Beranda » Blog » Jurnal » Pecinta Sejati adalah Pembuka Pintu Syurga

Share This Post

Agama / Hikmah / Hikmah Hidup / Inspirasi / Jurnal / Motivasi / Pendidikan

Pecinta Sejati adalah Pembuka Pintu Syurga

Pecinta Sejati adalah Pembuka Pintu Syurga

Jika kita ingin disebut sebagai makhluk yang sempurna, karena kita diciptakan sebagai kesempurnaan ciptaan Tuhan, dan itu juga cita-cita Tuhan, maka jadilah Pecinta Sejati. Pecinta sejati adalah mereka yang mengubah dunia sesungguhnya. Mereka adalah kampium yang selalu setia kepada komitmen yang dibangunnya. Ia tidak akan memilih untuk meninggalkan komitmennya, pun ketika komitmen itu diberikan kepada makhluk setingkat Iblis.

Ispirasi Kesetiaan pada Janji

Penulis pernah membaca sebuah Cerpen asal Tasikmalaya, lupa nama penulis, yang tulisannya diekspose dalam Surat Kabar Nasional. Cerpen itu mengisahkan tentang perjalanan seorang hamba Tuhan yang hina, bodoh dan miskin.

Dalam kebodohan dan kemiskinannya itu, ia kemudian “ngulik ilmu” bathin kekayaan duniawi dengan membuat perjanjian dengan Iblis. Perjanjian itu ternyata dilaksanakan secara tepat dan tepat oleh Iblis. Salah satunya, ia harus dibuat menjadi orang kaya. Tetapi konsekwensinya, manusia yang berjanji dengan Iblis itu, harus menghambakan separuh umurnya untuk kepentingan Iblis.

Terjadilah kesepakatan antara keduanya. Sampailah pada suatu waktu ketika dia sudah kaya raya, ia dituntut kembali ke dunia Iblis. Ia diminta menunaikan janjinya kepada Iblis atas jasa yang diberikan Iblis dimaksud kepadanya. Namun, bagian di mana dia harus memenuhi janjinya kepada Iblis, ia keburu sadar bahwa apa yang dilakukannya salah. Terjadilah konflik bathin. Terlebih banyak anaknya, ternyata telah dia didik di lingkungan pendidikan agama dan keagamaan.

Dalam kesadaran penuhnya, sekalipun dia sudah tahu bahwa dirinya salah, ia tetap ingin memenuhi perjanjiannya dengan Iblis. Anak-anak yang shaleh dan shalehah juga sudah diberi tahu. Ia tentu mohon maaf atas apa yang dilakukannya. Ia bertekad untuk menyelesaikan tugas sucinya kepada Iblis. Salah satu perjanjiannya itu, dia harus mati sebelum azal aslinya datang. Ia dituntut mati bunuh diri demi memenuhi janjinya kepada Iblis. Dia sadar, karena melalui Iblis-lah dia bisa menjadi kaya. Matilah dia.

BACA JUGA:  Bentuk-Bentuk Strategi Pembelajaran

Sesampainya di alam barjah, suatu alam yang menjadi pembeda antara alam dunia dan alam akhir, berebutanlah Iblis yang menggodanya dengan Malaikat Rahmat yang menjaga eksistensi manusia. Tuhan meminta Malaikat untuk membawa manusia itu masuk ke dalam Syurga manusia. Tetapi Iblis tetap memintanya agar ia masuk ke dalam syurganya Iblis.

Akhirnya keduanya menyerah. Mereka akhirnya, meminta manusia itu yang harus memilih. Mau masuk ke Syurga mana dia sebenarnya. Apakah hendak masuk ke Syurganya Syeitan atau masuk ke Syurga manusia. Manusia itu tetap memilih ingin masuk ke Syurganya Iblis [neraka] demi memenuhi janjinya kepada Iblis itu.

Akhirnya Justru dia Masuk Syurga

Apa yang terjadi setelah itu? Ternyata ia malah masuk ke dalam Syurga manusia. Mengapa? Karena ia konsisten menjaga janjinya, sekalipun janji itu diberikan kepada Iblis. Atas konsistensi dia menjaga janji itu, ia dipaksa kekuatan Tuhan agar masuk ke dalam Syurga manusia. Iblis-pun akhirnya tak kuasa menahan kebesaran Tuhan.

Pecinta sejati, tidak akan meninggalkan janjinya, sekalipun ketika janji itu dia berikan kepada makhluk yang menjadi musuh utama manusia, seperti Iblis. Pecinta sejati akan selalu berteman dengan siapa saja. Itu konteksnya. Termasuk ketika keadaan memaksa untuk berteman dengan makhluk yang sering secara pejoratif ditempatkan sebagai makhluk yang sangat hina, seperti Iblis.

Pecinta Sejati selalu kehabisan kata untuk berbicara apapun, karena setiap hurup dan kata yang dia miliki habis dipakai untuk tersenyum dan bersyukur kepada Tuhan. Termasuk tersenyum dan bersyukur karena Tuhan Yang Maha Kuasa telah mencipta Iblis. Karakter Iblis yang tidak secara total dilekatkan kepada manusia, termasuk dirinya, harus dipandang sebagai sebuah kenikmatan. Bayangkan, bBagaimana kalau Tuhan itu, menciptakan karakter Iblis murni diberikan kepada manusia.

Pencinta sejati tidak akan marah apalagi membenci dan mengkhianati apa yang dilakukannya. Persis seperti Muhammad yang tersenyum saat Iblis menggodanya dengan cara memelesetkan dia sesaat ketika akan melaksanakan shalat subuh berjamaah bersama para sahabat setianya di Mekkah.

BACA JUGA:  Manusia dan Pendidikan

Alasan Tidak Boleh Membenci

Kenapa para pecinta sejati tidak membenci dan selalu memenuhi janjinya kepada siapapun termasuk jika ia berjanji kepada Iblis…? Sebab pecinta sejati tidak akan pernah membuat figur buruk untuk orang lain. Ketika manusia memiliki kemampuan untuk membentuk figur-figur buruk dalam kehidupannya, maka, ia akan terlatih untuk membentuk figur-figur buruk di sekitarnya.

Dengan seringnya kita membentuk figur buruk, kita hanya akan terlatih menjadi pembenci dan tidak terlatih menjadi pecinta. Jika terhadap Iblispun, kita dituntut menepati janji, apalagi terhadap makhluk lain, terlebih terhadap manusia. Jika terhadap Iblispun kita diidzinkan untuk bersahabat, apalagi terhadap makhluk Tuhan berbentuk manusia.

Ini penting saya sampaikan, karena banyak di antara kita yang terlalu pandai membuat figur buruk dan sangat sedikit yang memiliki kemampuan membentuk dan membuat figur baik. Akibatnya, bukan saja kebisingan dan kegalauan terjadi, tetapi bahkan melahirkan prahara-prahara yang tak ada ujungnya.

Larangan Membentuk Figur Buruk

Kita semestinya tidak boleh membuat figur buruk. Mengapa? Sebab apapun dan siapapun, sejatinya selalu dicipta Tuhan dalam perspektif kecintaan Tuhan. Dengan penuh kesadaran, Tuhan mencipta Iblis. Iblis tidak pernah dicipta Tuhan dalam kebenciannya sebagai Tuhan. Iblis juga saya yakin sadar, bahwa ada satu wujud, satu Dzat dan satu prima kausa yang tidak mungkin dapat dilawannya, yaitu Tuhan.

Kita mesti mulai sadar, bahwa apa yang disebut sebagai keburukan, ternyata hanya milik pemberi persepsi. Yang diberi persepsi tentang keburukan, seringkali tetap ajeg baik dalam konteks keburukan yang sesungguhnya atau bahkan sebaliknya. Ternyata ia jauh lebih baik daripada apa yang dipersepsi oleh orang yang mengkalimnya sebagai tokoh yang baik sekalipun. Dicuplik dari buku Prof. Cecep Sumarna –Menemukan Tuhan di Altar Keabadian Cinta

Share This Post

Foto Profil dari lyceum
Lyceum.id merupakan situs pengembangan budaya dan ilmu pendidikan terlengkap menyajikan kajian filsafat, pendidikan, sosial, agama, sastra dan budaya, ekonomi dan bisnis, kesehatan dan gaya hidup

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>