Inspirasi Tanpa Batas

Mencari Masjid yang Hilang di Desa

0 2

Konten Sponsor

Mencari Masjid yang Hilang di Desa. Maghrib segera datang. Matahari sudah berada di ufuk Barat. Terik panas matahari sudah menghilang berganti menjadi sejuk, temaram lalu redup dan kemudian dingin.

Desahan angin sore yang dihembuskan angin dari sebuah pegunungan, terasa menusuk ke pori-pori tubuh manusia. Angin itu, bukan saja telah mendinginkan suasana, tetapi juga menghabiskan keringat yang seharian dikucurkan setiap orang. Legam tubuh manusia yang seharian terkena terkaman panasnya sinar matahari, berganti berseri dengan semangat spiritual yang sangat tinggi. Keperkasaan manusia, pada akhirnya dipaksa berhenti di situ.

Rasa dingin terasa semakin menguat beriringan dengan pergantian waktu. Suasana itu telah mendorong setiap manusia, untuk hanya tinggal di rumah dan tidak bercita-cita untuk meneruskan aktivitas fisik lain di luar rumah mereka. Embun sore sudah mulai tampak, meski daun-daun pohon tidak ditimbuni air embun seperti di waktu pagi.

Masyarakat secara umum, segera bergegas mandi, berganti pakaian yang sebelumnya tipis menjadi sedikit lebih tebal. Mandi di jamban-jamban di atas kolam mereka yang hanya ditutupi bilik-bilik setengah badan yang terbuat dari kayu. Model wc yang tidak pernah dilaporkan ke pihak berwajib gara-gara dianggap berbuat pornografi dan pornoaksi.

Sore Hari dan Lambat Kesucian

Setiap sore, pada akhirnya setiap anggota masyarakat menunjukkan kesucian dan kebeningan tubuhnya. Tampak juga rasa segar menghinggapi mereka sehingga tampak dengan jelas untuk melaksanakan titah-titah spiritual ketuhanan. Suatu kerangka aktivitas yang sama sekali meninggalkan beban-beban hidup duniawi menjadi kehidupan spiritual yang tak berhingga. Kita dapat dibikin bangga menyaksikan semua lakon kemanusiaan penduduk desa yang bersahaja di satu sisi, namun, tampak penuh harapan masa depan di sisi lainnya.

Suara binatang kecil yang biasanya berada di pohon yang tinggi dengan terjangan suara yang keras, berhenti berganti dengan suara–suara binatang melata seperti kodok dan jangkrik di sekitar rumah dan jamban penduduk. Suasana terasa semakin spiritual karena surau-surau mengirimkan berbagai nyanyian ketuhanan dalam bentuk shalawatan atau ngaji Qur’an. Remaja dan anak-anak datang serentak masuk Masjid. Mereka berlomba datang agar memiliki kesempatan melantunkan irama ketuhanan melalui speaker. Suara anak-anak kecil yang dibiarkan bermain menurut nalar anak di dalam Masjid dan di dalam Madrasah, tampak juga terasa.  Para pemuda dan mereka yang dewasa tidak sedikitpun membentak mereka. Mereka menjadikan Masjid, justru sebagai tempat bermain mereka.

Warga Desa yang Sahaja

Warga masyarakat desa selalu menunjukkan sikap kesahajaan dengan mimik muka yang tampak bersih, berseri dan jauh dari kesombongan. Orang tua laki-laki biasanya duduk-duduk di teras rumah sambil minum kopi pahit panas dengan rokok menempel di bibir mereka. Sementara ibu-ibu, berangkat ke jamban-jamban yang dibawahnya tersedia kolam dengan ikan kampung yang sangat beragam. Piring-piring yang kotor bekan alas makanan, dicuci dengan sangat antusias di jamban kolam-kolam dengan maksud agar ikan dapat tetap makan, meski makanan yang diberikan masyarakat tetap ada.

Terlihat dengan jelas dedek padi menghampar di sekitar kolam. Ikan-ikan pada naik turun mengambil makanan. Mereka begitu tertib satu sama lain. Mereka seolah selalu memberi kesempatan untuk makan kepada yang lain. Ikan-ikan tertentu seperti ikan Gurami dan Ikan Tawes, disediakan pula makanannya dalam bentuk daun-daun talas atau daun singkong. Gemuruh ikan di setiap kolam milik penduduk setempat, selalu tetap terjaga.

Saat seperti itu terjadi, dapat dipastikan mereka telah makan sore. Maklum, tradisi di kampung itu, makan hanya diperkenankan dan hanya diharuskan sampai menjelang maghrib tiba. Lebih dari itu, sudah tidak ada lagi aktivitas makan kecuali yang bersipat cemilan dalam bentuk makanan ringan berbentuk bakar singkong atau bantalan. Suatu makanan yang dibuat dari singkong yang dicampur dengan gula merah.

Awan Kemerahan Menambah Keindahan

Awan berwarna merah saat itu semakin tampak dengan jelas. Redupan cahaya yang semakin temaram, datang mengiringi bergantinya hari menjadi malam. Tanda-tanda jaman akan waktu “sandekala”, segera ditabuhkan untuk kemudian semua manusia diam dengan cahaya berbentuk lampu cempor di masing-masing rumah. Rumah-rumah semacam itu, tetap terasa hangat yang mengakibatkan nyamannya istirahat para penduduk untuk beberapa saat, sambil menunggu taluan suara adzan yang sebelumnya diawali dengan suara bedug dan kohkol.

Saat seperti terjadi, beberapa gelintir pemuda desa yang tidak ikut olah raga, biasanya sedang mempersiapkan diri untuk memasuki waktu malam. Mereka selalu kelihatan sibuk mengurusi segala keperluan Masjid untuk pengajian malam hari. Ia menyapu Masjid, lalu membereskan karpet dan menyusun sejumlah kitab yang akan diajarkan para kyai.

Mereka biasanya memasukan minyak tanah ke dalam tangki petromak. Minyak yang diperoleh para santri atas hasil kerja bakti mingguan dalam bentuk pengambilan singkong dari suatu kebun lalu dipikul dan dijual. Hasil upah pikulan membawa singkong itulah yang menyebabkan pesantren dimaksud tetap dapat membeli minyak tanah.

Sebagian pemuda, ada juga yang sibuk membawa kitab-kitab untuk dikaji kalau rayapan hari akan segera sirna. Petromak, dipompakan gas ke dalam tangki itu, untuk kemudian dinyalakan.

Ptromak itulah yang menerangi pekatnya suasana Masjid tua yang dimiliki kampung, yang oleh para pendahulu kampung itu dianggap sebagai Masjid tertua. Masjid yang didirikan atas sejumlah dedikasi dan loyalitas keagamaan yang cukup tinggi. Maklum di era itu, kampung dimaksud belum memiliki saluran Listrik. Negara belum memiliki kesanggupan untuk menyalurkan listrik ke dalam kampung itu.

Masjid kami Hilang

Kucari Masjid itu saat ini. Masjidnya menjadi besar dan mewah. Petromak sudah tidak ada karena kini telah diganti menjadi listrik. Tetapi aku mencari penduduk di dalam Masjid. Ternyata kosong. Anak-anak juga tidak ada. Bahkan sama sekali kosong. Jangan tanya Kohkol dan bedug atau  Kitab-kitab Kuning. Semua sudah tidak ada, Mungkin dimakan rayap … Ya Tuhan Masjid kami kini hilang. Di mana sekarang mereka belajar agama. Tidak di desa atau di Kota. Banyak kyai kini telah beralih profesi.

Dicuplik dari buku Agama tanpa Tuhan Karya Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar