonomi yang berlaku, didampingi oleh pengembangan masyarakat yang lebih besar, hubungan timbal sosial yang lebih luas, dan dinasti yang dipupuk perasaan kebangsaan untuk memenangkan dukungan bagi pemerintahan mereka. Perasaan nasionalme diperkuat di berbagai negara selama Reformasi. Ketika adopsi baik Katolik maupun Protestan sebagai agama nasional menjadi kekuatan tambahan bagi kohesi nasional.

Titik balik besar dalam sejarah nasionalisme di Eropa adalah Revolusi Prancis. Perasaan nasional di Prancis sampai saat itu berpusat pada raja. Sebagai hasil dari revolusi, loyalitas kepada raja digantikan oleh kesetiaan kepada Patrie (“tanah”). Dengan demikian “La Marseillaise”, lagu dari “Revolusi Prancis” yang kemudian menjadi lagu kebangsaan, dimulai dengan kata-kata Allons enfants de la Patrie (“Maret pada, anak-anak tanah air”).

Ketika pada tahun 1789 abad pertengahan Prancis Estates-General, yang terdiri dari badan-badan yang terpisah yang mewakili ulama, bangsawan, dan rakyat biasa, berubah menjadi Majelis Nasional. Prancis mencapai sistem yang benar-benar wakil pemerintah. Divisi regional, dengan tradisi yang terpisah dan hak, dihapuskan. Dan Prancis menjadi seragam dan wilayah persatuan nasional, dengan undang-undang dan lembaga umum. Tentara Prancis menyebarkan semangat baru nasionalisme di negeri-negeri lain.

Sejarah Nasionalisme di Indonesia

Di  Indonesia titik balik besar dalam  sejarah nasionalisme di Indonesia  dimulai  pada gerakan Boedi Oetomo 20 Mei 1908. Berlanjut pada  Sumpah  Pemoeda,  28 Oktober  1928 dan puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan R.I.  17 Agustus 1945. Dalam Pembukaan Undang-Undang  Dasar Republik Indonesia 1945 dinyatakan.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia. Melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Maka disusunlah kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia  yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada: Ketuhanan yang Maha Esa. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Persatuan Indonesia. Dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itulah  nasionalisme. Lalu adakah “manusia Indonesia baru”  di situ? ***


Penulis         : NURDIN M. NOER – wartawan  senior
Penyunting  : Acep M Lutvi

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. Muhamad Farhan berkata

    memang zaman sekarang mansia indonesia sangatlah memprihatinkan dengan tergiurnya IPTEK yang berkembang di Indonesia. maka dari itu anak-anak bangsa indonesia terkendalikan oleh Teknologi dan tidak diiringi oleh IPTAQ (Iman dan Taqwa)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.