Kucari Air Mataku di Ka’bah | Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah Part- 17

Kucari Air Mataku di Ka'bah | Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah Part- 17
0 129

Kucari Air Mataku di Ka’bah. Pukul 07.00 pagi, jama’ah kembali ke Maktab. Ya sebuah tempat yang layak disebut maktab. Bukan Hotel. Bagaimana tidak. Satu kamar diisi 8 jama’ah. Tinggal dalam satu kamar bersama. Terdiri dari minimal dua atau tiga keluarga. Kami menunggu waktu untuk pelaksanaan haji yang diperkirakan sekitar satu minggu ke depan dalam tempat yang sedikit sumpek. Sangat berbeda dengan siatuasi di Madinah.

Di maktab di mana kami tinggal, di situ terdapat jama’ah haji asal India, Fakistan, Bangladesh, Afrika Selatan dan Ghana. Di Maktab inilah, kami bercengkrama satu sama lain. Kami kata Crhonos tentu bersama jama’ah lain sudah melaksanakan umrah. Meski seharusnya haji dulu, baru umrah. Tetapi, kami mengambil haji tamattu, yang mengakibatkan harus membayar dam (denda) senilai satu ekor kambing. Pembimbing hajipun mengumpulkan dana yang kalau dirupiahkan senilai dengan 1.500 000 (Satu juta lima ratus ribu rupiah) per jemaah.

Sesampainya di maktab, jama’ah tidak ada yang tidur. Selain mereka sibuk menyetorkan uang untuk pembayaran dam, mayoritas mereka bercerita kesedihan saat pertama kali melihat Ka’bah. Tidak ada satupun jama’ah yang bertemu dengan Crhonos yang tidak menceritakan indahnya tangisan saat melihat Masjid pertama yang dibangun Ibrahim bersama dengan Isma’il. Crhonos bingung. Ia malah mendeskripsi perjalanan pertemuan pertamanya dengan Ka’bah dalam ruang-ruang filosofi yang tidak cengeng.  Ia ingat betul saat satu putaran dengan putaran lain ketika melakukan thawaf.  Ia malah menunjukk Ka’bah dalam kalimat berikut ini:

“Wahai Ka’bah … Tidak ada yang mengalahkan kemuliaan dan keagunganmu. Itu kuakui! Di sinilah Adam melingkarimu, ketika ia bertaubat atas kesalahannya kepada Tuhan. Ia dikawal setidaknya oleh 700 ribu Malaikat, saat thawafnya dilangsungkan. Tujuannya, agar Adam tetap konsisten menjaga ketunggalan Tuhan. Aku tidak ingin menyandingkanmu dengan Tuhanku. Kau bukanlah Tuhanku. Meski aku tidak tahu dikawal atau tidak oleh Malaikat, tetapi aku berharap, Dia dapat menjaganya. Kemuliaan dan keagunganmu, akan tetap terpelihara jika aku dan seluruh jama’ah yang datang menjumpaimu, tetap menjagamu sebagai makhluk. Jadi maaf, aku tak menyembahmu wahai Ka’bah.

Ketika ia ingat akan kata-katanya yang disampaikan saat thawaf pertama itu, ia melihat dengan nyinyir apa yang dilakukan jama’ah lain. Ia menyesalkan mengapa jama’ah justru meletakkan Ka’bah sebagai ritus. Ia takut malah Ka’bah menjadi petanding Tuhan. Ya Allah jagalah kami dari segenap prasangka buruk bathinku kepada-Mu. Lirih Crhonos membathin.

Minta Kembali Thawaf

Pergantian jam di hari itu, tidak membuat Crhonos puas atas situasi spiritual yang dihadapinya. Terlebih hampir semua, ya hampir semua jama’ah menyatakan keindahan dalam menangisi keadaan spiritual mereka. Tetapi, Crhonos tetap ajeg dalam pendiriannya. Ia kadang melakukan diskusi dengan jama’ah bagaimana situasi spiritual mereka. Dan mengapa mereka demikian mistis dalam anggapan Crhonos atas sikap bathinnya ketika melihat Ka’bah.

Berbagai gambaran dan penjelasan yang disampaikan jama’ah yang ditemui Crhonos, telah menyebabkan dirinya untuk kembali datang ke Ka’bah. Ia meminta Vetra untuk menemaninya berkunjung kembali ke Ka’bah. Ia tahu kalau datang ke Ka’bah bukan tahiyat al Masjid, tetapi lebih baik melaksanakan thawaf. Ia bingung akan nalar yang dibangunnya yang secara faktual sangat ekstrem berbeda dengan apa yang dialami jama’ah lain.

Iapun kembali mengunjungi Ka’bah di hari itu juga. Ia datang menjelang waktu maghrib. Thawaflah dia sebagai pengganti tahiyat al Masjid. Tetapi begitu ia sampai di Kab’ah dan memulai thawaf, pikirannya kembali filosofi. Ia mengatakan kalimat-kalimat yang tidak lazim diungkapkan jama’ah yang sedang melaksanakan ibadah haji. Ia mengatakan:

“Ya Allah yang rabbi yang ghafar … jagalah aku dari segenap kemusyrikan. Aku kagum atas kehebatan Ka’bah. Aku juga mengerti bagaimana Ka’bah ini dibuat. Adamlah yang meletakkan batu pertamanya. Inilah manusia berperadaban pertama di muka bumi. Batu ini disebut dengan hajar aswad. Aku memulai melaksanakan thawaf di tempat di mana Adam meletakkan batu putih sebagai simbol ketuhanan. Karena itu, aku mohon maaf, aku hanya akan membaca kalimat-kalimat yang disampaikan Adam, saat dia seperti aku hari ini, yang sedang mengelilingi Ka’bah. Aku sedang memohon maaf kepada-Mu atas segenap dosa kami.

Rabbana ya rabbana … dhalamna an fusana. Wa inlam taghfir lana, wa tarhamna lana kunanna, min al khsiriiin .. [Ya Allah yang Tuhanku … telah kami dhalim terhadap diri kami sendiri. Jika Engkau tak berkenan menerima tawbat kami, niscaya kami akan menjadi manusia yang rugi].

Di Thawaf yang ke dua ini, Crhonos kembali tidak menangis. Ia hanya menyaksikan istrinya, Vetra yang terus menerus menangis. Entah apa yang dia tangisi.

Shalat Maghrib di Ka’bah

Jutaan jama’ah telah memadati Ka’bah. Crhonos sendiri juga sama. Ia berada di Ka’bah. Saat itu, ia bersama istrinya sedang merencanakan untuk melaksanakan shalat maghrib pertama di Ka’bah. Dengan khusu’ ia mengambil air zam-zam untuk berwudlu. Ia berbicara dalam lughat Arab yawmiyah bersama dengan beberapa tamu Allah asal Iran dan Irak. Setelah itu ia bertemu dengan Menteri Kesehatan asal Brunai Darussalam. Ia shalat satu shaf dengan Menteri Kesehatan itu.

Mereka shalat dengan khusu’. Imam Masjid mengalunkan bacaan ayat-ayat suci al Qur’an yang menegaskan tentang pentingnya mentauhidkan Allah. Crhonos seolah memperoleh spirit untuk tetap menjaga marwahnya sebagai hamba Allah yang bertawhid. Sedikitpun ia tetap kering tidak mengucurkan air mata.

Setelah selesai shalat berjama’ah Maghrib, seluruh jama’ah terbagi dua. Ada yang bubar, ada yang tetap meneruskan thawaf. Kebetulan Crhonos dan istrinya Vetra sudah selesai melaksanakan thawaf. Ia akhirnya mengambil tempat duduk ke pelataran kedua Ka’bah. Ia bertjalan bersama Vetra dan Menteri kesehatan asal Brunai itu.

Kedua orang itu akhirnya membaca al Qur’an bersama. Setelah selesai membaca al Qur’an sambil menunggu waktu isya yang tinggal beberapa menit lagi, sang Menteri asal Brunai mengatakan: “Indonesia adalah negeri syurga. Tidak ada negeri seindah Indonesia. Tidak juga ada negara yang makmur semakmur Indonesia. Tidak memiliki alasan jika masyarakat Indonesia, terpaksa berdesak-desakkan mencari rezeki di negeri orang. Termasuk di negerinya dan di Mekkah ini.

Crhonos mengatakan, ya memang. Indonesia adalah the biggest imposible country. Bukan Indonesia jika tidak demikian. Terlalu banyak manusia yang mencampuri persoalan Indonesia. Inilah hasilnya. Tetapi juga anda harus ingat. Indonesia adalah negeri besar. Jika kita mengutif  Aristoteles, jika negara terlalu besar, maka, biaya pembangunan selalu habis dipakai menjaga negaranya. Sang menteri mangut-mangut. Dengan sedikit melucu, Crhonos mengatakan: Brunai Darussalam kan hanya seluas Kota di Indonesia. Diapun tersenyum simpul. Bagaimana mereka tidak mudah mengurusnya.

Itulah Crhonos. Ia tetap tidak bisa menangis. Ia malah hendak menangis, mengapa ia tidak bisa menangis. Tetapi, sekalipun judulnya menangis karena tidak bisa menangis, tetap saja tidak bisa menangis. Sampai ia kembali berkumpul di Maktab bersama ratusan jama’ah yang tetap mengatakan keindahan menangis. By. Charly Siera –bersambung.

Komentar
Memuat...