Mengenal Diri Sendiri| Belajar Menjadi Kekasih Allah Part-5

0 281

Umumnya manusia, selalu berpikir pada sesuatu yang sangat jauh dari pandangannya. Jarang yang mau dan mampu memikirkan apalagi bertindak untuk dan atas nama diri sendiri. Memikirkan sesuatu yang dekat atau menyatu secara permanen dengan diri sendiri seringkali terabaikan. Pikiran selalu tertuju pada sesuatu yang bahkan sangat jauh dari kita. Termasuk misalnya, soal mengenali sesuatu. Sebut saja ketika harus mengenal siapa sesungguhnya kita.

Tuhan yang sesungguhnya, tidak mungkin mampu dikenali, jika manusia tidak mampu mengenal dirinya. Wajar jika dalam literasi masyakat shufi dikenal istilah: “Man arafa nafsah, faqad arafa rabbah. Barang siapa mengenal dirinya, maka, ia akan mengenal Tuhannya. Tidak ditemukan suatu rumusan yang menyatakan bahwa, barang siapa mengenal Tuhannya, maka, ia akan mengenal dirinya. Karena itu, titik berangkat segenap perilaku manusia, sesungguhnya berasal dari tempat yang sangat dekat. Yakni diri kita sendiri.

Pertanyaannya, mengapa demikian? Jawabannya ternyata terletak pada dua ayat al Qur’an, yakni: Surat al Qaff [50]: 16, Allah menyatakan: “… Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Di surat al Waqi’ah [56]: 85,  Allah juga menyatakan: “… Dan Kami lebih dekat kepadanya dari kamu, tetapi kamu tidak melihat….

Terhadap dua ayat tadi, para mufassir banyak melakukan ragam pemahaman. Misalnya, kata nahnu [Kami] ada yang menyebutnya dengan Malaikat. Dia adalah makhluk Allah yang selalu setia pada perintah Tuhan. Ia mencatat semua perilaku manusia [baik dan buruk], tanpa lengah sedikitpun. Tetapi, tidak sedikit yang juga menafsirkan bahwa kata dimaksud, bukan Malaikat, tetapi Tuhan itu sendiri yang “menyatu” dengan wujud manusia secara permanen.

Cara mengenal Diri

Untuk mengenal diri kita sendiri, coba sekali-kali, kita berada dalam ketelanjangan. Bila perlu telanjang bulat tanpa sehelaipun pakaian. Pakaian yang biasanya membalut seluruh dimensi yang mungkin menjadi kelemahan kita. Selama hidup, misalnya kita tidak pernah membuka pakaian dimaksud. Apa mungkin misalnya kita mengetahui, bagaimana sesungguhnya tubuh kita.

Di letak ini, kita dapat memahami mengapa Allah melalui al Qur’an surat Al A’raf [7]: 26-27 menyatakan:

“Hai anak Adam[umat manusia], sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa[selalu bertakwa kepada Allah] itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.”

Melalui ayat di atas, kita tahu bahwa, kadang yang membuat diri kita tidak pernah menjadi kita itu adalah bungkusan kita. Padahal bungkusan terbaik adalah sikap ketakwaan [rasa taku] kita karena Malaikat Rakib dan Atid akan selalu mencatat semua dimensi kita. Ia tidak sedikitpun lengah untuk mencatat ragam dimensi kita.

Nalar ini mengilustrasi bahwa, mengenal diri sendiri berarti ia mengenal kelemahannya. Karena ia mengenal dan sadar atas segenap kelemahan yang dimilikinya, maka, tidak akan ada waktu yang dia gunakan kecuali bagaimana ia memperbaiki segenap aktivitasnya. Diperintah atau tidak! Mereka yang demikian inilah, yang dalam bacaan tertentu dapat disebut sebagai makhluk yang sedang berusaha untuk dicintai Tuhannya. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.