Mendidik Anak di Tempat terbaik

1 10

Selalu ada celah kosong, yang tidak mungkin diisi apapun atau oleh siapapun. Celah itu, salah satunya ketika mata secara perlahan harus meninggalkan anak-anak kesayangan kita, beberapa saat ketika mereka pergi meninggalkan kita, untuk masa depan dunia melalui jalur pendidikan. Aku, pada akhirnya kembali tak kuasa, untuk mencucurkan air mataku, saat anak kedua, harus dititipkan kembali di suatu lembaga pendidikan, yang menurut persepsi anaku baik. Aku pulang gontai dan lelah, membayangkan rumah kembali sepi.

Sebetapapun rumah kami diisi banyak orang, ketidakhadiran para makhkota keluarga, tetap terasa sepi. Tetapi aku dan anakku telah bersepakat bahwa kita berhak memilih tempat pendidikan terbaik. Aku ingin seperti kakekmu, yang mendorong aku dan saudara-saudaraku agar mendidik anak di tempat terbaik menurut persepsi anaknya.

Aku hanya berucap ini pilihanmu. Ini tempat di mana kamu merasa layak tinggal dan menghuni tempat ini sebagai lingkungan pendidikan. Lingkungan yang bukan hanya diisi para guru profesional dengan tingkat teknis pembelajaran yang tinggi, tetapi, memiliki akar yang kuat untuk mengembangkan kepribadian. Tempat di mana para intelektual Indonesia disemai dan pemimpin bangsa dilahirkan. Inilah tempat yang dalam nalarmu, layak atau pantas disejajarkan dengan Kampung Jakaria dan Yahya yang mampu melahirkan Maryam, yang digelari Allah dengan posisi strategis sebagai sosok istimewa di dunia dan di akhirat.

Aku setuju anaku, meski terasa berat. Aku merasa baru kemarin menggendongmu dan membawamu kemanapun aku suka. Hari ini aku harus mengalah mengikuti keinginanmu dan nalarmu. Aku tidak lagi memiliki persepsi akan suatu masa depan tentangmu, kecuali diri kamu sendiri. Aku sendiri dituntut hanya memikirkan kamu bersama kakak dan adikmu. Jaman ini telah berubah dan aku mengutif, al Ghazali, akan mengikuti nalarmu dalam konteks pendidikan, untuk masa depan kamu sesuai dengan nalar dan duniamu.

Aku tak memintamu menjadi Jenderal atau gelar kebangsawanan lainnya. Aku memintamu, ikutilah semua logikamu karena kau memiliki blue print hidup yang mungkin sama atau berbeda dengan aku. Kau hanya titipan Tuhan yang wajib aku didik. Masalah nasib dan masa depanmu, ada pada kamu dan tentu dengannya ada Tuhan kamu. Jika kelak kau bersama kakak yang lebih dulu meninggalkan rumah kita untuk study, berhasil, aku hanya ingin dikenang sebagai Bapak yang baik dan bapak yang tulus. Karena sekali lagi …. aku tak memiliki masa depan kecuali masa depan itu ada pada kakak, kamu dan adikmu.

Selamat berjuang anak-anakku. Yakinlah bahwa hanya dengan ilmu dan budi pekerti yang baiklah, yang menyebabkan kamu dapat dicintai Tuhanmu bersama makhluk-makhluk Tuhan lain. Jika kau sudah berada dalam posisi dicintai siapapun di alam ini, yakinlah bahwa dunia ada dalam genggaman anda semua. Baiklah pada seluruh makhluk Allah …. baiklah dan baiklah. Aku percaya kakamu, kamu dan adikmu akan selalu mengikuti semua nasihatku ini. Amiin ….  By Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

  1. AFINAH NGIZATIN berkata

    sangat terharu pa bacanya apalagi pas waktu pa.cecep cerita di kelas ga bisa bayangkan anak bapa yang kedua itu mengikuti kegiatan pendidikan. Yang kegiatanya dari jam 4 sampai jam 10 ga bisa aku bayangkan capenya seperti apa setiap hari kaya gitu. Tapi, bener-bener hebat anak bapa yang kedua itu bisa melanjutkan pendidikan sampai selesai meskipun awalnya banyak kendala.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.