Menemukan Harapan dalam Sa’i| Mencari Tuhan di Kaki Ka’bah Part- 24

76

Menemukan Harapan dalam Sa’i – Setelah Crhonos, Vetra dan Siti melaksanakan shalat Sunnah di maqam Ibrahim, mereka beranjak ke luar dari altar Ka’bah. Ketiganya bergerak menuju suatu tempat yang menyimpan nilai historis akan suatu perjuangan yang cukup tinggi. Tempat itu disebut dengan bukit shafa dan bukit marwah. Di dua bukit inilah, Hajar pernah mencari air –dengan cara berlari-lari– untuk memenuhi kebutuhan haus akan dirinya dan anaknya yang masih kecil, yakni Ismail.

Ketiganya berjalan penuh percaya diri. Balutan pakaian ihram yang digunakan Crhonos juga tetap melingkar. Ia menjadi demikian senang dengan pakaian yang mengingatkan dirinya akan bekal kematian. Ia sadar ketelenjangan adalah bagian dari pengakuan kelemahan manusia di hadapan wujud yang kuat. Setepak demi setapakak, mereka berjalan melerai jutaan manusia yang sama menuju al mas’a.

Al Mas’a adalah tempat di mana Hajar, sempat mencari titik air. Di tempat itulah,  mereka melaksanakan Sa’i. Kegiatan ini, diyakini mereka sebagai salah satu rukun haji. Mereka harus  berlari – lari kecil sebanyak 7 kali. Di al-Mas’a [tempat untuk bersa’i] inilah. Mereka memu, tepatnya di bukit shafa, Crhonos mengangkat tangan dan berdo’a sebagai berikut:

“Ya Allah aku menyebut nama-Mu Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Saat ini kami akan memulai dengan apa yang telah dimulai oleh-Mu dan Rasul-Mu. Aku percaya ya Allah, sesungguhnya Shafa dan Marwah bagian dari Syi’ar-Syi’ar atau tanda kebesaran-Mu. Aku melaksanakan sa’i sebagai bentuk rasa syukur kami. Aku dengan rela hati mengerjakan sa’i ini, agar Engkau berkenan menerima setitik kebaikan yang kami persembahkan di tempat yang kami agungkan ini.

 Kemudian Crhonos mengatakan: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Segala puji bagi-Mu ya Allah. Allah Maha Besar, atas petunjuk yang diberikan-Mu kepada kami. Segala puji bagi-Mu ya Allah atas karunia yang telah dianugerahkan kepada kami.

Ya Allah sekali lagi, tidak ada Tuhan selain diri-Mu. Kau adalah Dzat Yang Maha Esa. Tidak ada yang dapat menandingi-Mu. Hanya bagi-Mu kerajaan langit dan bumi. Engkau adalah Dzat yang menghidupkan dan yang mematikan. Pada diri-Mu segala kebaikan dan segala kuasa atas segala sesuatu. Tidak ilah kecuali dzat-Mu Alloh. Tidak ada wujud yang mampu menepati janji kecuali dirimu. Kaulah yang menolang hamba-hamba-Mu dan Karena Kaulah kehancuran musuh-musuh kekasih-Mu terjadi.”

Setelah berdo’a, mereka berjalan di antara kedua bukit itu. Jarak antara ke dua bukit itu, diperkirakan sekitar 405 meter. Dengan penuh semangat dan do’a-do’a yang mereka baca dan lafalkan, ketiganya terus menerus melaksanakan sa’i.

Bercerita sambil Mencukur Rambut

Setelah tujuh putaran, Vetra dan Siti duduk selonjoran Karena Lelah. Dilihatnya, Shofi sudah berada di bukit Marwah. Laki-laki bertubuh hitam dengan badan sangat besar dan tinggi, tetap tegap mendampinginya. Shofi tersenyum saat melihat ketiganya dating dan menghampirinya. Terlihat air mata yang menetes di pipinya, persis seperti embun di pagi hari.

Dipotonglah rambut Siti dan Vetra. Pemotongan itu mudah sekali dilakukan. Cukup dengan beberapa lembar saja. Itupun dipotong Crhonos. Ia juga memotong rambut Shofi.

Lain dengan Crhonos yang tidak mungkin rambutnya dipotong sama Vetra atau Shofi. Ia meminta tukang cukur rambut untuk menggunduli rambutnya. Ia berkata saat memotong satu persatu rambutnya dalam kalimat berikut ini: “Ya Allah kuhabiskan semua rambut kesombonganku. Aku ingin mengubah dan menggantinya dengan rambut penuh kepasrahan pada titah-Mu. Aku ingin rambut ini, menjadi saksi akan kesucian bathinku ketika menghadap-Mu. Sucikanlah kami wahai Dzat yang Maha Suci”.

Saat Crhonos memangkas rambutnya, Shofi bercerita panjang soal shafa dan Marwah. Cerita itu antara lain:

Hai anak-ku, Shafa dan Marwah memiliki nilai relevansinya dengan kisah Hajar, Istri Ibrahim as. Di antara ke dua bukit itu, muncul mata air penuh berkah. Ia memancarkan air tepat di bawah telapak kaki Ismail kecil. Air inilah, hari ini dikenal dengan nama zam zam.

Beginilah ceritanya: “Suatu hari, setelah Ibrahim dan Hajar tiba di Mekkah, ia meninggalkannya bersama anaknya, Ismail. Ia hanya diberi bekal berupa seember kurma dan beberapa gallon persediaan air. Saat Ibrahim meninggalkan keduanya, Hajar sempat berteriak kepadanya dengan bertanya:

Mau kemana kau hai Ibrahim? Ibrahim tidak menjawab dan tidak berbalik sedikitpun. Ia hanya berbalik ketika Hajar berteriak apakah perjalananmu itu perintah Allah. Ibrahim berkata: “Iya aku akan menunaikan perintah Allah. Setelah beberapa hari, bahan makanan dan minuman itu habis. Di luar dugaan air ASI-nya tidak ke luar. Inilah yang menyebabkan Ismail menangis dan membuat Hajar panik.

Dalam keadaan panik itulah, ia berlari di antara bukit Shafa dan Marwah. Ia berharap, ada seseorang yang melintas di sekitarnya dan membantu keadaan dirinya baik berupa makanan maupun minuman. Menurut suatu cerita, muncullah Malaikat dalam bentuk seekor burung yang mematuk tanah. Muncullah air. Dalam periwatan lain, disebutkan bahwa air memancar dari bawah telapak kaki Ismail yang digerakkan ke tanah sambil menangis.

Bahagia Saat Kugendong Shofi

Selesai melaksanakan tahallul, Shofi dan keluarganya ke luar Ka’bah. Dengan cara yang sangat berdesak-desakkan, mereka memilih ke luar mealui Bab al Fath. Mereka tidak tahu ada di mana rombongan lain berada. Tetapi, Crhonos sosok laki-laki muda yang selalu percaya diri, meyakinkan diri dan keluarganya, seolah tahu, ke mana mereka harus ke luar.

Begitu sampai di luar, Shofi tidak kuat berjalan. Badannya sangat lemas sekali. Mukanya bukan hanya pucat, tetapi membiru seperti terkena pukulan yang hebat. Matanya demikian lembab. Dan pandangannya sudah sangat kosong. Crhonos kembali mencari kursi roda. Tetapi, ia tidak menemukannya. Sementara jalan yang akan dilalu, begitu miring dengan tingkat kemiringan hampir mendekati 50 derajat.

Entah mengapa, tiba-tiba Crhonos ingat sewaktu dia masih di kelas 2 SLTP. Saat itu, tubuhnya yang masih sangat gempal, terserang penyakit aneh. Bapaknya, Shofi menggendongnya dengan kuat. Saat itu Crhonos sakit keras dengan luka perut yang sangat dahsyat yang mengakibatkan literan darah ke luar dari anusnya.

“Shofi berkata kepada anaknya. Wahai anakku, akan kubiarkan orang berkata, saat aku menggendongmu. Mereka pasti akan mengatakan: “Mengapa tidak menyuruh orang lain”. Betapa aku berharap, kau mengingat kejadian ini. Kau akan mengingatnya betapa aku menyayangimu. Aku percaya, suatu hari, kau juga akan melakukan hal yang sama kepadaku. Dengan kepala menempel di bahu bapaknya karena sangat lemas, Crhonos mendengar semua perkataan bapaknya.

Ingatan Crhonos akan kisah itu, secara langsung mendorongnya untuk mengangkat tubuh Shofi. Semula ia mengaisnya. Lalu, karena nafasnya sangat sengau, karena jalan terlalu miring, ia menggendongnya. Kepala Shofi dibiarkan melemah menempel kebahuku. Tetesan air mata Shofi dan Crhonos terus mengalir bak embun di pagi hari. Dan dengan suara yang sangat lemah, Shofi berkata: “Anakku … terima kasih. Hanya Allah yang tahu akan segenap doaku untukmu. Aku hanya berharap, do’aku dikabulkan Tuhan kita semua. Amiin ….

Taxi Membawa Kami Pulang

Setelah sampai di puncak, ratusan bus berjejer. Persis seperti di sebuah terminang Cicaheum Bandung yang kadang tidak teratur. Penumpang demikian banyak. Jumlahnya sangat meledak. Melihat situasi seperti itu, ia memilih naik Taxi. Tak tega melihat bapak dan ibu harus berdesak-desakan seperti itu. Taxi-pun membawa mereka ke syari’ Syuhada dengan maktab sangat dekat dengan Tan’im.

Ruangan komentar telah ditutup.