Menduniakan Akhirat atau Mengakhiratkan Dunia | Tuhan Pun Berpuasa Part – 2

0 176

Pada budaya dan perilaku manusia beserta system nilai yang disusun pada kolektivitas mereka, ada yang memandang dunia ini sebagai tujuan. Seluruh aktivitas pribadi, gerakan sosial, pengorgaisasian kekuasaan dan kesejahteraan di antara  mereka dilaksanakan. Semua itu dilakukan dengan mengandaikan bahwa dunia ini adalah wadah satu-satunya dari segala awal dan akhir.

Wadahnya hanya dunia, substansinya hanya dunia, metodanya hanya dunia, dan targetnya juga hanya dunia. Orang lahir, orang bersekolah, orang bekerja, orang berkuasa, dalam durasi dunia.

Sesuatunya akan berbeda dengan pandangan lain yang meletakkan dunia sebagai titik tolak, titik pijak, untuk melangkah ke akhirat. Sejarah di dunia dikerjakan sebagai jalan dan produknya adalah akhirat. Setiap kegiatan dan fungsi manusia dalam sejarah selama dunia berlangsung berlaku sebagai metoda. Berkedudukan tinggi, Berjaya, unggul atau menang di antara manusia tidak dihayati sebagai surga. Juga setiap kekalahan, kemelaratan dan penderitaan di dunia tidak dipahami seabagai neraka. Sebab surga dan neraka adalah produk dari penyikapan (teologis, moral, kultural) manusia atas semua keadaan tersebut.

Dalam hal ini apakah dunia dan akhirat itu diwadahi oleh dua satuan waktu yang berbeda? Atau terletak pada rentang waktu yang sama, yang dibatasi oleh momentum yaumul qiyamah. Ataukah dunia dan akhirat itu sesungguhnya berlangsung sekaligus. Ikrar teologis (yang beraktualisasi kultural) yang dilaksanakan melalui syahadatain, ibadah lain, serta syariat hidup secara menyeluruh adalah suatu pengambilan sikap, suatu pilihan terhadap pandangan atas dunia akhirat.

Syahadat dan Keputusan Teologis

Tidak termsuk dalam kategori ini pola sikap manusia yang dalam bersyahadat seakan-akan mengambil keputusan teologis yang memetodakan dunia untuk target akhirat, tetapi dalam praktiknya lebih cenderung meletakkan dunia sebagai target atau tujuan.

Kerancuan sikap semacam ini bisa dilatarbelakangi oleh semacam kebutaan (spiritual­), oleh inkonsistensi (mental), oleh kemunafikan (moral), atau oleh tiada atau tidak tegaknya pengetahuan (intelektual). Yang terjadi padanya adalah menduniakan akhirat. Sementara pada manusia yang konsisten sikap mentalnya, kecenderungannya adalah mengakhiratkan dunia, atau dari sisi lain ia bermakna mendunia-akhiratkan kehidupan. Analisis Sastra atas Pikiran Emha Ainun Nadjib. By. Inten Cahya

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.