Take a fresh look at your lifestyle.

Mencium Hajar Aswad di Kampung Sendiri| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part-3

57 197

Mencium Hajar Aswad di Kampung Sendiri. Selesai ngajar, Shofi langsung pulang. Ia membawa Jurnal Panji Masyarakat edisi terbaru. Inilah Media Islam yang sangat disukainya. Ia duduk di kursi goyang balai rumahnya. Ia melihat istrinya Shofi naik dari Kolam Ikan mereka. Tampaknya ia habis menyimpan “sirib” untuk mengambil ikan-ikan kecil untuk makan sore keluarga mereka. Isah anak tetangga Shofi menyeduhkan kopi Hitam kesukaan Shofi. Inilah kopi produknya sendiri. Kopi ini dihasilkan dari ramuan yang ada dikebunnya. Seperti biasa, kopinya itu terasa sangat pahit. Ia terbiasa dengan rasa seperti itu, karena campuran gulanya sangat sedikit.

Sementara itu, Siti tidak langsung menemui Shofi. Ia lebih memilih membersihkan isi perut ikan dari ikan yang baru diambilnya di kolam. Ia juga membawa beberapa lembar daun pisang yang difungsikan untuk memepes ikan didalam “hawu” yang penuh dengan abu panas. Ikan mujair kecil-kecil itu, dicampur Siti dengan parut kelapa yang masih muda. Setelah selesai memasukan pepes ikan ke dalam tungku, baru ia menemui Shofi.

Dialog itu Ber-Nash

Shofi yang mengawali bicara saat Siti mendekatinya. Hai Siti, tadi pagi kamu mendengar nasihat atau cerita yang disampaikan Kyai Yusuf kan… Tolong itu jangan masuk ke dalam pikiranmu. Apalagi ke dalam hatimu. Pamanku itu, tidak banyak tahu hadits. Al Qur’an yang dia bawapun cenderung sangat tekstual. Menurut pikiranku tidak begitu. Aku yakin, kamu tadi memperoleh petunjuk dan dalam hatimu pasti memuji paman yang menjadi kyai di kampung kita. Mengapa setuju? Karena yang disampaikannya, lebih cenderung berpihak kepadamu.

Siti menjawab dengan lugas. Sebenarnya, awalnya iya. Dan rencana tadi pagi, sore ini aku akan menyampaikan apresiasi atas nasihat kyai Yusuf. Tetapi entah mengapa, saat saya melaksanakan shalat dhuhur, lalu aku membaca al Qur’an. Ko saya bertemu dengan ayat al Qur’an khususnya dalam surat al Baqarah [2]: 233 yang menyatakan bahwa:  “Dan kewajiban suami memberi makan dan pakaian kepada para istrinya dengan cara yang ma’ruf.” Lalu aku juga membaca beberapa buku yang tergeletak di kamar. Bertemulah saya dengan hadit dengan periwayatan dari  Muawiyah. Melalui buku itu, dikabarkan jika Muawiyah pernah bertanya kepada Rasulullah.

Pertanyaannya itu adalah: “Wahai Rasulullah, apa hak istri terhadap suaminya?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. “Berilah makan istrimu. Bila engkau makan, kasih makanlah mereka. Dan jila engkau membeli pakaian, berilah mereka pakaian. Jangan engkau pukul wajahnya. Jangan engkau jelekkan dan jangan engkau boikot kecuali di dalam rumah.” Menurut keterangan dimaksud, hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majjah. Lebih lanjut, buku itu mengisahkan tentang nasihat Rasulullah saat melaksanakan haji wada’. Isi nasihat itu adalah sebagai berikut:

“Ketahuilah, berwasiatlah tentang kebaikan terhadap para wanita (para istri karena mereka hanyalah tawanan di sisi (di tangan) kalian, kalian tidak menguasai dari mereka sedikit pun kecuali hanya itu, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Bila mereka melakukan hal itu, boikotlah mereka di tempat tidurnya dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Namun bila mereka menaati kalian, tidak ada jalan bagi kalian untuk menyakiti mereka. Ketahuilah, kalian memiliki hak terhadap istri-istri kalian dan mereka pun memiliki hak terhadap kalian. Hak kalian terhadap mereka adalah mereka tidak boleh membiarkan seorang yang kalian benci untuk menginjak permadani kalian dan mereka tidak boleh mengizinkan orang yang kalian benci untuk masuk ke rumah kalian. Sedangkan hak mereka terhadap kalian adalah kalian berbuat baik terhadap mereka dalam hal pakaian dan makanan mereka.” HR. Tarmidizi dan Ibnu Majjah”

Aku merasa, kata Siti, selama ini kau telah memberiku segenap kebaikan. Kau tidak pernah membeli pakaian untuk dirimu sendiri, sebelum kau membelikannya untukku. Meski kau juga laki-laki, kau tidak makan sebelum secara bersama-sama, kita bisa memakan makanan yang tersaji di rumah kita. Kau juga tidak pernah lupa, membungkus makanan pada apa yang dimakan, jika itu terpaksa kau makan di luar. Karena itu, aku tidak memiliki alasan apapun untuk tidak menuruti atas apa yang kau nasihatkan kepada kami. Percayalah .. aku telah mengubur hasyratku untuk berangkat haji.

Air Mata itu Kembali Berlinang

Saat Siti menyampaikan segenap ucapannya, tak terasa Shofi meneteskan air mata. Siti kaget saat menyaksikan suaminya malah menangis. Lelehan air matanya justru ke luar saat dirinya sudah mengalah untuk tidak terus menerus mendorong suaminya melaksanakan ibadah haji. Siti kemudian bertanya, ada apa? Apa ada yang salah dari apa yang aku sampaikan. Dengan terbata-bata, Shofi justru menyampaikan salah satu hadits Nabi yang menyebutkan:

“Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu, berkata: saya bertanya: “Wahai Rasulullah … masjid mana yang pertama kali dibangun?” Rasul menjawab: “Masjid al Haram”. Saya bertanya lagi: “Lalu setelah itu?” Beliau menjawab: “Masjidil Aqsa”. Saya tanyakan lagi: “Berapa lama antara keduanya ?” Beliaupun menjawab : “Empat puluh tahun. Di mana saja kalian mendapati waktu shalat, shalatlah ditempat itu. Mengapa? Karena selalu ada keutamaannya dalam menunaikan shalat di tempat itu (jika telah tiba waktunya). HR. Muslim.

Aku juga ingat bagaimana Rasulullah bersabda dari sanad hadits yang disampaikan Ibnu Abbas radhiyallahuanhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam  berjalan melalui lembah “al-Arzaq”. Di tempat itu, beliau bertanya: “lembah apa ini?” Para sahabat menjawab:  lembah “al-Arzaq”. Beliau bersabda: “Seolah-olah aku melihat Musa alaihissalam turun dari tempat yang tinggi. Ia membunyikan suatu suara yang keras dengan mengucapkan talbiyah kepada Allah. Lalu beliau melalui tsaniyyatul harsya. Kemudian beliau bertanya: “Lembah apa ini?” Tsaniyyatu Harsya, jawab para sahabat. Kemudian beliau bersabda: “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta alaihissalam duduk di atas unta kekar. Ia, mengenakan jubah yang terbuat dari wol. Tali kendali untanya terbuat dari serabut. Ia mengucapkan kalimat talbiyah”.

Belum kalau aku mengingat salah satu hadits Nabi dari periwayatan Abu Hurairah radhiyallahuanhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tidak ada keutamaan bepergian (kesuatu masjid) kecuali bepergian mengunjungi tiga masjid, (yaitu) masjidku ini (masjid Nabawwi di Madinah), Majidil Haram (Makkah), dan Masjidil Aqsha (Palestina).”

Siti kamu harus tahu, sejujurnya aku juga rindu Ka’bah. Selain kampung halaman kita yang bernama TURTLE ini, kita sesungguhnya memiliki tempat dua kembali, yakni Ka’bah dan akhirat. Inilah tempat di mana manusia pasti merindukannya. Aku ingin berangkat ke sana. Tetapi apa daya, mungkin belum waktunya.

Saat ini, kita hanya mungkin mencium hajar aswad melalui upaya kita secara terus menerus memberi makan kepada orang lain. Sebab dalam salah satu keterangan Rasulullah pernah bersabda: “barangsiapa di antara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya, maka, ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad. Kita upayakan saja, agar setiap hari kita dapat mencium hajar aswad.

Dialog Itu Terekam

Dialog antara Siti dan Shofi ini, ternyata direkam anak mereka yang ke 3. Anak ini, kebetulan tadi siang baru pulang liburan dari sekolahnya di Ciamis. Ia tidur-tiduran dan mendengarkan secara persis percakapan mereka. Ia berbisik dalam hatinya dan menuliskan dalam buku harian melalui pensil tebalnya. Kewajiban utamaku setelah aku dewasa kelak adalah menghajikan mereka. Alangkah bodoh dan sialnya aku, jika dalam hidup mereka tidak sempat mencium hajar aswad yang sesungguhnya. Bagian tertentu yang harus memberangkatkan mereka itu, adalah aku. Ya Aku …

Di X File ini, Kutulis sebuah kalimat Sakti: Demi Tuhan, mereka tidak akan mati sebelum berangkat ke tanah suci. By. Charly Siera –bersambung

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

  1. Mana rul berkata

    pada novel part 3 ini Akhirnya si siti istri dari shofi, ia sudah mengerti akan latar belakang kehidupan keluarganya dan ia juga sudah mengerti akan alasan suaminya yang brkali kali menahan rasa rindu akan menunaikan ibadah haji, dikarenakan ekonomi yang tidak seimbang dengan keinginan. Disamping itu mereka berdua sudah faham akan faedah menunaikan ibadah haji, barang siapa yang memberi makan satu suap kepada yang membutuhkan, faedahnya setara dengan mencium hajar aswad satu kali.. Subhanallah…

  2. Rif'atul Ula berkata

    Dari part ini dapat diambil beberapa nilai yang dapat diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari. Seperti adanya keterbukaan dan keikhlasan dalam mematuhi dan menaati perintah selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam seperti yang dilakukan siti terhadapa shofi. Nilai yang bisa diambil selanjutnya yaitu berhati-hati dalam bertindak Seperti yang dilakukan shofi, dia memang mengetahui keutamaan-keutamaan berhaji tetapi dia memang ingin melaksanakan nya dengan sempurna maka dia melakukan hal-hal kecil yang setara dengan mencium hajar aswad dengan memberi makan dan menolong kepada sesama. Serta perilaku kita, hal-hal yang dilakukan akan diperhatikan oleh keluarga kita. Oleh karena itu sebisa mungkin kita menunjukkan perilaku yang baik agar memotivasi lainnya melalukan perilaku dan peebuatan baik seperti kita atau bahkan lebih baik dari kita.

  3. Elok Firdausiana berkata

    Melakukan ibadah haji tidak selalu harus pergi langsung ke tanah suci jika belum mampu. Kerena dengan melakukan kebaikan di kampung sendiripun pahala yang kita dapat setara dengan melakukan ibadah haji langsung ke tanah suci. Nabi SAW bersabda ” barang siapa diantara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkan nya, maka ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad”

  4. Elok Firdausiana berkata

    Melakukan ibadah haji tidak selalu harus pergi langsung ke tanah suci jika kita nelum mampu. Karena dengan nelakukan kebaikan dikampung sendiripun kita bisa mendapatkan pahala yang setara dengan melakukan ibadah haji langsung ke tanah suci. Nabi SAW pernah bersabda “Barang siapa diantara kalian mberi sesuap nasi kepada meraka yang membutuhlannya, maka ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad” dalam part 3 ini membahas mengenai pentingnya umat muslim dalam melalukan kebaikan

  5. Siti Hamidah Tadris IPS A / 1 berkata

    SubhanAllah, betapa indah dan mulianya membantu sesama makhluk Allah SWT. Dari hadist diatas akhirnya saya bisa menambah ilmu pengetahuan yang ternyata, untuk bisa mencium hajar aswad kita tidak harus pergi ke tanah suci, karena InsyaAllah dengan memberikan sesuap nasi kepada yang membutuhkan sepadan dengan sekali mencium hajar aswad. Dari novel part 3 yang saya baca pun , kita bisa ambil kesimpulan bahwa insyaAllah pada setiap kebaikan yang kita lakukan dan tanpa pamrih. Allah SWT akan senantiasa melipat gandakan hal tersebut. Amin

  6. Rina Agustiana A/1 berkata

    Bismillah…
    luar biasa bagi orang yang sudah di berikan hidayah dari Allah buat menunaikan ibadah haji segingga ia bisa mencium ajar aswad, semuah umat islam menginginkan dirinya agar bisa mencium ajar aswad,merai pahala yang setimpal seperti mencium ajar aswad sungguh sangat mudah sekali dengan kita memberikan makan bagi orang yang sedang membutuhkan, sama hal nya ia mencium ajar aswad, sangat mudah untuk mendapatkan pahala syaratnya dengan kita selalu berusaha dan niat yang lurus.

  7. Sukinih berkata

    sesungguhnya sangat mulia sekali ternyata mencium hajar aswad tidak harus dilakukan dikaki ka’bah ,melainkan bisa juga di kampung sendiri, dengan memberi shodaqoh kepada anak yatim piyatu dan saling tolong menolong keseaama muslim seperti mencium hajar di aswad.

  8. Intan Sulistiani MPI-B/SMT III berkata

    Setelah saya membaca novel mencari tuhan dibawah kaki ka’bah part 3 ini, ternyata untuk melaksanakan kebaikan itu tidaklah harus keluar dari kemampuan pribadi seseorang, melainkan allah telah mengiaskan pahala suatu kebaikan dengan sangat luar biasa nya, seperti yang telah dijelaskan bahwasanya memberi sesuap nasi kepada orang yang membutuhkan saja pahalanya bisa sama seperti seseorang yg sedang mencium hajar aswad di tanah suci makkah al mukarromah, sekian terima kasih.

  9. Rina agustiana 1/A berkata

    Assalamualaikum..
    di part 3 ini saya akan mengeluarkan pendapat saya,semuah orang menginginkan dirinya agar bisa mencium ajaar aswar sunggu luar biasa bagi orang yang sudah mendapatkan rahmat dari Allah sehingga ia bisa mencium nya masih banyak cara untuk bisa mencium ajar aswad tanpa harus menunaikan ibadah haji,dengan kita mengasi makan pada orang yang membutuhkan ia sama aja mencium ajar sawad
    sungguh mudah mendapatkan pahala dari jalan mana pun asal kita berusaha dengan niat yang lurus.

  10. Hasanatun Nadia berkata

    Bismillah..
    selalu ada balasan kebaikan bagi orang orang yang berbuat baik, seperti yg tertera pada Al Quran surat az-Zalzalah ayat 7-8 bahwa “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”
    jadi banyak jalan ketika ingin menunaikan ibadah haji, tak harus pergi ke Mekkah jika belum mampu, tapi dengan memberi makan kepada masyarakat sekitar yg membutuhkan pun akan mendapat pahala setara mencium hajar aswad seperti yg tertera pada hadist diatas.

  11. De Zidni Tazqiah MPI 3 berkata

    Assalamualaikum, dalam novel part 3 ini menceritakan berbuat baik kepada sesama muslim seperti hadis nabi (barang siapa diantara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya maka ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad) maksudnya dengan memberikan bantuan orang yang kelaparan saja pahalanya setara dengan sekali mencium hajar aswad.

  12. Melli Nurvelina berkata

    Assalamu’alaikum.wr.wb
    Dipart 3 ini akhir nya istri shofi tidak lagi terus menerus mendorong suaminya melaksanakan ibadah haji. Obrolan shofi dan siti terekam oleh anak ketiga nya dan berniat untuk memberangkatkan mereka haji..

  13. Amalia Fitriyanti berkata

    Subhannallah…
    Dalam part 3 ini, saya menyimpulkan bahwasanya istri shofi sudah mendapatkan jalan nya untuk menunda menunaikan ibadah haji karena masalah materi yg blm cukup. Dan dia pun sangatlah bijak dalam mengambil keputusan. Dengan ilmu yang baru di dapatnya langsung menceritakan kepada shofi. Memang benar sedikit ilmu yang di dapat tetapi sangatlah bermanfaat bagi orang lain.

  14. Ega Sopana berkata

    Part 3 ini saya berpendapat istri shofi yang ingin sekali menunaikan haji, tetapi shofi menunda-nunda untuk keinginan istrinya itu untuk menunaikan haji tersebut. Shofi ingin istri nya mengerti, maka shofi pun membacakan hadits nabi kepada istrinya tersebut, yang isinya itu ialah “barangsiapa di antara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya, maka, ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad”. Dalam segi pendidikan yaitu “sampikanlah ilmu walaupun 1 ayat” karena dengan menyampaikan 1 ilmu maka akan bermanfaat sekali.

  15. Silmy Awwalunnis
    Silmy Awwalunnis berkata

    Semua anak pasti menginginkan melihat kedua orang tuanya dapat mencium hajar aswad yang sesungguhnya. namun alangkah menariknya jika semua masalah kedua orang tua tidak sampa pada telinga seorang anak. kebijakan siti untuk memihak kepada suaminya sidah bagus karena itu memang hal yang sesungguhnya di lakukan oleh seorang istri. percayalan suatu hari nanti Allah akan membalas kesabaran mereka.

  16. Ade Rossy Indra Pertiwi TIPS A/1 berkata

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    part-3 ini semakin menarik untuk kita baca. dimana ada percakapan shofi dengan sang istri siti dimana shofi sudah menyadari tempat kembali manusia yang pasti merindukannya itu ada dua yaitu ka’bah dan akhirat. sehinnga shofi mengurungkan niatnya karena saat ini mungkin belum waktunya. dan dimana dalam agama islam itu memudahkan bagi para umatnya bukan mempersulit umatnya. di mana jika kita ingin mencium hajar aswad kita bisa dengan memberi sesuap nasi saja kepada orang yang lebih membutuhkan maka ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad. terimakasih

  17. akhmad afifudin berkata

    Subhanallah
    Dalam novel part 3 ini saya menyimpulkan bahwasanya siti akhirnya sadar bahwa untuk mencium hajar aswad sajah tidak mesti pergi ke tanah suci. Hal ini di ingatkan oleh shofi dengan dalil “barangsiapa di antara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya, maka, ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad.”

  18. akhmad afifudin berkata

    Dari novel part 3 dalam percakapanya antara shofi and siti ternyata lambat wktu ternyata siti mulai mengerti dan memahami keinginan sang suaminya. Dan akhrnya siti mulai menunda keinginanya untuk pergi ketanah suci akan tetapi shofi juga tidak diam terhadap sang istri. Dia mulai mencoba untuk memberikan penjelasan tentang hadits nabi ” barangsiapa di antara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya, maka, ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad” barakallah

  19. Farrin Nurul Aina berkata

    Percakapan shofi dengan istrinya sungguh membuat sedih, sang istri yang sudah mulai menyadari dan mengerti keinginan shofi yg menunda hajinya, namun istrinya masih mempunyai keinginan untuk berhaji. Shofi menasehati istrinya dengan hadits nabi “barang siapa diantara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya maka ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad” yg artinya dengan memberikan bantuan orang yang kelaparan saja pahalanya setara dengan sekali mencium hajar aswad, maka shofi menyuruh istrinya untuk membantu orang yg kesusahan karena sesungguhnya Allah memberikan pahala kepada umatnya tak terkira dan tak terduga. Tergantung manusia nya saja ingin menjmput pahala tersebut atau tidak.
    Percakapan suami istri tersebut di ketahui oleh anak ke 3nya, sehingga anak tersebut bertekad akan menghajikan ke 2 orang tuanya sbelum mereka meninggal, bisa dilihat betapa sayangnya seorang anak kepada ke dua orang tua.

  20. Fifit Fitri Nur'aeni/Ips/1B berkata

    Assalamualaikum
    Sungguh mulia mencium hajar aswad di kampung sendiri halnya memberi makan orang yang kurang mampu, membantu fakir miskin yang kesusahan .
    Saya baru mengetahui ternyata mencium hajar aswad tidak harus di kaki ka’bah (mekkah) tetapi juga bisa kampung sendiri.
    Terimakasih

  21. maemunah fadillah berkata

    percakapan sepasang suami istri akan kerinduan untuk berkunjung ke kampung halaman kedua selain tempat tinggal mereka, tak sengaja terdengar oleh anak mereka. Setelah anak tersebut mendengar percakapan anatara ayah dan ibu nya tentang suatu tempat yg mereka rindukan sang anak pun berjanji jika suatu saat nanti ia dewasa ia akan memberangkatkan kedua orang tuanya pergi ke tanah suci.

  22. Aida Nur Aisyah berkata

    Assalamu’alaikum wr. wb
    Setelah membaca part 3 ini dapat kita ambil pelajaran bahwa agama Islam adalah agama yang tidak memberatkan umatnya untuk beribadah. Contohnya dalam part 3 ini, memberi makanan kepada sesama manusia yang benar-benar membutuhkannya adalah sama saja dengan kita mencium hajar aswad yang hanya dapat kita lakukan jika kita berkunjung ke Baitullah. Sedangkan mengenai tokoh Shofi sendiri dalam part 3 ini, ia menunjukkan watak sabarnya sebagai seorang kepala rumah tangga dalam menghadapi kemauan istrinya yaitu Siti yang ingin segera menunaikan ibadah haji.
    Sekian
    Wassalamu’alaikum wr. wb

  23. Isah Siti Khodijah berkata

    Bismilahirahmanirahin
    Asalamualaikum wr.wb
    Makin terkesan saja dengan novel mencari tuhan di kaki kabah part 3. Di part ini dapat saya analisis bahwa beruntung sekali Siti memiliki suami seperti Shofi yang memiliki pemikiran yang sangat kritis dan amat berjiwa sosial tinggi. Shofi pun mencerminkan idealnya seorang imam dlm keluarga yang rela tidak membeli sesuatu untuk dirinya sendiri asalkan keluarganya selalu terpenuhi.
    Jujur saya baru mengetahui bahwa ternyata dengan memberi makan kepada orang yang membutuhkan itu setara dengan mencium hajar aswad. Sunggug Allah Swt maha pengasih, Allah memudahkan setiap hamba nya. Walaupun kita tdk menunaikan ibadah haji, tetapi manusia bsa mencium nya lwt sodakoh yg diberikannya.
    Terimakasih
    Wasalamualaikum wr wb

    1. Fariz maulana ibrahim tadris ips a/1 berkata

      Assalamualaikum wr.wb
      Agama Islam mengajarkan kita dari hal yang kecil sampai hal yang sangat besar,dalam islam cara beribadah sangat luas,contohnya dengan cerita novel ini,melakukan kebaikan juga merupakan ibadah,dengan memberi makan kepada fakir(sesama manusia) sama dengan kita mencium hajar aswad,subhanallah,berbaiklah kepada org lain,jangan memikirkan diri kita sendiri,karena sesungguhnya kebaikan sekecil apapun akan mendapat balasan,begitupun sebaliknya,keburukan sekecil apapun akan mendapat balasan juga. Terima kasih
      Wassalamualaikum wr.wb

  24. Muhamad Udin berkata

    Assalamualaikum wr. wb
    sekarang saya tau bahwasanya dengan memberi nafkah keluarga yang halal dan memeberi makanan,pakian kepada yang membutuhkan seperti tetangga,menyantuni anak yatim piatu, bersodakoh, infak dan saling tolong menolong ke sesama itu sama kita kaya mencium hajara aswad.

  25. siti hayyun berkata

    dalam memecahkan sebuah permasalahan atau untuk mencari suatu kebenaran harus dilakukan dengan beberapa metode, pada bagian sebelumnya shofi telah menggunakan metode berfikir secara mendalam, tenang dan menghubungkan setiap masalahnya berulang-ulang sampai menemukan kemantapan dari keputusanya. kini shofi menggunakan pendekatan kepada istrinya dengan meyakinkan atau melakukan komunikasi yang baik agar istrinya mengerti atas kedilemaan yang shofi alami selama ini. dan inilah suatu kebenaran yang selama ini shofi cari. pengertian istrinya unutk tidak selalu memaksa shofi agar segera berangkat haji denganya. hal ini tidak lepas dari usaha shofi dalam memecahkan sebuah permasalahan yang selama ini ia rasakan dengan menggunakan pendekatan-pendekatan yang benar yang dapat mendatangkan keamanan dalam jiwa

  26. Asri Wulandari berkata

    Subhanallah, novel mencari tuhan di kaki ka’bah part 3 ini , Benar-benar menggugah semangat dan semakin menambha semangat untuk terus berbuat baik kepada sesama muslim, islam memang menghargai sekecil apapun bentuk kebaikan jika memang dilakukan dengan ikhlas.

  27. M. Didi Wahyudi berkata

    jika kita belum mampu melaksanakan ibadah haji yaa berarti seenggaknya kita melakukan perbuatan baik seperti contoh diatas dengan memberi makan fakir miskin setara dengan mencium hajar aswad, tapi kita juga harus berusaha dan ikhtiar supaya bisa menjalankan ibadah haji dan bisa mencium hajar aswad secara nyata.

  28. Diah ayu nuratillah berkata

    Assalamu’alaikum. Dalam penggalan novel diatas, saya banyak mendapat ilmu yang sebelumnya belum pernah saya ketahui sedikitpun. Bahwasannya islam memudahkan setiap manusia untuk beribadah, jika tidak bisa mencium hajar aswad masih ada ibadah lain yang setara dengan itu, yakni memberi makan kepada mereka yang membutuhkan. Namun tetap saja dalam setiap diri manusia terselip doa untuk bisa beribadah haji dan mencium hajar aswad secara langsung.
    Terimakasih pak, penggalan novel diatas cukup memberi pengetahuan yang luarbiasa bagi saya.

    1. lyceum
      lyceum berkata

      Ok … it’s a good point. Lanjutkan membaca dan terima kasih atas pikiran2 cerdasnya

  29. Lenny Erdiani Choerun Nissa berkata

    Assalamu’alaikum
    Selain memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, setara dengan mencium hajar aswad. Maka, jika seorang istri berjabat tangan dengan suaminya, menurut riwayat hadits yang shohih. “Dosa-dosa seorang istri akan berkurang atah jatuh lewat jari-jari yang habis dibuat jabat tangan oleh suaminya”. Apalagi jika seorang istri mencium tangan suaminya, pahala yang diberikan oleh Allah SWT sama dengan mencium hajar aswad.

  30. dhini apriliani 1/b ips berkata

    asalamualaikum, di part 3 ini saya mulai menemukan jawaban dan memahami bahwa dengan memberi makan orang yang tidak mampu, memberi nafkah dan bertanggung jawab kepada keluarga, menyantuni fakir miskin, sama dengan mencium hajar aswad.shofi berkata kepada siti untuk saat ini upaya mereka berdua adalah terus menerus memberi makan kepada orang lain. sebab dalam keterangan rasullullah pernah bersabda ” barang siapa di antara kalian memberi sesuap nasi kepada mereka yang membutuhkannya, maka ia setara dengan satu kali mencium hajar aswad”, banyak ilmu yang kita dapat setelah membaca novel per’part nya, pada part ini juga di beritahukan yang ada di dalam hadits jika istri harus taat kepada suami. siti akhirnya menyadari tentang semua yang kemarin iya paksakan kepada suaminya dan memahami apa yang di inginkan oleh shofi. terimakasih

    1. Cecep Sumarna
      Cecep Sumarna berkata

      siiip mantap

  31. Firman Maulana mpi smt 4 berkata

    Part 3
    Terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Cecep Sumarna yg selalu memberikan pengetahuan baru kepada mahasiswa Mpi smt 4. Sudah mungkin kata itu saja yg saya sampaikan untuk part 3 ini.

  32. tubagus rizqy yahya mpi/4 (1415209028) berkata

    Di part3 ini kita kembali lagi ke kata2 seperti ini “sungguh islam adalah agama yang mudah, memberikan kemudahan, menghilangkan beban dan menghilangkan segala yang berat bagi manusia”. Islam itu tidak membebani umatnya dalam beribadah, banyak amal2 yang pahalanya itu sama seperti saat kita beribadah kaya dipart3 ini. Sungguh indahnya agama islam hanya dengan memberikan makanan kepada orang yang membutuhkan itu pahalanya sama saja dengan kita mencium hajar aswad

  33. Muhammad Yasir Arafah MPI/4 (1415109012) berkata

    Bismillahirrahmanirrahim, dalam part 3 pembicaraan sudah merujuk pada salah satu kegiatan dari ibadah haji. Dalam judulpun sudah ditulis sangat menarik dimana mencium Hajar Aswad dikampung sendiri, ini sangat menarik. Bagaimana perumpamaan ini bisa muncul dan berlandaskan hadits, bahwa ketika kita memberikan makan orang yang kurang mampu sama saja dengan kita mencium Hajar Aswad. Pertanyaannya bagaimanakah ini bisa menjadi perumpamaan seperti ini?? Kembali dalam hadits yang diriwayatkan oleh Rasulullah dalam part 3 ini.
    Dan bagaimana ketabahan shofi dalam memahami keadaan yang belum mengizinkan dia untuk berangkat ke tanah suci, walaupun sesungguhnya dia sangat menginginkan hal tersebut untuk segera terwujud.

  34. Koko Santoso (MPI/4) berkata

    Part 3
    Mencium Hajar Aswad Di Kampung Sendiri
    Pada part ini diceritakan bahwa Shofi telah kembali pada rutinitas seperti biasanya. Ketika ia berbincang dengan Siti terkait nasihat pamannya, air mata Siti sketika mengalir tatkala tersadar akan segenap kebaikan yg tlah diberikan oleh Shofi. Siti pun akhirnya mengubur niatnya untuk berhaji karena dengan memberikan sesuap nasi kepada orang yg dirasa pantas menerimanya, ganjarannya sama seperti mencium batu hajar aswad.

  35. Ega Sugandi (1415109003) MPI/4 berkata

    Bagian Part 3 ini sangat menarik sekali, sebagaimana perbincangan antara shofi dan istri yang berdialog dengan Nash, pemandangan tersebut menggambarkan kualitas dan kecakapan individu yang tergolong kedalam kaum yang terdidik dan terpelajar, bagaimana tidak ketika siti mengutarakan argumentasinya kepada shofi, ia menggunakan hadist dan dalil pun demikian dengan shofi ketika membalas argument dari siti ia pun menggunakan hadit dan dalil. Bisa terlhat dengan jelas bahwa mereka mempunyai landasan agama yang kuat dan mempuni.

  36. Siti Nurbaeti (1415109022)-MPI/4 berkata

    Terima kasih penulis, engkau sudah memberikan saya ilmu pengetahuan yang baru. Sungguh luar biasa tulisan novel ini, anda membuat saya melek tentang jika mencium hajar aswad tidak harus dilakukan di Baitullah namun dengan memberi sesuap nasi pada keluarga dan tetangga pahalanya bak mencium hajar aswad di Ka’bah rumah Allah

  37. ABDURRAHMAN HASYIM ( MPI-4 ) berkata

    subhanallah sesuai dengan judul di atas bahwa sanya dengan memberikan sesuap nasi kepada orang yg membutuhkan itu setara dengan mencium hajar aswad satu kali. ini sangat menginspirasikan saya bahwa sanya hidup di bermasyarakat kita harus bersosialis dan memiliki kepekaan sosial.

  38. Siti Sutihatin-MPI/4 berkata

    Setelah membaca part 3 ini saya mengetahui bahwa memberi makanan kepada mereka yang membutuhkan setara dengan satu kali mencium hajar aswad. Sungguh Allah memudahkan umat-Nya untuk beribadah kepada-Nya.

  39. Sri hardianti-MPI/4 (1415109024) berkata

    sama seperti anak ketiga dari siti dan shofi, saya pun sangat berharap dengan segenap usaha yang saya bisa untuk menghajikan kedua orang tua saya. Sebab tempat kita kembali ialah baituloh dan juga alam akhirat kelak.
    Siti merasa bahwa segala kebutuhannya sudah diberikan oleh suaminya, shofi. Sekarang ia ikhlas untuk mengubur cita citanya pergi ke baitulloh.

  40. Indah kusumawati (mpi-4) berkata

    Subhanallah di part 3 ini saya terharu sekali. Keluarga pak shofi begitu harmonis yang pada awalnya bu siti tetap memaksa pak shofi untuk berangkat haji, tapi setelah bu siti membaca al-qur’an dan hadist-hadist akhirnya hati beliau tebuka dan mengurungkan niatnya untuk berangkat haji. Rumah tangga mereka begitu mengesan dg didasari ilmu pengetahuan tentang agama sehingga bisa mengemukakan pendapat masing-masing tanpa mendahulukan ego keduanya. Dari novel ini saya baru tahu jika memberi makan orang lain itu setara dg mencium hajar aswad. anaknya pun mendengar perbincangan orang tuanya dan bercita-cita untuk memberangkatkan kedua orangtuanya haji agar dapat mencium hajar aswad sebenarnya. Subhanallah islam itu indah dan mudah jika kita faham betul ilmunya, allah tidak memberi beban kepada hambanya melainkan sesuai dengan kemampuan yg dimiliki. Dalam Q.S al-insyiroh:6 ” sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Allah pasti akan memberi solusi di setiap permasalahan apabila kita berusaha untuk menyelesaikan msalah tersebut.

  41. Asyifa Nuraeni Kartika Ali berkata

    dalam part 3 ini banyak pelajaran yang saya ambil, ternyata ibadah haji / mencari tuhan tidak harus terburu-buru. Dalam hadits-hadits pun dijelaskan bahasannya pahala berhaji itu sama dengan memberi makas/sedekah kepada yang membutuhkan, alangkah indahnya agama islam dengan mempermudah segala hal. Apabila kita berniat untuk berhaji alangkah baiknya kita lihatterlebih dahulu tetangga terdekat kita apakah mereka tidak ada fakir miskin. Sungguh jika memang sudah waktunya untuk berhaji, maka Allah akan mempermudah.

  42. Rahmat Maulana (MPI-4) berkata

    Alhamdulillah dapat dipahami bahwasannya memberikan kebaikan pada orang yang lebih membutuhkan sama halnya dengan mencium hajar aswad, jadi bagi kita yang ingin mendapatkan pahala setara dengan mencium hajar aswad maka perhatikanlah orang-orang yang berada disekitarmu dan kita bisa melakukan hal tersebut dikampung kita sendiri.
    Mudah-mudahan kita semua termasuk orang-orang yang beruntung

  43. Nur Aliffah MpI/4 berkata

    Dalam part ini kita dapat mengetahuinya bahwasanya kita mencium hajar aswad bukan hanya pada saat menunaikan ibadah haji saja, tetapi menolong seseorang yang sedang terkena musibah merupakan sama halnya dengan kita mencium hajar aswad. oleh karena itu, menurut saya kita boleh saja menggebu-ngebu untuk menunaikan ibadah haji, tetapi kita juga mempunyai kewajiban untuk menolong orang lain dalam menghadapi musibah. seperti halnya yang diceritakan dalam part ini.

  44. siti Halimah MPI/4 berkata

    Bismillahirahmanirrahiim. . .
    Dalam part 3 ini sungguh sangat membuat saya terharu, dimana kita harus menyesuaikan kebutuhan dengan kewajiban, dimana kewajiban ini benar-benar ingin kita laksanakan meskipun sebenarnya kewajiban ini bisa dilaksanakan untuk orang yang mampu. Untuk membangun keluarga yang harmonis kita juga harus memahami satu sama lain sehingga apa yang kita harapkan dan kita cita-citakan dapat terwujud dengan pengorbanan dan usaha secara bersama-sama.

  45. Asiro MPI/4 (1415109002) berkata

    Bissmillahirrahmaanirrahiim..
    pada part 3 ini, saya dapat mengambil hikmah bahwa islam memang rohmatan lil ‘alamiin, islam memudahkan umatnya dalam mengaplikasikan ibadah apapun. salah satunya ialah seperti yang diceritakan pada novel ini mengenai “mencium hajar aswad dikampung sendiri”. jika kita belum diberikan kesempatan untuk datang langsung ke rumah allah (ka’bah) maka ada banyak cara yang dapat digantikan dengan mengerjakan yang lain dan ditempat yang lain.

  46. Fera Agustina (1415109004)/ MPI/ 4 berkata

    Bismillah..
    masyaallah, subhanaallah, Allahuakbar. sungguh luar biasa sangat amat luar biasa mencium hajar aswad di kampung halaman sendiri, kebaikan itu tidak jauh dari kehidupan kita, hanya saja bagaimana kiita mau berkorban untuk memuliakan orang lain. subhanaallah mulia sekali dengan memberikan makan, kebutuhan sesama musllim agar mereka senantiasa terus menjalankan ibadah kepada Allah Swt. sangat menispirasi sekali novel di atas,

  47. dinny alfiana s. MPI/4 (14151109035) berkata

    Dari part tiga ini, dapat saya simpulkan bahwasanya Allah selalu memiliki cara atau jalan lain bagi setiap keinginan hambanya yang menurutnya tak mampu terlaksana. Mungkin ini juga yang dimaksud “saat pintu satu tertutup, masih banyak pintu lain yang terbuka”. Seperti halnya shofi yang ingin mencium hajar aswad namun belum juga Allah kabulkan keinginannya itu, namun dalam hadits dikatakan bahwa memberi makan pada mereka yang membutuhkan, sama halnya ia satu kali mencium hajar aswad. Dari hadits ini jelas Allah memberikan jalan lain bagi hambanya dengan sesuatu yang pahalanya sama dengan mencium hajar aswad. Subhanallah, wallahua’lam.

  48. dinny alfiana s. berkata

    Dari part tiga ini, dapat saya simpulkan bahwasanya Allah selalu memiliki cara atau jalan lain bagi setiap keinginan hambanya yang menurutnya tak mampu terlaksana. Mungkin ini juga yang dimaksud “saat pintu satu tertutup, masih banyak pintu lain yang terbuka”. Seperti halnya shofi yang ingin mencium hajar aswad namun belum juga Allah kabulkan keinginannya itu, namun dalam hadits dikatakan bahwa memberi makan pada mereka yang membutuhkan, sama halnya ia satu kali mencium hajar aswad. Dari hadits ini jelas Allah memberikan jalan lain bagi hambanya dengan sesuatu yang pahalanya sama dengan mencium hajar aswad. Subhanallah, wallahua’lam.

  49. Winda Dwi Nurrachmawati (1415109032) MPI-4 berkata

    Sungguh luar biasa dalam part-3 ini Mencium Hajar Aswad di Kampung Sendiri. Dapat diambil pelajaran dalam hidup untuk selalu diaplikasikan setiap hari. Bahwa keinginan untuk pergi haji memang harus ada namun, jika kita belum mampu untuk melaksanakan atau merealisasikannya. Lebih baik kita menjalakan kebaikan dulu terhadap sesama karena dengan menjalankan kebaikan terhadap sesama kita sama halnya mencium Hajar Aswad walaupun tidak secara nyata.

  50. Nailiyatul Farhah MPI/4 (1415109013) berkata

    SubhanAllah, betapa indah dan mulianya membantu sesama muslim, memberi makan sesama msulim untuk tetap bersemangat dalam menjalankan ibadah kepada Allah. Ternyata, untuk bisa mencium hajar aswad kita tidak harus pergi ke tanah suci (masjidil haram), karena jika disekeliling kita masih banyak yang membutuhkan bantuan kita dan kita bisa memberikan bantuan kepada sesama muslim, maka niscaya kebaikan dan keridhoan allah selalu berpihak pada diri kita. Jika anak kecil saja mengerti tentang ke inginan orang tuanya yang ingin berangkat haji dan bisa mencium hajar aswad, maka kehendak Allah pun sangat bisa mewujudkannya. Oleh karena itu kita sebagai hamba Allah lagi lagi jangan angkuh dan sombong untuk selalu merendahkan diri dan mengucapkan Alhamdulillah dalam setiap waktu.

  51. uyunurrohmah MPI4 (1415109031) berkata

    alhamdulilah dengan membaca part 3 ini saya jadi tau bahwasannya memberi sesuap nasi kepada orang yg membutuhkan itu setara dengan mencium hajar aswad satu kali. marilah sebelum kita kesana mencium hajar aswad sesungguhnya kita mengamalkan hadist ini karna kalaupun kita tidak diberi kesempatan untuk mencium hajar aswad sesungguhnya kita sudah mendapat pahala mencium hajar aswad dengan memberi sesuap nasi kepada orang yang membutuhkan

  52. Sri Rahayu MPI/4 (1415109025) berkata

    Diawali dengan bismillah……. pada part 3 ini saya mulai menemukan jawaban bahwa berhaji dengan mencium hajar aswad tidak harus datang ke ka’bah, dengan keterangan dalil-dalil diatas ini menjelaskan bahwasanya memberikan nafkah kepada keluarga, membantu sesama, menyentuni fakir miskin, menyantuni kaum du’afa mengasihi, menyayangi dan mencium anak-anak yatim piatu bisa saja mewakili untuk mencium hajar aswad yang berada di dalam ka’bah. bahkan saya pernah mendengar ada sebuah hadits yang artinya sebagai berikut. ” Dari Abu Khurairah ra. sesungguhnya Abu Khurairoh berkata, Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya hari jum’at adalah rajanya hari, hajinya orang fakir dan hari rayanya orang miskin.” ini menjelaskan bahwasanya bagi yang tidak mampu dalam finansial maka jangan sampai kita meninggalkan ibadah sholat jum’at.

    1. lyceum
      lyceum berkata

      terima kasih untuk mba uyunurrahmah dan sri rahayu … teruslah banyak membaca ya

      1. Lenny Erdiani Choerun Nissa berkata

        Assalamu’alaikum
        Selain memberi makan kepada mereka yang membutuhkan, setara dengan mencium hajar aswad. Maka jika seorang istri berjabat tangan dengan suaminya, menurut suatu riwayat yang hadits yang shohih “Dosa-dosa seorang istri akan berkurang atau jatuh lewat jari-jari yang habis di buat jabat tangan oleh suaminya”. Apalagi jika seorang istri mencium tangan suaminya, pahala yang diberikan oleh Allah SWT sama dengan mencium hajar aswad.