Mendikbud Ditinggal Sendiri

0 19

Mendikbud Ditinggal Sendiri. Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan [Mendikbud] Nomor 23 Tahun 2017, yang mengubah jadwal sekolah menjadi 5 hari seminggu dan 8 jam per hari, kini dicabut. Pencabutan Peraturan Menteri [Permen] dimaksud, langsung dilakukan Presiden Joko Widodo, Senin 19 Juni 2017.  Presiden berjanji akan mengganti Permendikbud dimaksud, dengan menggantinya menjadi Perpres, yang akan dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Penolakan terhadap Permendikbud yang baru terbit tanggal 13 Juni 2017 dimaksud, dilakukan bukan saja oleh masyarakat bawah, tetapi juga oleh beberapa Ormas Islam seperti NU dan Forum Ulama Ka’bah [FUK]. Selain itu, Partai politik berbasis massa Islam seperti PPP juga sama, melakukan penolakan. Logika yang dibangun para penolak Permendikbud dimaksud, selain dianggap tidak ramah terhadap kultur masyarakat yang heterogen, juga dipandang dapat “mematikan” Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren.

Dengan demikian, menurut para kontra kebijakan Mendikbud tersebut, juga disebutkan bahwa Permen tersebut lebih melihat pada kultur masyarakat menengah perkotaan. Ia tidak melihat bagaimana kultur masyarakat pedesaan dan pantai yang justru bukan saja sekedar mereka dapat bertemu dengan orang tua setiap waktu, tetapi, dalam berbagai kesempatan mereka juga memiliki kemampuan untuk membantu pekerjaan mereka.

Sikap Masyarakat Lain

Berbeda dengan NU dan FUK, Ormas Muhammadiyah, melalui Haedar Nashir, justru berharap kepada Presiden Joko Widodo, untuk tidak membatalkan Permen dimaksud. Gagasan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, patut dianggap tepat. Ia menilai bahwa program yang digagas Muhadjir Effendy ini, patut dianggap penting untuk melakukan pendidikan karakter anak di sekolah.

Ketua Umum PP Muhamadiyah asal Bandung itu menjelaskan bahwa: “Jika ada wacana menaikkan Permendikbud menjadi Perpres, ia berharap bahwa penyempurnaan kebijakan yang telah diambil Mendikbud, jangan sampai malah mengaburkan, memperlemah, atau membatalkan.

Mengapa? Sebab menurut Haedar, Mendikbud telah mengambil kebijakan yang benar dan tepat dalam mengimplementasikan kebijakan Presiden untuk keberhasilan pendidikan karakter. Muhadjir juga menyatakan bahwa Effendy dikenal cukup lama sebagai ahli pendidikan. Ia memiliki pengalaman yang cukup lama di dunia pendidikan dengan basis akademik sebagai pendidik.

Tetapi, apa mau dikata. Kelihatannya, Joko Widodo akan mengambil sikap berbeda dengan Mendikbud. Hal ini terlihat dari bagaimana Ma’ruf Amin, ketua MUI yang menyampaikan pidato hasil pertemuannya dengan Presiden mendampingi Mendikbud. Muhadjir Effendi hanya memiliki kesempatan berdiri mendampingi Kyai asal NU ini. Tampaknya, Mendikbud akan dibiarkan sendiri, tentu dalam konteks Permen dimaksud. ¬†Padahal menurut pihak Kemendikbud, banyak masyarakat sebenarnya belum membaca Permen tersebut, sehingga banyak salah faham. By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.