Inspirasi Tanpa Batas

Mencari Nalar Filosofi Saat Ahok Masuk Rutan Cipinang

0 1

Konten Sponsor

Akhirnya Ahok Masuk Penjara. Jam lima sore hari ini [9 Mei 2017], ada telepon yang bertanya kepada saya. Isinya, mengapa begitu banyak pendukung Ahok yang masih membelanya. Para pendukung itu, cenderung histeria dan kesannya sangat berlebihan.

Tidak ada tokoh yang masuk penjara dengan banjir pengunjung seperti Ahok. Anas Urbaningrum dan Yance, yang banyak disebut memiliki banyak pengikut setiapun, tidak dijejali pengunjung saat masuk penjara, sebanyak yang datang membela Ahok.

Suara di telephon itu kemudian melanjutkan perkataannya dengan lebih serius. Ia mengatakan bahwa ratusan orang datang ke LP Cipinang saat Ahok harus masuk ke dalam penjara. Ada apa sesungguhnya?

Mengapa sedemikian dramatis atas apa yang menimpa Ahok? Sekali lagi kata dia, kondisinya sangat berbeda dengan sikap pendukung para tahanan lain selain Ahok ketika mereka akan masuk ke dalam penjara. Ahok malah terkesan bak pahlawan Indonesia. Atau ia mirip dengan selebriti.

Dunia Mencari Keseimbangan

Saya menjawab singkat atas semua pertanyaan dimaksud dengan mengatakan: “Semua itu terjadi, karena terlalu banyak orang yang menyudutkan dan membuat Ahok tidak berdaya. Sangat banyak orang yang tersinggung oleh Ahok sehingga menimbulkan kebencian massif kepadanya. Sangat banyak juga orang yang menuduh Ahok telah berbuat nista, sehingga bagaimanapun caranya, Ahok harus menerima hukuman”.

Jadi, kalau anda tidak suka melihat bagaimana Ahok didukung banyak orang, meski ia sudah masuk penjara, ya kurangi atau hilangkan kebencian anda kepadanya. Semakin tinggi tingkat kebencian yang mungkin kita muntahkan kepadanya, maka, akan semakin banyak pula orang yang menyukai dan merelakan dirinya mati untuk Ahok.

Dalam nalar filsafat, alam itu selalu mencari simetri. Selalu mencari keseimbangan. Selalu mencari titik tengah. Karena alam selalu mencari titik tengah, maka, rasa benci akan mendorong rasa sayang. Sama dengan rasa sayang. Ia akan mendorong rasa kebencian di pihak lain. Kedua sikap itu berbeda, tetapi, sangat sulit dipisahkan.Teori hukum alam ini, kini telah dibuktikan melalui fenomena Ahok.

Itulah makna lain, mengapa Rasul Muhammad mengatakan: Cintailah segala sesuatu dengan wajar. Atau dalam makna sebaliknya, bencilah segala sesuatu secara wajar pula.  Mengapa? Karena kewajaran akan memiliki makna yang juga wajar.

Yang sulit bagi umat hari ini, lepas dari soal pro atau kontra adalah memang sikap wajar. Mencari dan berperilaku wajar inilah yang sulit. Itulah kalimat terakhir yang saya sampaikan. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar