Inspirasi Tanpa Batas

Mengapa Manusia Harus Shalat | Tuhan pun Berpuasa Part 3

0 96

Konten Sponsor

Mengapa Manusia Harus Shalat ? – Ibadah shalat merupakan metoda rutin kultural untuk proses pengakhiratan. Momentum-momentum shalat lima waktu memungkinakan manusia agar secara berkala melakukan pengambilan jarak dari dunia.

Shalat mengandung potensi untuk membatalkan atau mengurangi keterjeratan oleh dunia. Tetapi ini bukan berarti pandangan anti dunia. Yang dimaksud keterjeratan oleh dunia adalah kecenderungan meletakan dunia sebagai titik tumpu kehidupan. Menjadikan dunia segala-galanya.

Ibadah shalat demikian adalah suatu tradisi system yang mengondisikan pelakunya untuk memelihara sikap mengakhiratkan dunia atau mendunia-akhiratkan kehidupan. Ibadah shalat menawarkan irama di mana proporsi kedunia-akhiratan yang dialektis berlangsung dalam kesadaran, naluri, dan perilaku manusia. Ibadah shalat bersifat kumulatif dan evolusioner.

Mengapa Manusia Harus Zakat ?

Dalam rukun Islam sudah tentu Zakat termasuk ke dalamnya. Selama kita hidup di dunia, kita tetap harus mengeluarkan zakat jika perolehan harta kita sudah mencapai syarat. Pembaca pasti sudah mengetahui alasan mengapa harus membayar zakat.

Sebagaimana zakat yang berlambangkan susu (jenis air lain yang disebut oleh Al-Qur’an). Analoginya kambing tidak meminum air susunya sendiri, tetapi mendistribusikan kepada anak-anaknya dan makhluk lain. Etos zakat membersihkan harta perolehan manusia. Membersihkan artinya memproposisikan letak hak dan wajib harta. Manusia tidak memberikan zakat, tetapi membayarkan atau menyampaikan hak orang atau makhluk lain atasnya.

Analisis penulis Tentang Shalat dan Zakat

Dari pemaparan diatas penulis sedikit dapat menyimpulkan bahwa shalat adalah tanda tunduknya manusia terhadap Tuhannya. Manusia tidak melulu mementingkan keduniawian. Ada saatnya manusia berinteraksi dengan Allah yaitu melalui shalat. Tetapi shalat yang seperti apa dulu.

Terkadang manusia melaksanakan shalat hanya karena ingin menunaikan kewajiban saja. Shalat belum dijadikan sebuah kebutuhan, sehingga apa yang menjadi esensi dari shalat tidak terasa. Sehingga sikap mengakhiratkan dunia ataupun mendunia-akhiratkan kehidupan belum bisa diterapkan. Karena memang untuk menerapkan sikap seperti itu dibutuhkan ketauhidan yang kuat dan pengalaman spiritual yang tinggi.

Shalat sepertinya tidak bisa dipisahkan dari zakat, seperti dalam sebuah potongan ayat Al-Qur’an yang artinya : “dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat”. Jika penulis analisis, shalat merupakan pembersihan hati dengan cara langsung berinteraksi dengan Tuhan. Sedangkan zakat merupakan pembersihan diri dengan melalui harta yang menjadi bagian duniawai.

Seperti analogi diatas, bahwa seekor kambing tidak meminum air susunya sendiri. Maka dapat kita pahami bahwa harta yang kita miliki tidak mungkin dibabat habis oleh diri kita sendiri. Jika perolehan harta kita dari hasil mencari nafkah didunia sudah mencapai ketentuan yang ditetapkan syariat Islam. Maka kita wajib untuk mengeluarkan zakat, karena didalam harta kita terdapat hak orang lain yang harus kita tunaikan. Analisis Sastra atas Pikiran Emha Ainun Nadjib. By. Inten Cahya

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar