Mengalahkan Diri Sendiri Inti Ajaran Sunda Wiwitan

1 868

Ajaran Sunda Wiwitan: Senin sore, 25 September 2016, di Kantor Quanta 2 Bayuning, Kabupaten Kuningan. Saya bertemu dengan Ibu Gartika Kencana Purbaningsih dengan Saudaranya, Ibu Juwita Jati Dua perempuan separuh baya yang menampilkan sosok keibuan khas masyarakat Sunda. Dengan tutur Basa Sunda yang juga sangat lekat dengan budaya Sunda itu sendiri. Saya yang merasa telah lama, tidak menggunakan tutur bahasa ini, merasa teringatkan akan potensi masa lalu yang dalam setiap bertutur selalu menggunakan tuturan Sunda. Inilah yang cukup menarik bagi saya.

Penghuni Paseban Cigugur Kuningan dan keduanya Buyut dari Madrais. Pendiri dari Paseban itu, berbincang bersama kami dalam waktu yang relative lama untuk ukuran sebuah diskusi serius seperti itu. Diskusi itu harus diakui sangat asyik karena membicarakan tentang model Pengabdian kepada Sang Hyang, yang dianut ajaran Sunda Wiwitan atau sering juga disebut sebagai Agama Sunda Jawa dalam terminology Belanda.

Pertemuan dan diskusi semacam tadi, bagi saya tentu bukan baru. 24 tahun yang lalu, sewaktu saya masih kuliah S1, sempat datang ke Paseban dimaksud dan melakukan diskusi yang relatif sama. Diskusi di Quanta 2 dengan demikian, tentu bukan untuk yang pertama kalinya. Ini merupakan serangkaian pemikiran yang cukup lama tersimpan di memori otak saya.

Diskusi kali ini, diikuti tidak kurang 10 orang. Harus diakui, itu,cukup memikat pemikiran karena model pembicaraan yang sangat egaliter dan blak-blakan tentang bagaimana kami membangun persepsi universal ketuhanan yang koheren dalam pandangan yang oleh kalangan tertentu sering disebut berbeda.

Diskusi itu diawali oleh suatu pertanyaan saya tentang bagaimana cara masyarakat Sunda Wiwitan melakukan Pengabdian kepada Sang Hyang. Di luar dugaan saya, ia malah balik bertanya. Apa yang dimaksud dengan pengabdian? Bukankah pengabdian itu tidak luput dari bentuk Adi Kodrati? Terhadap pertanyaan keduanya ini, saya malah bengong.

Dia berkata: “Pengabdian adalah sipat dasar manusia yang hadir bersama dengan prinsip primordialis, meski bukan berarti fanatisme”. Misalnya, kita tidak pernah meminta dilahirkan sebagai orang Sunda, dari bapak dan  ibu tertentu. Tetapi, fakta kita tidak mungkin menolak suatu kenyataan sejarah bahwa kita ternyata terlahir dari suku apa dan bangsa apa, atau dari ibu A dan bapak B. Inilah primordial. (Baca : Sunda Wiwitan dan Puncak Ketuhanan)

Bentuk primordial yang paling hakiki

Soal pengabdian juga sama. Inilah bentuk primordial yang paling hakiki. Kita mengabdi kepada Sang Hyang –tanpa reserve– karena pengabdian adalah wujud primordial yang tidak mungkin ditinggalkan siapapun sepanjang ia masih tetap mengaku sebagai manusia. Mengabdi kepada Sang Hyang bukan kebutuhan Sang Hyan, tetapi, kebutuhan kita sendiri. Mengabdi adalah identitas kemanusiaan.

Karena itu, kata mereka, inti dasar pengabdian kepada Sang Hyang –apapun bentuknya– pada hakikatnya adalah upaya kita untuk selalu mengalahkan diri sendiri. Ini yang paling sulit sekaligus inilah titik pangkal paling mendasar dari ajaran Sunda Wiwitan. Manusia selalu dikuasai oleh ego, ambisi dan nafsu yang dimilikinya dan cenderung mengajak manusia pada keburukan. Jadi, pengabdian yang menjadi puncak Sunda Wiwitan adalah mengalahkan  ego, ambisi dan nafsu lahiriyahnya sebagai manusia.

Lalu jika demikian, apa pangkal utama yang diajarkan Sunda Wiwitan kepada mereka yang dianggap atau mengaku sebagai pengikutnya? Ia mengatakan bahwa sunda wiwitan selalu mengedepankan prinsip cinta kasih kepada seluruh sesama, memiliki undak usuk dalam tata lakon kehidupan. Kuga memiliki tatakrama atau sopan santun, budi daya dan budi basa dan Wiwaha Yuda Naraga (selalu berupaya untuk mengalahkan nafsu, ego dan ambisi) pribadi manusia.

Dengan nalar seperti ini, maka inti ajaran Sunda Wiwitan adalah mengajarkan tentang pentingnya hidup agar memiliki tingkat rasa yang baik. Kemudian memiliki tingkat kerumasaan yang tinggi serta tumarima atau menerima apapun yang dihadiahkan Sang Hyang kepada kita sebagai manusia tanpa sedikitpun arah subaha. Ia selalu bersyukur kepada Sang Hyang atau Tuhan yang Maha Esa.

** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna — berlanjut pada Hukum Rimda dalam Masyarakat Sunda Wiwitan. 

  1. Aceng khoer ependi berkata

    Aceng Khoer Ependi
    1415104004
    T IPS A/3
    Saya setuju dengan pendapat bahwa pengabdian yang menjadi puncak Sunda Wiwitan adalah mengalahkan ego, ambisi dan nafsu lahiriyahnya sebagai manusia.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.