Inspirasi Tanpa Batas

Mendaki Ke Puncak Asmara | Candu Asmara Remaja Part – 3

Mendaki ke Puncak Asmara dalam Candu Asmara Remaja Part-3
0 1.266

Mendaki ke Puncak Asmara. Sejak hari itu, aku kata Kayla, merasa tidak memiliki beban apapun dalam hidup. Aku seperti berada dalam samudera kebahagiaan fantasi yang tak berujung. Aku selalu merasa sedang berada dalam ruang hampa tanpa sedikitpun rasa takut. Suatu keberanian moral keremajaanku yang tidak takut, bukan saja pada Tuhan, tetapi bahkan terhadap manusia. Sorry kata Kayla, jangan tanya soal Tuhan. Aku tidak lagi memperdulikan kemungkinan Tuhan menyaksikan seluruh aktivitas kami berdua. Goresan tangan Kayla begitu natural mengungkapkan perasaan bathinnya yang mendalam.

Sejujurnya, sejak saat itu, aku malah hanya selalu menunggu bergantinya hari. Malam-malam yang dilalui, hanya berisi bayangan keindahan untuk pagi hari. Malam itu datang dan terus pergi silih berganti. Bagiku, pergantian itu hanya dinanti dengan cepat supaya aku dapat kembali menemukan kebahagianku yang sesungguhnya. Aku selalu berhasyrat dan selalu bercita-cita untuk kembali merajutkan cinta tulus dan asmara kami yang penuh ghairah dengan kekasihku, Fredy.

Fredy adalah sosok laki-laki yang telah menghabiskan seluruh rongga pikiranku akan apapun. Kayla menulis dalam X File-nya tentang Fredy sebagai sosok penuh Infatuation yang dalam anggapannya lahir karena Sex penuh Cinta. Fredy begitu pandai membawa diriku terus mendaki ke puncak asmara yang penuh ghairah. Asmara itu anugerah. Dan anugerah itu telah kami miliki secara sempurna. Jalan hidup terasa demikian sempurna, jika anugerah itu ada bersama kami.

Candu Asmara Kayla

Malam-malam yang dilalui Kayla selalu diisi dengan sejumlah impian akan pertemuannya di hari berikutnya bersama Fredy. Ia menjadi malas membaca dan menulis. Sekedar untuk mengerjakan PR yang dibebankan guruku di sekolah, tidak lagi aku kerjakan. Aku hanya senang memegang HP menunggu sms atau telephon dari Fredy.

Aku, kata Kayla dalam buku hariannya itu menyebut bahwa, selalu merasa bahagia setiap waktu, terlebih di pagi hari karena beberapa jam lagi kami akan kembali berjumpa. Aku begitu setia menunggu kiriman sms dari Fredy saat jam belajar akan berakhir dan selalu merasa bahwa Fredy akan mengajaknya bermain dan mendaki ke puncak-puncak asmara.

Baca juga: JugaAi??Darah Keperawanan dalam Candu Asmara Remaja Part-2

Desiran seks penuh asmara yang disembulkan dari imaginasi asmaraku bersama Fredy masih terus terasa. Termasuk saat aku harus mendengarkan guru yang menyampaikan pelajarannya di sekolah. Aku selalu membayangkan bagaimana dirinya dengan kekasihnya itu memadu asmara. Asmara dan desahan puncak-puncak kebahagiaan yang menghabiskan seluruh energiku. Kayla mengatakan: “Jujur aku merasa bahwa inilah puncak-puncak kebahagiaan dalam hidupku. Sedikitpun aku tidak ingin melewatkan peristiwa yang penuh gairah ini walau hanya sehari”

Sejak hari itu, aku hanya selalu membayangkan bagaimana Fredy mengecup dan menjilati seluruh tubuhku secara lembut. Ia selalu berkata pelan dan memanjakan diriku dengan sejumlah kata-kata penuh cinta. Kondisi ini didukung oleh suasana rumah orang tua Fredy yang dilapisi pagar besi cukup tinggi. Kami sedikitpun tidak merrasa ketakutan untuk diketahui orang lain. Suasana rumah orang tua Fredy yang selalu sepi, tetap membuat aku bergairah, untuk memadu kasih dan berbagi rasa bersama.

Tanpa henti, sejak saat itu, hampir setiap hari dan setiap kesempatan ketika kami bertemu, hubungan asmara itu terus kami lakukan. Erangan-erangan indah yang ke luar dari mulut Fredy, selalu membayangiku kemanapun aku pergi. Aku sekali lagi, tidak peduli akan apapun dan resiko apapun yang harus ditebusnya. Tak ada kata, kecuali kami merasa bahagia.

Kayla Kurang Perhatian

Saat kalimat-kalimat yang tertuang dalam buku harian Kayla itu dibaca Shofia, ia hampir tidak percaya. Dia hanya berkata” Aku yang salah. Aku kurang perhatian terhadap gejala yang menimpa anakku. Mengapa aku bersama Indra sedikitpun tidak pernah merasa curiga akan apa yang dilakukan Kayla. Mengapa Kayla tetap leluasa datang dan pergi mengunjungi Fredy yang hidup dalam kesendirian di rumah besar tanpa penghuni. Ya Allah maafkan kami. Jerit bathin Shofia tak mampu berkata apa-apa. Lalu Shofia kembali melanjutkan catatan dalam buku harian itu.

Kayla menulis dengan kalimat: Aku tahu Fredy tidak lulus masuk UMPTN saat dia selesai dari SMA. Ia, tidak masuk kuliah ke PTS. Ia menunggu tahun berikutnya barangkali dapat masuk ke PTN yang dia cita-citakan.Ai?? Dalam kesendirian dan kesenyapan dengan cita-cita tinggi itulah, Fredy sendiri akhirnya luruh dalam kubangan cinta penuh asmara bersamaku.

Jujur aku tidak tahu kata Kayla, kalau perjalanan asmara semacam ini dapat membuahkan sesuatu yang menyulitkan kami. Awalnya aku tidak sadar jika pada bulan pertama setelah hubungan suami istri yang tidak syah itu, telah menyebabkan aku kehilangan kesempatan untuk mensturasi. Namun ketika memasuki usia kandungan 2 bulan itu, mukaku tiba-tiba terlihat pucat dan sering muntah-muntah. Yang menyulitkan aku sejujurnya, saat aku harus muntah di sekolah.

Beberapa kali aku dipanggil guru BP. Aku tak mampu mengelak, meski aku tidak mengakui kalau kemungkinannya aku hami. Inilah alasan mengapa pada akhirnya aku tidak masuk ke sekolah. Aku sendiri sejujurnya merasa malu akan suasana seperti itu. Tetapi aku tidak punya alasan kepada orang tuaku untuk tidak berangkat sekolah. Karena itu, meski aku tidak masuk sekolah, pada akhirnya, aku harus berpura-pura seolah berangkat sekolah.

Sejak usia kandunganku dua bulan itu, aku tidak datang ke tempat belajar. Aku malah datang ke rumah Fredy. Inilah kegiatanku sehari-hari. Aku terus menerus datang setiap hari. Setiap hari pula kami melakukan hubungan suami istri, tanpa henti. Kami tidak merasa berslah dan membiarkan larut dalam asmara penuh cinta.

Kayla Kami yang Salah

Waktu kuhabiskan di rumah Fredy dari pagi sampai sore. Pernah suatu hari, aku kelihatan sama pamanku, ketika aku naik mobil bersama Fredy. Hanya saja, pamanku hanya melihatku dengan penuh kaca yang entahlah maknanya apa. Aku tak peduli apapun yang dipikirkan sang paman itu. Kami tidur di rumah Fredy setiap hari sampai waktu ashar mau tiba.

Itulah yang menyebabkan aku sering pulang ke rumah, setelah waktu menunjukkan pukul 4 sore. Aku selalu bilang ada kegiatan lest tambahan atau ikut kegiatan intra kurikuler di sekolah. Orang tuaku sendiri yang suka sibuk mengurusi lalu lintas perusahaan, seolah tidak memiliki ruang untuk melakukan konfirmasi atas situasi seperti itu. Mereka percaya dan sedikitpun tidak menduga kalau aku tidak berangkat sekolah. Apalagi ternyata aku hanya memadu asmara.

Namun demikian, setelah perjalanan yang demikian panjang itu berlalu, aku akhirnya tak mampu menahan diri untuk tidak muntah-muntah di rumah kami. Aku demam tinggi dan menggigil. Inilah moment di mana orangtuaku [Indra dan Shofia] membeli testpack dan bahkan mengundang bidan keluarga ke rumah kami.

Testpack dan analisa bidan itulah, yang membuat orang tua kami marah besar. Ketakutaku akan kemarahan kedua orang tuaku, terlebih kakekku yang kharismatis itu, menyebabkan aku terpaksa harus pergi meninggalkan rumah. Pergi secara sembunyi-sembunyi di suatu pagi yang masih sangat sunyi. Aku akan membiarkan seluruh perjalanan hidupku bersama dengan kekasihku, Fredy.

Dengan perasaan yang sangat gontai dan lemah, Shofia akhirnya menutup buku harian Kayla. Ia mengatakan kepada dirinya sendiri, mungkin inilah buah dari caraku yang salah, atau caraku yang tidak mengerti bagaimana mengurus anak. Shofia menangis di atas kasur Kayla. Sementara Kayla hanya bersandar di kasur dan memandang dinding kamar dengan cara yang polos dan kosong. By. Charly Siera. Bersambung

Komentar
Memuat...