Inspirasi Tanpa Batas

Mendaki ke Puncak Spiritual | Cara Ke luar dari Krisis Diri – Part 4

5 7

Konten Sponsor

Mendaki ke Puncak Spiritual. Banyak orang berpikir bahwa kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai suatu cobaan. Padahal, kekurangan dalam aspek-aspek dimaksud, bukan termasuk ke dalam apa yang patut disebut ujian. Mengapa? Karena uang atau aspek material lain, sesungguhnya masih dapat dicari. Jadi pada sesuatu yang masih dapat dicari, itu bukan ujian Tuhan.

Lalu, ujian yang sesungguhnya seperti apa? Ujian Tuhan harus difahami justru saat di mana Tuhan memberi segenap ketercukupan material dalam hidup. Misalnya, jika anda menjadi seorang yang bercita-cita menjadi pemimpin, pada kelas apapun, lalu harapan itu tercapai. Di situ ujian datang. Ujian justru tidak hadir saat seseorang kalah atau dikalahkan untuk memimpin.

Dalam soal uang atau aspek material lain juga sama. Ujian tidak melekat pada saat kita tidak memilikinya. Tetapi, ujian justru datang saat di Tuhan memberi segalanya kepada kita. Mereka yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan lain, ia tidak akan pernah diuji Tuhan, sebagaimana Dia mengujinya saat seseorang memiliki sejumlah kemudahan atasnya.

Apa yang paling menyiksa dalam diri manusia? Apakah uang atau sejumlah aspek material atau kekuasaan yang dia cita-citakan? Ternyata bukan! Paling tidak, inilah apa yang pernah saya alami dalam segenap perjalanan yang telah dilalui dalam juntaian waktu yang cukup panjang.

Ujian Tuhan yang sesungguhnya adalah, gangguan psikologis kita sebagai manusia, saat berbagai harapan indah hadir bersama. Jika kita tidak tepat dan salah sasaran mengimplementasikan apa yang kita miliki atau kita peroleh, maka, kita akan terjatuh ke dalam lubang yang jauh lebih dalam.

Landai dan Tenang itulah Solusinya

Pernah suatu hari, kami terjatuh dengan menyisakan gajih hanya 175 rupiah per bulan.  Kami jatuh kembali karena ikut investasi dalam suatu proyek bodong bantuan Australia untuk beberapa madrasah di Kabupaten Kuningan. Modal yang kami ambil dari cara menggadaikan SK PNS di Bank pemerintah.

Seperti pernah saya tulis di edisi sebelumnya, bahwa kami jatuh karena investasi kaca mata. Kami membangun usaha mebeuler dan usaha-usaha lain. Setelah krisis pertama selesai dan kami bangkit, kami kembali berada dalam keberlimpahan kekayaan yang cukup lumayan. Tetapi, mungkin karena terlalu bernafsu melakukan investasi jangka pendek jug, kami kembali terpuruk. Ratusan juta sebagai hasil jerih payah itu, lumat habis. Yang menghabiskannyapun kawan sendiri yang sama-sama ketipu.

Apakah saya sedih? Pasti …! Sekedar untuk membeli bawang merah saja sulit apalagi beli susu untuk anak-anak kami yang masih kecil. Saya sering berjalan kaki dari rumah menuju tempat kerja. Mengapa? Karena tidak punya ongkos. Apakah saya marah? Tidak …! Karena semua itu terjadi atas apa yang saya lakukan. Saya keliru menerjemahkan cita-cita Tuhan untuk kami sekeluarga. Dalam kasus tertentu, bahkan mungkin saya enjoy dan berusaha untuk melupakan apa yang terjadi.

Dakian itu Memang Terasa Terjal

Selain tubuh menjadi sehat, karena sering jalan kaki, juga dalam suasana seperti itu, telah mampu menghadirkan Tuhan dalam segenap langkah kaki yang diayunkan. Saya menjadi terbiasa mendaki ke puncak spiritual di tengah jalan yang terjal. Saat sedang berjalan kaki, saya akhirnya diingatkan kembali akan suatu nasihat yang pernah disampaikan bapak kami. Beginilah nasihatnya:

“Ingat anakku, jika suatu hari kamu jatuh untuk yang kedua kalinya, maka, belajarlah kembali mengingat Tuhan. Kamu secara tidak sadar, pasti telah berbuat sombong. Itu pasti …. ! Katakan dalam bathinmu kata Laa untuk kaki kiri, ilaaha untuk kaki kanan, illa kaki kiri lagi, Allah kaki kanan. Ingat lho ya … kamu hanya diperintahkan untuk betebaran di muka bumi dalam kerangka mencari keunggulan Tuhan. Tetapi jangan lupa. Praktiknya mengingat-Nya itu seperti apa? Menurut saya cara mengingatnya itu adalah salah satunya dengan membaca bacaan yang tadi. Lupakan apa yang telah hilang. Uang, dipakai apapun itu namanya hilang. Kamu pakai makan, uang hilang karena perut anda meminta lagi beberapa jam kemudian. Uang dipakai membeli baju dan atribut lain sama hilang, karena beberapa bulan kemudian ia minta ganti. Uang anda pakai untuk membeli tanah dan rumah juga hilang. Karena rumah minta perbaikan dan tanah butuh dimodali lagi untuk membuat tanaman. Hasil dari tanaman belum tentu kita tuai. Selain karena mungkin dimakan binatang, juga mungkin saja belum pernah berbuah sampai kamu mati.

Saya suka nyengir sendiri kalau ingat nasihat bapak saya. Inilah yang menenangkan pikiran dan bathin sehingga mau kembali bangkit. Dari situ saya dapat kembali fokus dan menata kembali puing-puing material yang hilang. Kalau anda masih ingat akan masalah yang anda hadapi, anda pasti sulit menjalani hidup. Tetapi jika melupakannya, dan memberikan semua aspek yang hilang kepada Tuhan, maka, Tuhanlah yang akan menggantinya.

Menjalani Hidup apa Adanya

Karena itu, jika anda hari ini sulit dan aral subaha saat susah mencari uang hanya sekedar untuk makan, untuk membiayai hidup agar tetap sehat dan mampu menyediakan dana cukup untuk pendidikan anak, maka, biarkan itu berjalan. Anda hanya dituntut untuk terus berupaya maksimal menurut ukuran anda. Biarkan tugas lain diselesaikan Tuhan. Yang pasti, bahwa Tuhan tidak mungkin membiarkan hamba-Nya larut jatuh dalam segenap kemiskinan, jika berbagai langkah positif telah dilakukan. By. Prof. Cecep Sumarna

  1. makrubin nim 14166310040 PAI /A semester satu. berkata

    Dengan membaca dan memahami nasehat diatas, bahwa manusia dan diri pribadi saya memang tersa tidak menyadari bahwa melakukan kesombongan atau kesalahan, merasa terinspirasi dan membuka hati pikiran, DAKIAN MEMANG TERASA TERJAL AKAN TETAPI KEMAMPUAN UNTUK TUJUAN ITU di serahkan sepenuhnya pada allah dengan usaha dan doa, nasihat dari org tua merupakan doa , betul kesombonga pada diri kita akan hilang apa bila dihati kita selalu ingat allah LA ILAHA ILA ALLAH, dan sebagai motivasi bahwa menjalani hidup apa adanya,dan satu hal yg setiap manusia sulit melupakannya yaitu harta dan kekayaan sehingga apa bila terkena musibah setres dan merasa bimbang, jadi trimakasih banyak dengan tulisan Prof dapat mengingatkan kita………… bagaimana solusi yang baik utk menanamkan jiwa yang kuat dan tenang?

  2. Istifadah berkata

    Well said … good thinking … wise n prudent decisions to face our problems. Planty inspire …

    1. lyceum
      lyceum berkata

      I am pleased with your comment. May God always give any way to the good of us all.

  3. Dian rohdiansih berkata

    Terima kasih banyak Prof. Insya allah jadi inspirasi saya

    1. lyceum
      lyceum berkata

      I am pleased with your comment. May God always give any way to the good of us all.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar