Mengapa Perlu Hypotesa | Epistemology Part – 17

Mengapa Perlu Hypotesis
0 85

Mengapa Perlu Hypotesis. Prosedur berpikir ilmiah moderen, yang hanya mendasarkan pikirannya pada penalaran rasional dan empiris, memaksa untuk menyusun Hypotesa. Mengapa? Sebab dua model yang menjadi sumber dan metodologis itu, selalu menuntut dilakukan observasi dan penjelajahan baru terhadap masalah yang dihadapi. Inilah yang memaksa adanya pra anggapan (hipotesis/deduksi) dari setiap langkah menuju penelitian. Penelitian itu sendiri, berfungsi untuk melakukan pengujian atas studi lapangan (empiris/induksi) atau lebih dikenal dengan penelitian lapangan.

Metode ilmiah, dengan demikian adalah ekspresi tentang cara berpikir menurut kaidah ilmiah. Melalui metode ini, diharapkan dapat menghasilkan karakteristik tertentu yang diminta pengetahuan ilmiah. Karakteristik dimaksud besifat rasional (deduktif) dan teruji secara empiris. Melalui langkah ini, akan memungkinkan lahirnya pengetahuan yang disusunnya menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Metode ilmiah dengan demikian adalah penggabungan antara cara berpikir deduktif (rasional) dan induktif (empirik) dalam membangun tubuh pengetahuan.

Dalam metode ilmiah, penelitian dituntun dalam proses berpikir yang menggunakan analisa. Karena itu, dalam metode ilmiah hipotesis juga diperlukan. Hipotesa berguna untuk memandu jalan pikiran ke arah tujuan yang hendak dicapai atau ingin dibuktikan. Hasil yang hendak diperoleh akan mencapai sasaran dengan tepat.

Hipotesis adalah keterangan sementara untuk keperluan pengujian yang diduga mungkin benar mungkin juga salah. Hypotesa dapat digunakan sebagai pangkal untuk penyelidikan lebih lanjut sampai diperoleh kepastian dengan pembuktian. Ilmuan melakukan kerja yang seolah melakukan “interogasi terhadap alam” melalui apa yang disebut hipotesis.

Hipotesis disusun berdasarkan cara kerja deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang telah diketahui sebelumnya. Penyusunan hipotesis berguna untuk menunjang terjadinya konsistensi pengembangan ilmu secara keseluruhan dan menimbulkan efek kumulatif dalam kemajuan ilmu. Hipotesis dapat menjadi jembatan pemanduan antara cara kerja deduksi dan induksi.

Langkah Penelitian setelah Hypotesa

Setelah hipotesis tersusun, langkah selajutnnya adalah mengujinya yang disusun itu dengan mengkomunikasikan atau mengkonfirmasikannya dengan dunia fisik yang nyata. Proses pengujian hipotesis lazim disebut sebagai pengumpulan yang relevan dengan hipotesis yang diajukan. Fakta-fakta yang dikumpulkan, dapat berupa fakta yang sederhana (dapat ditangkap pancaindera), dapat pula berupa fakta yang memerlukan instrument lain seperti teleskop dan mikroskop. Di sini, penelitian ilmiah menjadi sangat mahal, bukan karena teorinya, melainkan lebih karena pembuktiannya.

Berpikir deduktif memberikan sifat rasional kepada pengetahuan ilmiah. Ia dituntut bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkannya. Secara sistematis dan kumulatif, pengetahuan disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru, berdasarkan pengetahuan yang telah ada. Penjelasan rasional dengan kriteria kebenaran koherensi tidak dapat memberikan kesimpulart final.

Rasionalisme lebih bersifat pluralistik sehingga memberi kemungkinan untuk menyusun berbagai penjelasan terhadap suatu objek pemikiran yang bersipat tertentu. Karena itu, dalam metode berfikir ilmiah, diperlukan model lain yaitu cara kerja berfikir induktif yang mendasari kriteria kebenaran pada teori korespondensi. Teori ini menyebutkan bahwa pernyataan dianggap benar sekiranya materi yang terkandung dalam pernyataan itu, bersesuaian dengan objek faktual yang disetujui pernyataan tersebut.

Menguji kebenaran melalui metode ilmiah harus secara empirik. Sebab seluruh penjelasan rasional yang diajukan, statusnya hanya bersifat sementara (hipotesis). Hipotesis disusun secara deduktif dengan mengambil premis-premis dari pengetahuan ilmiah yang telah diketahui sebelumnya. Adanya jembatan melalui penyusunan hipotesis, menempatkan metode ilmiah sebagai proses logico-ln/potetiko-verifikatio (logik, hipotetik sekaligus perifikatif). Perkawinan berkesinambungan antara deduksi dan induksi disebut dengan prosedur berpikir ilmiah. Proses induksi diperlukan untuk melakukan verifikasi atau pengujian terhadap hipotesis yang bersipat deduksi.

Pendekatan Ontologis atas Ilmu

Secara ontologis, ilmu mengkaji masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia semata. Perbedaan antara ruang lingkup permasalahan yang dihadapi, telah menyebabkan perbedaan metode dalam memecahkan setiap masalah. Perbedaan ini, hrus diketahui dengan benar untuk dapat menempatkan ilmu dalam perspektif yang sesungguhnya.

Masalah yang dihadapi ilmu adalah nyata. Ilmu mencari jawaban pada dunia yang juga nyata. Ilmu diawali dengan fakta dan diakhiri dengan fakta pula. Selanjutnya teori empirisme yang berlandaskan pada fakta-fakta, meski menjadi abstrak intelektual dengan pendekatan rasional. Albert Einstein dalam konteks ini berkata, “Adapun teori yang menjembatani antara empirisme dan rasionalisme, menjadi penjelas rasional yang sesuai dengan objek yang dijelaskan dari fakta-fakta yang ada”. Gabungan dari pendekatan empirisme dan rasionalisme, sekali lagi, harus disebut sebagai metode ilmiah. (Lasio dan Yuwono, 1985: 120).

Teori ilmiah harus memenuhi dua syarat. Kedua syarat itu adalah: 1). Harus konsisten dengan teori-teori sebelumnya yang memungkinkan terjadinya kotradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan; dan 2). Harus cocok dengan fakta-fakta empiris. Teori apapun konsistennya, jika tidak didukung pengujian empiris, tidak dapat diterima kebenaranya secara ilmiah. Begitupun sebaliknya. Seberapa pun faktuaitasnya, fakta-fakta yang ada, tanpa didukung asumsi rasional, maka ia hanya akan menjadi fakta mati yang tidak memberikan pengetahuan kepada manusia. Berikut adalah langka-langkah dalam melakukan pengujian berdasarkan metode ilmiah. Bagan dimaksud adalah:

Berdasarkan gambaran di atas, maka metode ilmiah meliputi suatu rangkaian langkah yang tertib dan sitemik. Meskipun demikian, metodologi dipahami para ilmuan dalam ragam yang tidak mungkin memperoleh kesamaan pendapapat. George Abell misalnya, merumuskan metode ilmiah sebagai suatu prosedur khusus dalam ilmu yang mencakup tiga langkah. Ketiga langkah itu adalah: 1). Pengamatan pada gejala- gejala atau hasil dari percobaan-percobaan; 2), Perumusan pangkal duga yang melukiskan gejala-gejala dan bersesuaian dengan pengetahuan yang ada; dan 3). Pengujian pangkal duga ini dilakukan dengan mencatat apakah memadai dapat meramalkan dan dapat melukiskan gejala-gejala baru atau hasil dari percobaan yang baru atau hasil percobaan.

Lima Langkah dalam Penelitian

Eigelbener menyebut ada lima langkah dalam melakukan prosedur dan metode bepikir ilmiah. Kelima langkah itu adalah: 1). Adanya analisis terhadap masalah. Analisis ini berguna untuk menetapkan apa yang hendak dicari, memberi bentuk dan arah pada telaah penelitian; 2). Pengumpulan fakta-fakta; 3). Penggolongan dan pengaturan data agar dapat menentukaii kesamaan-kesamaan, urutan-urutan dan hubungan-hubungan yang ada dan bersifat simultan; 4). Perumusan kesimpulan dengan menggunakan proses penyimpulan logika dan penalaran; dan 5). Pengujian dan pemeriksaan kesimpulan- kesimpulan.

Ada juga yang menyebut bahwa prosedur ilmiah, mencakup tujuh langkah. Ketujuh langkah itu adalah: 1). Mengenal adanya suatu situasi yang tidak menentu. Situasi yang bertentangan atau kabur yang menghasilkan penyelidikan; 2). Menyatakan masalah dalam istilah-istilah yang spesifik; 3). Merumuskan suatu hipotesis; 4). Merancang suatu metode penyelidikan yang terkendali dengan jalan pengamatan atau dengan jalan percobaan, atau kedua-duanya; 5). Mengumpulkan dan mencatat data kasar agar mempunyai suatu pernyataan yang mempunyai makna dan kepentingan; 6). Melakukan penegasan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan; 7). Mela-kukan penegasan terhadap apa yang disebut dengan metode ilmiah. Selain prosedur berfikir ilmiah sebagaimana tergambar di atas, aspek lain yang juga penting untuk menjadi daya dukung terhadap metode berfikir ilmiah, menurut Archi J. Bahm, juga harus menunjukkan adanya:

Masalah

Permasalahan akan menentukan ada atau tidak adanya ilmu. Tanpa ada masalah, maka tidak akan ada ilmu. Langkah pertama dalam suatu penelitian ilmiah adalah mengajukan sesuatu yang dianggap sebagai masalah. Sesuatu dianggap sebagai masalah apabila terdapat pertentangan antara harapan akan sesuatu yang seharusnya (das sollen) dengan yang sebenamya ada (das sains).

Prof. Djawad Dahlan menyebut masalah sebagai motif yang menjadi pendorong. Kenapa seseorang melakukan penelitian, terhadap sesuatu yang dianggap bertentangan dan sesuatu yang dianggap berbeda. Adanya pertentangan atau perbedaan ini, dlam banyak hal disebut dengan masalah penelitian. Dalam bahasa sederhana, pengajuan masalah ini dapat pula disebut sebagai project proposal.

Permasalahan dalam ilmu pengetahuan memiliki tiga ciri. Ketiga ciri dimaksud adalah: 1). Dapat dikomunikasikan (communicable) dan dapat menjadi wacana public; 2). Dapat diganti dengan sikap ilmiah; dan 3). Dapat ditangani melalui metode ilmiah.

Sikap Ilmiah

Sikap ilmiah adalah bagian penting dari prosedur berfikir ilmiah. Sikap ilmiah meliputi enam karakteristil. Keenam karakteristik dimaksud adalah:

  1. Rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu (scientific curiosity) ditujukan untuk memahami keberadaan, hakikat, fungsi hal tertentu dan hubungannya dengan hal-hal lain, ada rasa ingin tahu yang menjadi pemicu munculnya pertanyaan serta dilakukannya penyelidikan, pemeriksaan, penjelajahan, petualangan dan percobaan dalam rangka mencapai pemahaman.
  2. Kespekluatifan adalah sikap ilmiah yang diperlukan untuk mengajukan hipotesis-hipotesis (tentu bersifat deduktif) untuk mencari solusi terhadap sesuatu yang dianggap sebagai permasalahan ilmiah.
  3. Objektif di sini dimaknai dengan sikap yang selalu sedia untuk mengakui subjektivitas (tentu bersifat relatif) terhadap apa yang dianggapnya benar. Sikap ini meliputi:
  • Kesediaan untuk mengikuti bimbingan rasa ingin tahu secara ilmiah;
  • Kesediaan untuk dipandu oleh pengalaman dan penalaran, tidak fanatik terdapat sikap rasional dan empirik;
  • Kesediaan menjadi reseftif terhadap data sebagaimana adanya, tidak ditafsirkan sesuai dengan preferensi, imajinasi atau konsepsi pengamat yang membuatnya bias;
  • Kesediaan diubah oleh obiek apabila penyelidikan tentang objek diketahui hal-hal yang menyebabkan perlunya revisi dan rancang ulang terhadap konsep-konsep peneliti;
  • Kesediaan untuk keliru dalam melaksanakan metode coba ralat (trial and error) tanpa meninggalkan tujuan untuk mencapai kebenaran objektif; dan
  • Kesediaan untuk tabah melanjutkan penyelidikan meski permasalahan yang dihadapi sangat sulit untuk dipecahkan.
  1. Sikap terbuka adalah kesediaan untuk mem- pertimbangkan semua masukan yang relevan menyangkut permasalahan yang dikerjakan, kesediaan mendengar dan mengkaji gagasan dari pihak lain sekalipun kelihatannya berbeda atau bertentangan dengan kesimpulan yang diambil ilmuan sendiri, tidak menyalahkan pandangan apapun kecuali penalaran yang memadai.
  2. Kesediaan untuk menunda penilaian. la tidak memaksakan diri untuk memperoleh jawaban jika penyelidikan belum memperoleh bukti yang diperlukan. Bukti dimaksud dapat dihasilkan melalui pendekatan deduksi dapat pula digunakan dengan menggunakan pendekatan induksi melalui pengamatan atau observasi, wawancara dan angket ke objek teliti.
  3. Bersikap tentative artinya tidak bersikap dogmatis terhadap hipotesis maupun simpulan, tetap menyadari bahwa tingkat kepastian pembuktian selalu kurang dari seratus persen dan selalu memungkinkan timbulnya keraguan yang karenanya memungkinkan untuk meninjau kembali terhadap apa yang diyakininya benar.

Aktivitas Ilmiah

Para ilmuan pasti melakukan research (penelitian) ilmiah untuk mencapai apa yang disebutnya benar. Pekerjaan ilmuan yang terus menerus melakukan riset itu, disebut aktivitas ilmiah. Walter R. Borg and Meredith D. Gall, menyebutkan tujuh langkah yang ditempuh seorang peneliti dalam melakukan penelitiannya. Ketujuh langkah dimaksud adalah:

  • Recognition of the Problem (menyusun sesuatu yang disebut sebagai masalah);
  • Development of the Problem in Clear, Specific Terms melakukan perumusan masalah, atau mendefiniskan masalah ke dalam bentuk yang operasional);
  • Development of Hyphoteses (menyusun hypotesis / dugaan sementara);
  • Development of Tecnuques and Mesuring Instrument that will Provide objective date pertinent to the Hyphoteses (menetapkan teknik dan menyusun inslrumen penelitian);
  • Collection of Date (mengumpulkan data yang diperlukan);
  • Analysis of Date (melakukan analisis terhadap data yang terkumpul); dan
  • Drawing Conclusions Relative to the hyphoteses Based Upon the Date (mengambarkan kesimpulan yang berhasil dipecahkan dari masalah yang diangkat dengan metode yang digunakan).

Penelitian adalah suatu aktivitas penyelesaian sesuatu yang dianggap sebagai masalah. Penelitian bertujuan untuk menemukan jawaban dari persoalan yang signifikan melalui penerapan prosedur-prosedur ilmiah. Pendekatan ilmiah diterapkan untuk menyelidiki masalah-masalah yang dianggap salah dalam penelitian. Penelitian dengan demikian adalah suatu cara yang digunakan dalam menyelesaikan masalah tertentu dengan metode dan langkah tertentu pula.

Penelitian harus Mampu Dipertanggungjawabkan

Cara ini, secara metodis harus dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian merupakan suatu kegiatan yang diarahkan kepada pengembangan pengetahuan ilmiah tentang kejadian-kejadian yang menarik perhatian. Tujuannya adalah untuk menemukan prinsip-prinsip umum atau penafsiran tingkah laku yang dapat dipakai untuk menerapkan, meramalkan dan mengendalikan kejadian-kejadian dalam suatu lingkungan tertentu di mana subjek teliti melakukan penelitian terhadap objeknya.

Margono menyatakan bahwa penelitian adalah aktivitas ilmiah yang menggunakan metode berfikir tertentu yang digunakan untuk memecahkan atau menjawab suatu masalah ilmiah. Kegiatan ini dilakukan karena dorongan atau rasa ingin tahu manusia, sehingga yang semula belum diketahui dan dipahami, melalui aktivitas ini, pada akhirnya dapat diketahui dan dipa-hami. Jadi, penelitian adalah aktivitas dan metode berfikir yang dilakukan secara sengaja dan bertujuan.

Saefudin Azwar menjelaskan bahwa penelitian memiliki karakteristik kerja ilmiah. Karakteristik dimaksud adalah: 1) Memiliki tujuan, (basil penelitian harus memberikan penjelasan akan fenomena yang menjadi pernyataan penelitian dan harus melandasi keputusan dan tindakan pemecahan permasalahan);

  • Sistematik, (langkah-langkah yang ditempuh sejak dari persiapan, pelaksanaan, sampai pada pelaporan penelitian harus terencana baik dan mengikuti metodologi yang benar);
  • Terkendali, (penelitian harus dapat menentukan fenomena- fenomena yang akan diamatinya dan memisahkan dari fenomena yang lain dalam batas-batas tertentu); 4) Objektif, hasil penelitian tidak boleh tercemar oleh pandangar subjektif peneliti ataupun oleh tekanan dari luar); 5) Tahan Uji, (penyimpulan penelitian harus merupakan hasil dari telaah yang didasari oleh teori yang solid, sehingga perefleksian penelitian di yang masa akan da tang, akan sampai kesimpulan yang serupa.

Aspek-aspek Penelitian

Dalam melaksanakan research, para ilmuan mempunyai dua aspek, kedua aspek itu adalah aspek individual dan aspek sosial.

  1. Aspek individual mengacu kepada ilmu sebagai aktivitas ilmuan. Seseorang dianggap telah menjadi ilmuan karena ia telah melewati pengalaman, pelatihan dan kesempatan dalam mengembangkan kemampuan dan keterampilan diri yang mengkondisikan caranya melakukan riset ilmiah dan menjadi spesialis ilmiah.
  2. Aspek sosial mengacu kepada ilmu sebagai aktivitas suatu komunitas ilmiah dan kumpulan para ilmuan. Komunitas ini berinteraksi dengan intuisi-intuisi lain dalam masyarakat. Selera dan minat masyarakat pada gilirannya mempengaruhi kuantitas, kualitas dan jenis-jenis kegiatan ilmiah yang dilakukan komunitas ilmuan. Komunitas ini kemudian berperan dalam menentukan teori-teori lama yang mungkin masih dapat dipertahankan, dan teori-teori baru mana yang dapat diterima dan dapat ditolak. Prof. Cecep Sumarna –bersambung

Komentar
Memuat...