Inspirasi Tanpa Batas

Menentukan Awal Puasa | Melacak Pemikiran Plato dan Aristoteles Part – 5

Plato versus Aristoteles
0 1

Konten Sponsor

Aristoteles Versus Plato dalam Menentukan Awal Puasa. Plato dan Aristoteles, kembali bangkit dari kubur. Bangun menjenguk manusia di bumi setelah terkubur kurang lebih 25 abad. Mereka berdua akan sama-sama membuktikan teori idealnya setelah ribuan tahun terkubur. Keduanya memiliki kerangka nalar yang berbeda satu sama lain. Rasionalisme ber-versus dengan empirisme.

Dua madzhab pemikiran ini, sering diperebutkan di Republik [Plato] dan di Lyceum [Aristoteles]. Dua Universitas ternama di Athena yang melahirkan dua madzhab keilmuan yang keduanya masih dianut sampai sekarang. Dua madzhab ini telah membingkai pengetahuan bukan saja sampai abad pertengahan, tetapi bahkan sampai abad ke 21, saat ini.

Plato meski dipandang dualistik, tetapi, ia cenderung memilih rasionalisme. Menurutnya, kebenaran ilmiah yang berbasis pada logika, jauh lebih menjanjikan tingkat kebenarannya dibandingkan dengan kebenaran empiris. Kebenaran empiris, menurutnya selalu menipu.

Mengapa dipandang menipu? Karena yang empiris mengandung ruang dan waktu, Dan pada sesuatu yang dibatasi ruang dan waktu, pasti terbatas. Ia menguji coba kebenaran empiris yang kurang disukainya itu, melalui upaya pembuktian tongkat yang lurus. Ketika tongkat itu, dimasukan ke air, matanya melihat bahwa tongkat yang lurus itu, terlihat seperti bengkok. Beberapa kali ia menguji coba itu. Itulah kesimpulannya. Kebenaran rasional tidak mungkin dikalahkan kebenaran empiris.

Di sisi lain, Aristoteles yang menjadi murid Plato. justru berkata sebaliknya. Ia menyebut logika Plato telah eror. Ia mengatakan bahwa bagaimana mungkin kebenaran empiris dikalahkan kebenaran rasional? Padahal yang benar-benar nyata adalah sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dirasa dan dikecap.

Kebenaran logis, menurutnya hanya dipandang benar jika kerangka logikanya benar. Tetapi, bagaimana kita tahu bahwa suatu logika dibingkai oleh kerangka logika yang benar. Kerangka logika itu sendiri, menurut Aristoteles adalah relatif.

Hisab dan Rukyat sama-sama Logika

Inilah Dua teori yang selalu bertentangan. Keduanya selalu beradu argumen dalam durasi waktu yang sangat panjang dalam menentukan kebenaran. Dua teori ini baru sedikit berakhir ketegangannya pada abad ke 17. Dikawinkan August Comte melalui teori positivisme. Ia merumuskan bahwa suatu kebenaran akan dianggap benar, jika kebenaran itu mengandung makna empirisme, rasionalisme dan keterukuran.

Umat Islam Indonesia, sebentar lagi akan mulai bertanya, mana yang dipakai. Hisab [Plato] atau rukyat [Aristoteles]. Kita berharap tentu saja, penentuan puasa tahun ini dibingkan dalam teori konvergensi, minimal ala August Comte. Untuk apa? Agar puasa diawali bersama, dan berakhir bersama pula. By. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar