Mengenal Bimbingan Karir Bagi Peserta Didik

0 185

Bimbingan karir merupakan salah satu jenis bimbingan yang berusaha membantu individu dalam memecahkan masalah karir untuk memperoleh penyesuaian diri yang sebaik-baiknya pada masa yang akan datang. Untuk memperjelas tentang apa itu bimbingan karir, dalam sub bab ini akan dibahas tentang teori bimbingan karir, pengertian bimbingan karir, tujuan bimbingan karir, perinsip-prinsip bimbingan karir dan  jenis-jenis layanan, kegiatan bimbingan karir dan indikator bimbingan karir.

Pada awal munculnya teori bimbingan dan konseling yang berawal dari pelaksanaan bimbingan jabatan atau vocational guidance. banyak tokoh yang berusaha untuk menganalisis Bimbingan Jabatan dari beberapa sudut pandang yang berbeda. Beberapa tokoh itu antara lain Bordin, Happock, Donald E. Super, dan Anne Roe ( 1943, 1957, 1957 dan 1957), telah memaparkan teori tentang pemilihan karir atau jabatan. Namun, dari beberapa tokoh yang disebut diatas ditemukan pada beberapa teori pilihan pekerjaan yang dikemukakan tampaknya memiliki kekurangan-kekurangan. Dalam teorinya, Donald E. Super menjelaskan bahwa dalam kematangan bekerja dan konsep diri (self-concept) merupakan dua proses perkembangan yang berhubungan dan merupakan tulang punggung teori yang dikemukakan (Santrock, 2003:482). Pada teori tersebut Donald E. Super masih menjelaskan masalah perkembangan atau pemilihan jabatan secara umum.

Lebih lanjut Santrock, pada teori yang dikembangkan oleh Bordin, Happock, dan Anne Roe, masih juga terlihat kekurangannya yaitu pada teori mereka hanya dikembangkan secara sempit dan hanya menekankan salah satu aspek saja. Misalnya, menekankan pada aspek pemusatan pada konsep diri (self-concept-centered), pemusatan kepada kebutuhan (needed- centered), atau berorientasi pada etiologi.

Dari beberapa tokoh yang mengembangkan teori pilihan jabatan diatas, muncul John L. Holland dengan teori yang mengajukan teori dengan pendekatan yang lebih komprehensif dengan memadukan ilmu-ilmu yang ada. Untuk itu, dalam tulisan ini penulis akan lebih menjelaskan teori pilihan jabatan yang dikembangkan oleh John L. Holland.

Pada teori yang dikembangkan oleh John L. Holland menjelaskan bahwa suatu pemilihan pekerjaan atau jurusan merupakan hasil dari interaksi antara factor hereditas (keturunan) dengan segala pengaruh budaya, teman bergaul, orang tua, orang dewasa yang dianggap memiliki peranan yang penting. Selain itu John L. Holland juga merumuskan tipe-tipe (golongan) kepribadian dalam pemilihan pekerjaan berdasarkan atas inventori kepribadian yang disusun atas dasar minat.

Kemudian, setiap tipe-tipe kepribadian itu dijabarkan ke dalam suatu model teori yang disebut model orientasi (the model orientation). Model orientasi ini merupakan suatu rumpun perilaku perilaku penyesuaian yang khas. Setiap orang memiliki urutan orientasi yang berbeda-beda, dan hal inilah yang menyebabkan mengapa setiap orang itu mempunyai corak hidup yang berbeda-beda (Santrock, 2003:484).

Urutan orientasi yang pertama terhadap suasana lingkungan pekerjaan tertentu merupakan corak hidup yang utama dan pertama, urutan model orientasi kedua terhadap lingkungan kerja yang lainnya dan merupakan corak hidup yang kedua bagi seseorang untuk selanjutnya. Penempatan urutan corak hidup itu sangat bergantung dari tingkat kecerdasan serta penilainnya terhadap diri sendiri. Makin jelas penempatan urutan corak hidupnya maka akan semakin menghasilkan pola pilihan yang tepat bagi seseorang. Namun perlu digaris bawahi, jika model orientasi John L. Holland ini mengajukan model orientasi berdasarkan budaya Amerika.

Adapun model orientasi yang dijabarkan oleh John L. Holland (2003:484) adalah sebagai berikut: Realistis, Intelektual, Sosial, Konvensional, Usaha dan Artistik.

Hasil penelitian Hayadin (2005:37) dalam bukunya Peta Masa Depanku yang dilakukan pada murid SMA bahwa, kebanyakan murid SMA tidak memiliki kepekaan terhadap profesi dan karir. Mereka tidak memiliki tujuan yang jelas. Kebanyakan siswa-siswa kita bersekolah hanya mengikuti irama sossial yang sudah terbangun menjadi budaya. Mereka bersekolah karena semua orang bersekolah. Mereka akan kesepian jika tidak bersekolah. Siswa siswi tidak memiliki perencanaan karir yang jelas sehingga cenderung unttuk melewati masa pendidikan sekolah sebagai “acara rutin” tanpa berpikir banyak tentang hubungan antara belajar, jabatan, gaya hidup dan keberhasilan hidup (Wingkel, 2007:87).

Setiap awal tahun ajaran, banyak siswa SMA yang menghadapi masalah dalam memilih jurusan. Sebagian siswa dapat merencanakan atau menetukan sendiri jurusan atau program studi apa yang akan diambilnya. Namun di samping itu, banyak juga siswa yang tidak dapat membuat rencananya secara realistis. Mereka membuat rencana berdasarkan kemauan dan keinginan, tidak menyesuaikan dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya (Prayitno & Amti, 2004:276).

Problema yang tak kalah penting dalam menentukan karir yang dialami remaja yaitu, remaja sering memandang eksplorasi karir dan pengambilan keputusan dengan disertai kebimbangan ketidakpastian dan stress. Banyak remaja yang tidak cukup banyak mengeksplorasi pilihan karir mereka sendiri dan juga menerima terlalu sedikit bimbingan karir dari pembimbing di sekolah mereka (Santrock, 2003:484).

Keputusan tentang pilihan karir dipilih bukan berdasarkan pertimbangan yang matang dan hanya mengikuti pilihan orang lain. Padahal setiap keputusan yang diambil akan disusul oleh keputusan-keputusan lainnya yang berkaitan (Rahmat, 2004:70). Dalam arti keputusan yang salah dalam memilih jurusan akan diikuti keputusan-keputusan lain yang juga tidak sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang dimiliki. Sehingga, dalam mengeksplorasi karirnya sendiri remaja merasa tertekan dan tress dalam menjalaninya. Keputusan memilih jurusan dan merencanakan karir siswa-siswi kita bukan berdasarkan perencanaan yang rasional melainkan lebih karena ikut-ikutan teman sebaya, pilihan dari orang tua dan bukan berdasarkan kemampuan diri dan perencanaan yang matang. Siswa tidak memiliki onformasi yang cukup  dalam menentukan jurusan dan karir yang ingin mereka geluti.

Hal ini berakibat jurusan yang mereka ambil ketika penjurusan dan ketika masuk kuliah tidak sesuai dengan kompetensi dan minat siswa yang berdampak siswa sulit untuk mencapai prestasi yang maksimal dan tidak serius menjalaninya sehingga masuk ke lingkungan kerja dengan keahlian dan pengetahuan yang pas-pasan. Dengan demikian sulit untuk diterima di pasar kerja dan menambah jumlah pengangguran terpelajar di Indonesia.

Kebutuhan Pendidikan Karir Sejak Dini

Secara formal pendidikan karir belum dikenal dalam dunia pendidikan sekolah di Indonesia (Winkel, 2004:669). Berdasarkan survey yang dilakukan oleh Hayadin (2005:40) mayoritas guru BP tidak melaksanakan tugasnya dengan optimal. Guru BP tidak pernah melayani siswa-siswi sekolah untuk proaktif mempersiapkan karir dan profesi masa depannya (Hayadin, 2005:7). Dan juga tidak pernah melakukan bimbingan dan menyadarkan pentingnya percaya pada kemampuan diri dalam meraih karir yang diinginkan agar iswa dapat menentukan jalan yang sesuai dengan tuntutan karir yang dicita-citakan.

Padahal bimbingan karir ini begitu penting mengingat tidak semua siswa yang mengetahui tentang dunia pekerjaan yang akan dia geluti kelak. Siswa juga tidak mengetahui kompetensi apa yang dibutuhkan untuk jabatan yang dia inginkan. Dan tidak yakin akan kemampuannya untuk meraih pekerjaan yang ada. Hal ini diakibatkan karena ada kesalah pahaman bimbingan dan konseling yang ada di sekolah. Yang memberikan inforrmasi tentang jabatan dan pekerjaan jika ada siswa yang datang bertanya kepada konselor sekolah atau guru BP saja. Konselor hanya menunggu klien datang dan mengungkapkan masalahnya saja (Prayitno, 2004: 124). Bimbingan karir diberikan hanya kepada klien yang datang saja padahal bimbingan ini diperlukan oleh segenap siswa yang ada di sekolah.

Menurut Wingkel (2007:78) bimbingan karir harus dituangkan dalam suatu program yang melibatkan semua siswa. Untuk itu pendekatan kelompok merupakan strategi yang dianggap paling sesuai, bahkan dipandang mutlak perlu. Sedangkan model bimbingan karir yang ada di sekolah tidak menggunakan pendekatan kelompok melainkan hanya jika ada klien yang datang saja.

Dengan demikian kebutuhan pendidikan karir sejak dini perlu diberikan dari awal untuk memberikan gambaran kepada siswa pekerjaan yang akan dia geluti kelak. Dan perkiraan yang tinggi peserta didik untuk meraih pekerjaan yang diinginkan harus ditanamkan karena menyangkut dengan identitas remaja.


wiarnoPeulis Adalah Konselor pendidikan di SMP Binaul Ummah Kuningan dan Konselor pendidikan di SMA Binaul Ummah Kuningan

Wiarno, M.Pd

Komentar
Memuat...