Take a fresh look at your lifestyle.

Mengenal Agus Salim | Tokoh Politik Islam Indonesia Part 6

0 80

Mengenal Agus Salim. Mashud al Haq [pembela kebenaran]. Nama ini lebih popular dengan sebutan Agus Salim. Pejuang Muslim Indonesia yang hari ini, namanya diabadikan di lapangan sepak bola Padang. Ia adalah pemikir politik Islam genuine dan memperoleh pendidikan modern di sekolah-sekolah Hindia Belanda.

Agus Salim adalah tokoh Islam dan politisi Muslim Indonesia yang juga cukup handal.  Ia dapat disebut sebagai guru bagi M. Natsir dan M. Roem. Di usia senja, ia digelari sosok tua besar [the grand old man]. Mengapa? Karena, meski usianya sudah tua, ia tetap pemberani dan lantang dalam menyuarakan kebenaran. Ia berhadapan bukan saja dengan pihak company Belanda, tetapi, juga dengan antek-antek Belanda di Indonesia.

Masa Kecil Agus Salim

Sosok berjanggut ini, lahir pada 4 Nopember 1988 di Padang. Meninggal di Jakarta pada 4 Nopember 1954. Saat meninggal, ia meninggalkan delapan orang anak. Ia pejuang kemerdekaan Indonesia. Berkat jasa-jasanya dalam memerdekan dan mempertahankan kemerdekaan  Indonesia, Soekarno menetapkannya  sebagai pahlawan Nasional, tahun 1961.

Agus Salim adalah Anak seorang Jaksa Kepala pada saat Indonesia masih dikuasai Hindia Belanda. Lahir dari seorang ayah bernama Soetan Salim dan ibu bernama Siti Zainab. Karena ayahnya pejabat pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia, Agus Salim memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah Belanda.

Mengawali pendidikannya di sekolah khusus anak-anak Eropa bernama Europeesche Lagere School [ELS]. Setelah itu, ia meneruskan ke Hoogere Burgerschool [HBS] di Batavia. Ia menjadi lulusan terbaik di sekolah ini dan menjadi tambahan cikal bakal masyarakat Padang yang dikenal Intelektualis di jamannya.

Kecerdasannya telah membuat dia akhirnya diangkat pemerintahan Hindia Belanda sebagai Konsulat Belanda di Jeddah. Di Jeddah, selain bekerja di pemerintahan Belanda, dia juga belajar agama Islam. Gurunya bernama Syeikh Ahmad Khatib. Pamannya sendiri yang lama mukim di Mekkah dan menjadi guru agama Islam di Jeddah. Ia bukan hanya menjadi guru untuk orang Indonesia yang ada di sana, tetapi, juga guru bagi mereka yang berasal dari Timur Tengah. Dari guru inilah, ia mengenal Islam secara kaffah.

Jurnalisme dan Karya Ilmiah Agus Salim

Agus Salim menekuni dunia Jurnalistik. Ia dengan teman-temannya menerbitkan Harian Neratja. Ia memulai kariernya di dunia Jurnalistik sebagai Redaktur II dan tidak lama kemudian diangkat menjadi Ketua Redaksi. Suami dari Zaenatun Nahar ini, lama barkarier di dunia Jurnalistik. Berkat keuletannya dalam dunia jurnalistik, ia menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe. Lama berkarier di sini sampai kemudian dia mendirikan Jurnal Fadjar Asia. Kegiatan lain selain sebagai jurnalistik, ia bergabung dan menjadi pimpinan di Sarekat Islam setelah H.O.S Tjokroaminoto tidak lagi menjadi pemimpin organisasi pertama masyarakat Muslim Nusantara.

Sebagai seorang jurnalis, tentu ia memiliki banyak karya. Di antara karyanya dimaksud adalah: 1). Riwayat Kedatangan Islam di Indonesia; 2). Dari Hal Ilmu Qur’an; 3). Muhammad voor en na de Hijrah; 4). Gods Laatste Boodschap, dan 5). Jejak Langkah Haji Agus Salim (Kumpulan karya Agus Salim yang dikompilasi koleganya, pada bulan Oktober tahun 1954. Karena wajar jika pada tahun 1952, ia didaulat menjadi Ketua Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia.

Aktivitas Politik

Peran Agus Salim dalam kancah politik Indonesia terlihat dari berbagai aktivitas politiknya. Beberapa kedudukan penting pernah ia tekuni seperti: 1). Anggota Volksrad [1921-1924], 2). Anggota Panitia 9 BPUPKI yang tugasnya mempersiapkan UUD 1945; 3). Menteri Muda Luar Negeri pada saat Kabinet Indonesia dipimpin Syahrir II dan III [1946-1947], 4). Menteri Luar Negeri pada saat Kabinet Indonesia dipimpin Amir Syarifudin, dan 5). Menteri Luar Negeri saat dipimpin Kabinet Amir Syarifudin [1947], jabatan yang sama saat dipimpin M. Hatta [1948-1949] dan Presidentil [1950].

Tahanan politik Belanda yang dipenjara bersama dengan Soekarno pada tahun 1949 ini, adalah bintang politik Indonesia di akhir 1940-an dan di awal tahun 1950-an. Nex Agus Salim dan Politik Islam. By. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar