Mengapa Harus Menulis| Teknik dan Cara Menulis Part – 5

Teknik dan Cara Menulis Part -5
0 172

Ada pertanyaan menarik yang muncul dari berbagai kalangan, yang sesungguhnya dekat dengan dunia keilmuan. Pertanyaan dimaksud mungkin muncul sebagai bentuk ketidakmengertian posisinya sebagai intelektual atau calon intelektual. Pertanyaan itu adalah, mengapa kita harus menulis. Pertanyaan itu menarik buat saya, karena muncul saat di mana saya mengajar di lingkup jenjang pendidikan S2.

Dia lalu berbicara bahwa, penyampaian pesan dapat dilakukan setiap manusia, tidak dalam bentuknya yang selalu harus tertulis. Menurut penanya, pikiran kita dapat dilakukan dalam posisi dan bentuk lain seperti kegiatan oral dalam bentuk seminar atau ceramah.

Pertanyaan semacam ini muncul, setelah saya amati, umumnya datang dari mereka yang mengambil profesi sebagai teknisi atau mereka yang memiliki kemampuan ceramah dan suka melakukan ceramah ke sana kemari. Mereka merasa bahwa ketika harus menuliskan sesuatu, justru pikiran kita menjadi sangat terikat. Berbeda dengan misalnya, ketika saya harus hanya menyampaikannya dalam bentuk oral. Berjam-jampun saya bisa melakukannya. Begitulah dia berujar.

Terhadap pertanyaan semacam ini, saya mengatakan bahwa sesungguhnya kegiatan menulis memang sama dengan kegiatan cemarah. Sama-sama menyampaikan pesan yang menurut ukuran subjektif kita layak dimengerti orang lain. Tetapi, sejarah membuktikan bahwa manusia hanya dapat diabadikan melalui pemikiran. Dan pemikiran seseorang hanya mungkin juga disimpan atau diabadikan dalam bentuk tulisan –meski sangat mungkin lahir ragam tafsir– pada apa yang kita sebut sebagai pemikiran yang tertuang dalam bentuk tulisan karena terikat oleh berbagai hal.

Lalu saya katakan kepada penanya dimaksud akan pengalaman yang pernah saya alami. Pengalaman itu adalah sebagai berikut:

Beberapa hari yang lalu, saya mencari tokoh yang sempat beken pada salah satu institusi pendidikan di Kota Cirebon. Ia dikenal banyak orang maklum ia sempat menjadi figur kunci dalam institusi dimaksud. Setelah saya melakukan peselancaran di dunia maya terhadap tokoh dimaksud, saya gagal menemukannya. Mengapa? Karena ternyata ia tidak menampilkan diri untuk mengabadikan dirinya melalui pemikirannya dalam bentuk tulisan. Padahal ia baru berlalu dalam sejarah kehidupan manusia, dalam beberapa tahun terakhir.

Lantas saya memberi pesan kepadanya, bahwa, jika anda ingin dikenal dunia, diabadikan jaman, tidak ada piranti lain selain kita dituntut menulis sesuatu. Tulislah apapun itu! Baik atau buruk. Jelek atau bagus. Mengapa? Sebab hakikat menulis adalah bukan untuk orang lain, tetapi, sejatinya untuk kita sendiri.

Islam Turun dengan Perintah Membaca

Inilah dalam hemat saya, mengapa surat al Alaq, khususnya di ayat ke 4 dan 5, Allah menyatakan bahwa Dia adalah Pengajar yang paling baik, dan mengajar-Nya itu dilakukan melalui perantaraan “pena”.

Melalui ayat ini, kita menjadi mafhum juga, jika, seseorang yang hendak menguasai ilmu pengetahuan, maka, syaratnya selain harus banyak membaca, ia juga dituntut harus banyak menulis. Itulah yang dalam tafsir Azyumardi Azra (2000) disebutkan bahwa orang yang suka membaca tetapi tidak suka menulis, ia akan kehilangan artikulasi diri. Sedangkan jika kita tampil menjadi penulis tetapi tidak suka membaca, maka, tulisannya akan kering pesan. Karena itu, bacalah dan kemudian tulislah.

Mengapa Plato dan Aristoteles juga diabadikan zaman. Salah satunya, karena pikirannya diabadikan ke dalam bentuk tulisan. Ditulis oleh dirinya, atau ditulis orang lain. Jadi kalau anda ingin diabadikan zaman, tulislah … tulislah sesuatu. Itulah satu alasan penting, mengapa kita harus menulis. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...