Mengenal Bahasa Ilmiah | Filsafat Bahasa Part – 3

Mengenal Bahasa Ilmiah
0 4.091

Bahasa ilmiah adalah bahasa buatan. Bukan bahasa alami. Penyebutan bahasa ilmiah sebagai bahasa buatan didorong suatu rumusan bahwa bahasa alami cenderung sewenang-wenang dan sekehendak hati. Sedangkan bahasa ilmiah menuntut adanya kaidah tertentu dan logika tertentu. Bahasa ini cenderung lebih konseptual dibandingkan dengan bahasa alami.

Jika bahasa alami memiliki kecenderungan spontan, bersifat kebiasaan, intuitif (bisikan hati) dan pernyataannya bersifat langsung, maka, bahasa buatan, terdiri atas istilah dan konsep yang merupakan satu kesatuan yang bersifat relatif. Ia mendorong dirinya untuk berpijak pada kekuatan logika. Karena itu, bahasa ilmiah cenderung: 1). Didasarkan atas pemikiran; 2). Tidak sekehendak hati tetapi menggunakan dimensi metodis; 3). Menuntut kemungkinan terjadinya dialog/ diskusi (logik dan memiliki arti yang mendalam), dan 4). Sipatnya berbentuk pernyataan yang tidak langsung.

Sarana Berpikir Ilmiah

Akal atau rasio sebagai sarana sekaligus sebagai alat berfikir, menjadi demikian penting dalam rumus bahasa ilmiah, karena bahasa ini “diciptakan” para ahli di bidangnya masing-masing. Bahasa ilmiah ini, biasanya juga menggunakan istilah-istilah atau sintaksis dengan lambang-lambang tertentu untuk mewakili pengertian tertentu pula.

Karena itu, bahasa ilmiah cenderung deklaratif — dapat dinilai benar salah- affirmatif dan informatif sekaligus sekaligus netral positif yang objektif (kalimat berita). Bahasa ini, cenderung mengabaikan dimensi justifikasi dan mengabaikan sama sekali kecenderungan-kecenderungan subjektif.

Kata atau istilah yang menjadi simbol dalam bahasa ilmiah dapat mengilustrasi benda, kejadian dan proses tertentu atau hubungan tertentu. Di sinilah dibutuhkan sintaksis, yakni butuh cara untuk menyusun kata-kata atau istilah tertentu dalam suatu kalimat. Karena itu pula, dalam bahasa ilmiah, makna terkandung dalam suatu kata tidak boleh lebih dari satu. Ia harus denotatif dan tidak boleh konotatif.

Secara garis besar, sintaksis dapat dibagi menjadi dua. Yakni kalimat berita dan kalimat bukan berita yang bentuknya sangat aktif. Kalimat bukan berita dapat dibagi menjadi: Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat seru dan kalimat harapan. Dengan demikian, kalimat yang dibutuhkan dalam bahasa ilmiah, harus di luar kalimat bukan berita.

Bentuk Komunikasi Ilmiah

Komunikasi ilmiah, dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, Komunikasi melalui aksara dan hurup yang terangkai menjadi kata dengan makna tertentu dalam bentuk tulisan. Perlu diingat kata yang tersusun harus objektif, netral, denotatif dan cenderung mengabaikan perasaan. Pegiatnya sering disebut sebagai writer dan atau riseter. Kedua. Komunikasi melalui rangkaian aksara dan hurup yang terangkai dalam bentuk kata dengan makna tertentu, yang dilakukan dengan cara oral. Pegiatnya sering disebut seminaris atau trainer.

Menulis, dengan demikian adalah aktivitas komunikasi (an act communication) yang secara umum sering disebut writer. Kegiatan ini, sama dengan kegiatan ceramah. Sama dengan kegiatan seminar. Sama dengan kegiatan diskusi. Bahkan sama dengan kegiatan ngobrol ngaler ngidul hanya saja dibatasi ruang geraknya pada wilayah ilmiah dengan standar yang juga ilmiah.

Komunikasi ilmiah dengan demikian adalah transformasi ide, pemikiran, gagasan dan ilmu pengetahuan dari suatu subjek terhadap objek, atau dari satu subjek kepada suatu subjek lewat bahasa; tulisan-oral dalam hurup/aksara, disertai dengan argumentasi dan penalaran yang bersipat ilmiah.

Setiap komunikasi, pasti terjalin dan mengandung pesan yang hendak disampaikan. Itu semua dapat dilakukan melalui tulisan dan komunikasi lisan. Gagasan, itulah inti dari pesan yang hendak disampaikan kepada pihak lain. Dengan kata lain, komunikasi ilmiah baik melalui tulisan maupun lisan adalah kegiatan menyampaikan gagasan, pikiran dan ide besar tentang sesuatu yang menurut ukuran penulis atau pembicara layak diketahui pihak lain karena mengandung pesan dan makna ilmiah. Ada manfaat. Ada nilai guna dan orang yang mendengar atau membaca tulisan merasa perlu untuk memperolehnya. Jadi kegiatan menulis dengan kegiatan komunikasi oral berarti aktivitas rutin manusia. Jadi sepanjang dia suka berkomunikasi, rnaka seharusnya ia juga memiliki kemampuan dan kemauan untuk menulis dan melakukan aktivitas ilmiah lainnya.

Komunikasi ilmiah menuntut kekhususan dalam bentuk struktur berpikir dan dibenarkan menurut kaidah-kaidah keilmuwan. Ciri yang melekat dalam komunikasi ilmiah adalah: Sistematis (dapat dirumuskan dan berlaku setahap demi setahap), empiris (didasarkan atas fakta-fakta yang diperoleh melalui pengamatan), objektif (sejauh dapat diperoleh dimensi vehicle penulis) dan jauh dari sikap justifikasi terhadap apa yang dianggapnya benar. Nilai rasa dan perasaan penulis terhadap objek yang ditulisnya, sekuat mungkin harus dihindari. Inilah proses objektif dari setiap fakta yang tersedia. **Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...