Take a fresh look at your lifestyle.

Mengapa kita harus yakin bahwa Tuhan itu Tunggal

0 106

Konten Sponsor

Mengapa kita harus yakin bahwa Tuhan itu Tunggal? Apakah ketunggalam Tuhan itu berkepentingan atas Tuhan, atau sesungguhnya mengandung konsekwensi strategis terhadap sisi kemanusiaan kita. Karena itu, menurut saya, soal keberimanan kepada Tuhan Yang Tunggal, selalu menjadi penting dilacak untuk membangun citra kemanusiaan kita. Hal ini, persis seperti lacakan yang dilakukan Nabi Ibrahim ketika hendak menemukan Tuhan yang sesungguhnya, Tuhan. Tuhan Yang Tunggal dan selalu menjadi pusat segala gerakan, atas segala sesuatu yang bergerak.

Ibrahim mengawalinya dengan menyembah bintang. Kemudian berganti ketika ketika menemukan yang lebih terang, yakni rembulan. Namun, ketika rembulanpun redup, dan di pagi hari  Ibrahim melihat Matahari, ia menggantinya dengan menyembah Matahari. Dan ketika matahari pada akhirnya redup juga, maka, Ibrahim menemukan Tuhan yang sesungguhnya, yakni Tuhan yang mengatur bintang, rembulan dan matahari. Ia berada di balik semua fenomena yang tampak. Tuhan itulah yang Pencipta atas segalanya. Hal ini, direkam dalam al Qur’an surat Al An’am [6]: 76-79 berikut ini:

(Ketika menjadi gelap) menjadi kelam pekat (malam hari atasnya, dia melihat sebuah bintang), lalu dia berkata kepada kaumnya yang pada waktu itu menjadi para penyembah bintang-bintang (“Inilah Tuhanku”) menurut persangkaan kamu. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam atau surut , Ibrahim verkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.”

(Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit) bulan mulai menampakkan sinarnya (dia berkata) kepada mereka (“Inilah tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata, “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku) memantapkan hidayah dalam diriku (pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.”)

(Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit dia berkata: “Tuhanku ini yang lebih besar” daripada bintang dan bulan (maka tatkala matahari itu tenggelam) hujah yang ia sampaikan kepada kaumnya itu cukup kuat dan tidak dapat dibantah lagi oleh mereka (dia berkata, “Hai kaumku! Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”) dari mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala dan benda-benda hawadits/baru yang masih membutuhkan kepada yang menciptakannya. Akhirnya kaumnya itu berkata kepadanya, “Lalu apakah yang engkau sembah?” Nabi Ibrahim menjawab:

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku) aku menghadapkan diri dengan beribadah (kepada Tuhan yang telah menciptakan) yang telah mewujudkan (langit dan bumi) yaitu Allah swt. (dengan cenderung) meninggalkan semua agama untuk memeluk agama yang benar (dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan.”) Allah.

Bagi saya, soal ini tergantung dalam posisi mana kita harus melihat. Saya ingin ke luar dari tradisi penafsiran biasa yang melihat fenomena ketuhanan semacam ini sebagai sesuatu yang baku. Bagi saya, ini adalah pendidikan kemanusiaan bahwa sesungguhnya manusia memang harus bergerak dari sesuatu yang fisik menuju kepada sesuatu yang metafisik. Bergerak dari sesuatu yang berbilang kepada sesuatu yang tidak berbilang. Inilah pendidikan ketuhanan yang sesungguhnya.

Dialektika Bahasa

Dalam literatur Barat yang disebut dengan bintang adalah idola kehidupan. Bintang memiliki padanan makna dengan star. Bintang film yang menjadi pemeran utama dalam sebuah film, sering disebut dengan staring. Kita tidak mungkin menjadi penerang umat ketika kita tidak pernah menjadi bintang kehidupan. Hanya mereka yang pernah menjadi bintang kehidupanlah, yang sesungguhnya dapat menjadi penerang umat. Itulah yang disebut dengan rembulan.

Menjadi penceramah, menjadi guru, atau menjadi apapun profesi kita, sepanjang berada dalam lakonnya sebagai penerang gelapan, itulah rembulan. Ia selalu rela menyibukkan dirinya dalam memenuhi rasa terang, di tengah segala dinamika umat yang gelap. Menjadi penerang umatpun harus diperkuat dengan satu keyakinan bahwa pada akhirnya kita harus menjadi energi kehidupan. Itulah matahari.

Tetapi disadari sepenuhnya bahwa kemampuan kita menjadi energipun akan terbatas ketika ternyata semuanya akan berakhir. Berakhir bersama seluruh kekuatan kita. Mereka yang sadar trerhadap fenomena ini, itulah yang akan menemukan Tuhan yang sesungguhnya. Tuhan yang di mana kita telah berjanji akan diakui dan diimani sejak kita berada di alam rahim.

Jadi, pengakuan bahwa Tuhan itu tunggal, sesungguhnya mengandung konsekwensi dan nalar yang mengasumsikan bahwa kita semua yang tampak, adalah tidak ada. Karena kita tidak ada, maka, tak ada apapun yang membuat diri kita menjadi sombong atas apapun yang kita miliki. Ketuhanan yang tunggal akan membuat kita menjadi sadar, bahwa hidup bersama adalah satu keharusan.