Mencium Hajar Aswad di Kampung Sendiri| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-3

Mabrur Tak Identik dengan Berangkat Haji | Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah
0 244

Mencium Hajar Aswad di Kampung Sendiri. Selesai ngajar, Shofi langsung pulang. Ia membawa Jurnal Panji Masyarakat edisi terbaru. Inilah Media Islam yang sangat disukainya. Ia duduk di kursi goyang balai rumahnya. Ia melihat istrinya Shofi naik dari Kolam Ikan mereka. Tampaknya ia habis menyimpan “sirib” untuk mengambil ikan-ikan kecil untuk makan sore keluarga mereka. Isah anak tetangga Shofi menyeduhkan kopi Hitam kesukaan Shofi. Inilah kopi produknya sendiri. Kopi ini dihasilkan dari ramuan yang ada dikebunnya. Seperti biasa, kopinya itu terasa sangat pahit. Ia terbiasa dengan rasa seperti itu, karena campuran gulanya sangat sedikit.

Sementara itu, Siti tidak langsung menemui Shofi. Ia lebih memilih membersihkan isi perut ikan dari ikan yang baru diambilnya di kolam. Ia juga membawa beberapa lembar daun pisang yang difungsikan untuk memepes ikan didalam “hawu” yang penuh dengan abu panas. Ikan mujair kecil-kecil itu, dicampur Siti dengan parut kelapa yang masih muda. Setelah selesai memasukan pepes ikan ke dalam tungku, baru ia menemui Shofi.

Dialog itu Ber-Nash

Shofi yang mengawali bicara saat Siti mendekatinya. Hai Siti, tadi pagi kamu mendengar nasihat atau cerita yang disampaikan Kyai Yusuf kan… Tolong itu jangan masuk ke dalam pikiranmu. Apalagi ke dalam hatimu. Pamanku itu, tidak banyak tahu hadits. Al Qur’an yang dia bawapun cenderung sangat tekstual. Menurut pikiranku tidak begitu. Aku yakin, kamu tadi memperoleh petunjuk dan dalam hatimu pasti memuji paman yang menjadi kyai di kampung kita. Mengapa setuju? Karena yang disampaikannya, lebih cenderung berpihak kepadamu.

Siti menjawab dengan lugas. Sebenarnya, awalnya iya. Dan rencana tadi pagi, sore ini aku akan menyampaikan apresiasi atas nasihat kyai Yusuf. Tetapi entah mengapa, saat saya melaksanakan shalat dhuhur, lalu aku membaca al Qur’an. Ko saya bertemu dengan ayat al Qur’an khususnya dalam surat al Baqarah [2]: 233 yang menyatakan bahwa:  “Dan kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istrinya dengan cara yang ma’ruf.” Lalu aku juga membaca beberapa buku yang tergeletak di kamar. Bertemulah saya dengan hadit dengan periwayatan dari  Muawiyah. Melalui buku itu, dikabarkan jika Muawiyah pernah bertanya kepada Rasulullah.

Pertanyaannya itu adalah: “Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap suaminya?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. “Berilah makan istrimu. Bila engkau makan, kasih makanlah mereka. Dan jila engkau membeli pakaian, berilah mereka pakaian. Jangan engkau pukul wajahnya. Jangan engkau jelekkan dan jangan engkau boikot kecuali di dalam rumah.” Menurut keterangan dimaksud, hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majjah. Lebih lanjut, buku itu mengisahkan tentang nasihat Rasulullah saat melaksanakan haji wada’. Isi nasihat itu adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah, berwasiatlah tentang kebaikan terhadap para wanita (para istri karena mereka hanyalah tawanan di sisi (di tangan) kalian, kalian tidak menguasai dari mereka sedikit pun kecuali hanya itu, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Bila mereka melakukan hal itu, boikotlah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Namun bila mereka menaati kalian, tidak ada jalan bagi kalian untuk menyakiti mereka. Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seorang yang kalian benci untuk menginjak permadani kalian dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci untuk masuk ke rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka.” HR. Tarmidizi dan Ibnu Majjah”

Aku merasa, kata Siti, selama ini kau telah memberiku segenap kebaikan. Kau tidak pernah membeli pakaian untuk dirimu sendiri, sebelum kau membelikannya untukku. Meski kau juga laki-laki, kau tidak makan sebelum secara bersama-sama, kita bisa memakan makanan yang tersaji di rumah kita. Kau juga tidak pernah lupa, membungkus makanan pada apa yang dimakan, jika itu terpaksa kau makan di luar. Karena itu, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak menuruti atas apa yang kau nasihatkan kepada kami. Percayalah .. aku telah mengubur hasyratku untuk berangkat haji.

Air Mata itu Kembali Berlinang

Saat Siti menyampaikan segenap ucapannya, tak terasa Shofi meneteskan air mata. Siti kaget saat menyaksikan suaminya malah menangis. Lelehan air matanya justru ke luar saat dirinya sudah mengalah untuk tidak terus menerus mendorong suaminya melaksanakan ibadah haji. Siti kemudian bertanya, ada apa? Apa ada yang salah dari apa yang aku sampaikan. Dengan terbata-bata, Shofi justru menyampaikan salah satu hadits Nabi yang menyebutkan:

“Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu, berkata: saya bertanya: “Wahai Rasulullah … masjid mana yang pertama kali dibangun?” Rasul menjawab: “Masjid al Haram”. Saya bertanya lagi: “Lalu setelah itu?” Beliau menjawab: “Masjidil Aqsa”. Saya tanyakan lagi: “Berapa lama antara keduanya ?” Beliaupun menjawab : “Empat puluh tahun. Di mana saja kalian mendapati waktu shalat, shalatlah ditempat itu. Mengapa? Karena selalu ada keutamaannya dalam menunaikan shalat di tempat itu (jika telah tiba waktunya). HR. Muslim.

Aku juga ingat bagaimana Rasulullah bersabda dari sanad hadits yang disampaikan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  berjalan melalui lembah “al-Arzaq”. Di tempat itu, beliau bertanya: “lembah apa ini?” Para sahabat menjawab:  lembah “al-Arzaq”. Beliau bersabda: “Seolah-olah aku melihat Musa alaihissalam turun dari tempat yang tinggi. Ia membunyikan suatu suara yang keras dengan mengucapkan talbiyah kepada Allah. Lalu beliau melalui tsaniyyatul harsya. Kemudian beliau bertanya: “Lembah apa ini?” Tsaniyyatu Harsya, jawab para sahabat. Kemudian beliau bersabda: “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta alaihissalam duduk di atas unta kekar. Ia, mengenakan jubah yang terbuat dari wol. Tali kendali untanya terbuat dari serabut. Ia mengucapkan kalimat talbiyah”.

Belum kalau aku mengingat salah satu hadits Nabi dari periwayatan Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak ada keutamaan bepergian (kesuatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi tiga masjid, (yaitu) masjidku ini (masjid Nabawwi di Madinah), Majidil Haram (Makkah), dan Masjidil Aqsha (Palestina).”

Siti kamu harus tahu, sejujurnya aku juga rindu Ka’bah. Selain kampung halaman kita yang bernama TURTLE ini, kita sesungguhnya memiliki tempat dua kembali, yakni Ka’bah dan akhirat. Inilah tempat di mana manusia pasti merindukannya. Aku ingin berangkat ke sana. Tetapi apa daya, mungkin belum waktunya.

Saat ini, kita hanya mungkin mencium hajar aswad melalui upaya kita secara terus menerus memberi makan kepada orang lain. Sebab dalam salah satu keterangan Rasulullah pernah bersabda: “barangsiapa di antara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya, maka, ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad. Kita upayakan saja, agar setiap hari kita dapat mencium hajar aswad.

Dialog Itu Terekam

Dialog antara Siti dan Shofi ini, ternyata direkam anak mereka yang ke 3. Anak ini, kebetulan tadi siang baru pulang liburan dari sekolahnya di Ciamis. Ia tidur-tiduran dan mendengarkan secara persis percakapan mereka. Ia berbisik dalam hatinya dan menuliskan dalam buku harian melalui pensil tebalnya. Kewajiban utamaku setelah aku dewasa kelak adalah menghajikan mereka. Alangkah bodoh dan sialnya aku, jika dalam hidup mereka tidak sempat mencium hajar aswad yang sesungguhnya. Bagian tertentu yang harus memberangkatkan mereka itu, adalah aku. Ya Aku …

Di X File ini, Kutulis sebuah kalimat Sakti: Demi Tuhan, mereka tidak akan mati sebelum berangkat ke tanah suci. By. Charly Siera –bersambung

Komentar
Memuat...