Take a fresh look at your lifestyle.

Sulit denga Urusan Karyawan? Berikut Cara Mengangkat Pegawai yang baik Part-1

0 41

Mengangkat pegawai untuk membantu perusahaan, selalu menjadi bagian tersulit dalam memulai usaha. Terlebih jika perusahaan itu baru didirikan. Pengangkatan pegawai, umum dilakukan agar perusahaan terbantu mengembangkan unit-unit usaha yang dimiliki owner. Fakta di lapangan, ternyata tidak semua pegawai dapat mendongkrak jalannya usaha. Dalam kasus tertentu, seorang pegawai bahkan mungkin malah menjadi beban baru yang sulit diurai. Cara Mengangkat Pegawai yang baik

Pengalaman kami, ketika merekrut tenaga kerja baru, tidak bergerak dari latar belakang pendidikan dan profesi. Pendidikan dan Profesi apapun, dapat diterima di perusahaan kami, sepanjang memiliki karakter yang dibutuhkan. Mereka diuji dalam waktu minimal tiga bulan, untuk kemudian diambil kesimpulan tentang karakter seperti apa yang dimiliki mereka.

Kami tidak pernah mengeluarkan pegawai, kecuali ia ke luar sendiri karena memiliki visi yang berbeda. Hanya, bagi kami sendiri cenderung akan menolak pegawai yang mengambil sikap aman yang menyebabkan dirinya sendiri tumbuh menjadi pengecut dan pengkhianat. Sebaliknya, kami akan mempertahankan sekuat tenaga sekalipun dipandang tidak kompeten posisi yang kami berikan kepada mereka, sepanjang ia memiliki dedikasi, loyalitas, integritas dan kemauan yang tinggi untuk melakukan perubahan.

Harus dikatakan bahwa, pengalaman bisnis tidak mungkin dapat diperoleh dengan baik karena mereka telah terdidik secara formal di lembaga pendidikan tinggi dengan sejumlah buku bacaan yang sangat banyak. Pengalaman dan kecakapan berbisnis hanya dapat diperoleh dari dunia nyata. Dunia yang mampu merasakan berbagai dinamika hidup yang kompleks untuk kemudian terdorong dalam visi hidup yang baik. Khusus dalam konteks Indonesia, kebanyakan pendidikan tinggi kita malah mencederung mendorong peserta didiknya, terlatih secara akurat untuk bertindak dengan jarak yang sangat jauh dari apa yang dibutuhkan dunia usaha. Padahal, seperti sering saya katakan, dunia usaha hanya mampu dibangun secara kokoh dengan prinsip dasar kejujuran. Kejujuran, itu modal utamanya. Kami sendiri merasa bahwa perusahaan yang kami bangun itu, hanya bermodalkan kejujuran, terlebih terhadap diri kami sendiri.

Pengalaman Yang Membedakan

Pengalaman membangun dunia usaha dalam rentangan waktu yang panjang, harus juga diakui telah mendorong banyak pihak melakukan desiminasi dari apa yang kami lalui. Menarik untuk dicatat bahwa dari sekian banyak orang yang datang kepada kami, ada di antaranya seorang dengan gelar akademik tertinggi dalam bidang eksak. Ia menggebu kalau berbicara dan terkesan ambisius pada setiap program yang hendak dilakukan. Ia merasa perusahaan dan sektor usaha yang dilakukannya selama ini, selalu sulit berkembang secara natural. Para pegawainya lemah dan tidak memiliki visi. Ia meminta resep kepada kami tentang langkah apa yang harus dilakukan untuk mengkondisikan tenaga kerja yang bergulat dalam sektor usaha yang dia lakukan.

Karena saya merasa memiliki hubungan sosiologis dengannya, terasa cukup ruang berbicara lugas dengan mengatakan: “Seberapa sering lembaga pendidikan tinggi anda mendapat bantuan dari pemerintah?”. Ia bengong dan cenderung emosional. Ia bertanya bisnis, tetapi, dijawab dalam bentuk pertanyaan tentang yayasan pendidikan dan bantuan pemerintah. Apa hubungannya? Kata dia. Itu Sangat jauh dan keliru.

Khusus mengenai diri anda dan usaha-usaha yang anda miliki, sangat dekat dan memiliki relasi yang sulit dihindari dengan yayasan yang juga dimiliki anda. Mengapa? Anda adalah pendiri Yayasan dan usaha yang dikembangkan baik dalam bentuk peternakan maupun perdaganggan umum, selalu memiliki relasi langsung dengan yayasan dimaksud.

Situasi itu akan mendorong pegawai anda untuk menyimpulkan bahwa usaha yang dilakukan, sejatinya tidak memiliki akar yang kuat dengan filosofi dunia usaha. Dunia usaha membutuhkan kejujuran, kemandirian dan ketelatenan agar pegawainya jujur, mandiri dan telaten. Bagaimana mungkin seorang yang dilegitimasi memiliki relasi-relasi tertentu dalam dunia ketergantungan, harus didorong secara lugas dalam dunia yang justru membutuhkan mental sebaliknya, yakni ketidakbergantungan. –Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar