Mengenal Filsafat Positivisme

Mengenal Filsafat Positivisme
0 2.094

Mengenal Filsafat Positivisme – Kajian positivisme dalam di sini lebih mengarah pada sebuah karakter yang mengideologis. Basis ini biasanya berkembang setahap demi setahap yang berujung pada lahirnya sebuah ideologi. Ketika positivisme menjadi sebuah ideologi, maka ia sama seperti ideology lainnya, mengutip David Mc. Lelland selalu tertutup.

Sipat ketertutupan ideology bukan hanya karena ia menjadi sebuah refleksi, tetapi ia menjadi agen yang aktif membentuk hasrat orang-orang yang berada dalam pengaruhnya. Dalam ideology, manusia sama sekali tidak mencerminkan hubungan antara dirinya dan kondisi keadaan dirinya, tetapi mencerminkan cara  mereka melanggengkan hubungan antara dirinya dan kondisi keberadaannya. Hal ini mengandaikan adanya sebuah hunbungan yang nyata dan hubungan “imajinasi” yang dialami. Positivisme dalam pengertian yang mengideologi inilah yang menjadi kajian peneliti dalam Disertasi ini.

Tokoh Utama Positivisme

Kajian terhadap positivisme, mengacu pada persoalan pokok,  yakni pada perkembangan akal budi manusia dan pada teori pengetahuan [epistemologi]. Positivisme dalam dua soal ini, dapat diidentikkan dengan pikiran August Comte [1798-1857], yang menyebut perkembangan manusia dari mistis/teologis ke tahap metafisik dan berakhir di tepian positif. Di tahap yang terakhir ini, manusia dianggap Comte sebagai puncak perkembangan dan dalam kedudukan yang paling tinggi.

 August Comte beranggapan bahwa, masing-masing manusia sadar, jika ia melihat ke belakang ada sejarahnya sendiri. Ia pasti “berjalan” dari seorang teolog pada masa kanak-kanaknya, ke metafisikawan pada masa remaja dan seorang fisikawan pada masa dewasanya. Manusia selalu memulai pemikirannya dengan menganggap fenomena dari segala jenis sebagai produk dari aksi ada supernatural berkelanjutan. Dalam tatanan ini alam semesta dianggap manusia sebagai tatanan mitos spiritual. Hal ini, tampaknya di korelasikan pada usia kemanusiaan dalam maknanya yang luas dan dibentuk oleh sejarah kemanusiaan.

Di akal budi manusia yang mistis/teologis alam dan berbagai dinamika yang terjadi padanya dianggap sebagai sesuatu yang misteri. Kejadian dalam alam selalu dihubungkan dengan aspek-aspek mistik dan manusia tidak menghayati dirinya sebagai makhluk luhur yang rasional dan berkedudukan tinggi di atas makhluk lain. Manusia selalu diliputi oleh misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh dirinya. Oleh karena itu, di perkembangan ini, manusia dianggap Comte bermental bayi. Di tataran ini, kepercayaan manusia sanagt tunduk pada kakuatan roh halus.

August Comte menyatakan bahwa di fase mitos spiritual, juga memiliki syarat perkembangan. Paradigma mitos spiritual telah berlangsung dari tahap fetiyisme (pemujaan yang mutlak dan mendalam terhadap benda-benda), kemudian berkembang ke tahap politeisme (pendidikan dari kelambanan dan ketumpulan fetiyisme) dan kemudian baru berkembang ke tahap terakhir, yakni monoteisme yang menjadi perantara bagi lahirnya keadaan teologis dan metafisis. Monoteis telah menyatukan bahwa dewa-dewa yang banyak seperti ada pada konsep polities kepada dewa yang satu.

Di akal budi manusia yang metafisik, manusia mulai disandarkan akan posisinyasebagai makhluk yang berkedudukan tinggi dalam hubungannya dengan makhluk lain. Manusia mulai rasional dan ia mulai melakukan abstraksi-abstraksi dan konsepsi-konsepsi metafisik. Manusia berusaha keras mencari hakekat sesuatu secara metafisisk. Namun demikian, ia belum dapat menyingkirkan kakuatan metafisisk dibalik fenomena yang tampak. Oleh karena itu, Comte menyebut akal budi diwilayah ini dengan sebutan transisi, yakni suatu era yang menjadi penyambung terhadap perkembangan manusia pada suatu konsep yang ia sebut era positivistik.

Di tataran fisikawan, manusia dianggap Comte sudah harus berani  menolak pandangan bahwa alam adalah ciptaan ketuhanan dari Tuhan Allah. Konsepsi-konsepsi manusia mulai bergerak menjauh dari teologi menuju fisika melalui media a yang dihaluskan. Pengaruh supranatural Tuhan, dewa-dewa dan roh-roh harus digantikan oleh hakiki mesterius, sebab-sebab dan subtansi. Manusia positivis harus meningalkan dunia fiksi –seperti ada pada era ilmu pengetahuan. Sebuah di mana kenyataan dan pengetahuan manusia harus dapat diukur oleh potensi-potensi dasar manusia itu sendiri.

Di akal budi manusia yang positivistic rumuskan bahwa akal budi manusia telah berada dalam tataran yang sempurna. Gejala alam tidak lagi dijelaskan secara a priori (spekulasi), melainkan ia dijelaskan melalui observasi, eksperimen dengan komparasi yang ketat dan teliti. Indikator keberhasilan saintis dalam merumuskan konsep ilmu ini, secara ril u ungdiperlihatkan dengan usaha yang  sungguh-sungguh dari para saintis sesudah Covernicus, Jhonanes Kepler dan Galileo Galilai.

Itu harus benar-benar nyata dan pasti, berguna, jelas dan langsung dapat diamati dan dibenarkan oleh setiap orang yang memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dan menilainya. Sikap yang demikian oleh Comte dilawankan dengan sipat khayal, meragukan, ilusi dan kabur. Konsekwensinya, fakta-fakta yang bukan fakta positif harus dianggap liar dan karenanya harus ditolak. Termasuk soal eksitensi Tuhan.

Basis Paradigma Positivisme

Ilmu pengetahuan positif dengan demikian, adalah ilmu pengetahuan yang dasarnya dirujuk pada konsep rasionalisme Descartes dan ilmu alam yang berbasis pada paradigma Galileogalilei, Isac Newton dan Francis Bacon. Mereka dianggap Comte sebagai nabi-nabi, benar-benar sebagai pendiri-pendiri bersama dirinya .sendiri, tentu saja- dari metode positivisme yang ekselen. Sejak zaman mereka dan sesudahnya, hanya pikiran positif  yang akan mengembangkan pikiran yang valid. Karena pikiran itu sendiri dihadiahkan dengan kekuatan koherensi logis. Pola pikir ini menurut Comte mampu menggantikan apa yang dulunya dianggap superioritas teolog dan metafisikawan.

Rumusan teori prngetahuan di atas menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan positif adlah: Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat objektif baik dari sisi subjek maupun objek. Pengetahuan yang objektif dari sisi subjek adalah, pengetahuan yang kehadirannya diperoleh dengan sikap subjek yang bebas dari unsur-unsur sentiment pribadi, kepercayaan agama, penilaian etik dan berbagai kepentingan [ pribadi/komutitas]. Sedangkan objektif dari sisi objek adalah, pengetahuan yang hanya dapat diperoleh melalui fakultas-fakultas manusia. Oleh karena itu, pada dimensi objek yang tidak dapat diukur dan diobservasi seperti: roh atau jiwa, tidak dapat ditolelir, atau harus ditolak.

Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang  bersifat berulang-ulang. Dengan demikian, kejadian  dalam alam yang hanya bersifat unik dan kasuistik tidak dapat disebut sebagai pengetahuan. Sebab jika kasus unik dianggap sebagai pengetahuan, maka ilmuan tidak mungkin mampu melakukan generalisasi. Padahal ujung akhir dari ilmuan atas berbagai fenomena alam itu, adalah keharusan untuk melakukan generalisasi. Ketiga, ilmu pengetahuan harus selalu menyoroti setiap fenomena atau kejadian alam yang saling ketergantungan satu sama lain. Alam menurut Comte memiliki dan sekaligus membentuk suatu sistem yang bersifat mekanik.

Asumsi-asumsi Comte sebagaimana dijelaskan di atas, dilandasasi oleh dimensi ontologism yang dianutnya yakni sikap Comte yang determinan pada paham naturalistic [segenap gejala dan kejadian dalam alam, tanpa kecuali, tunduk pada hukum alam ]. Hukum ini dianggap Comte berjalan secara mekanik, layaknya sebuah jarum jam dinding yang setia berputar tanpa henti. Alam dianggapnya sebagai realitas puncak (peack reality). Alam dianggap hidup, tetapi tidak memiliki kesadaran yang menjadi hukum dasar alam itu sendiri. Manusia sendiri digambarkan bagai suatu binatang di dunia alamiah; tumbuh dari alam, makan dari alam dan tergantung pada alam .Jika pun manusia dianggap memiliki pencipta, maka pencipta mereka tidak lebih dari alam itu sendiri yang proses penciptaannya itu sendiri berjalan dalam prinsip kausalitas yang berkelanjutan.

Makna Positivisme

Sudut pandang di atas menunjukan bahwa apa yang dimaksud dengan positivisme adalah sebuah paham yang menganut logika factual, dapat dipikirkan secara rasional dan mengharuskan adanya pervikasi dan pengukuran. Positivime mengharuskan berlakunya kuantifikasi, sebab alur logika ini mengharuskan adanya pengukuran.

Asumsi-asumsi yang tidak memungkinkan diberlakukannya logika positivistik tadi, seperti eksistensi Tuhan, yang adanya di luar kategori historis manusia, dan nilai-nilai yang tidak factual harus ditolak karena akan kesulitan untuk membuktikan kebenarannya. Penalaran kebenaran berdasarkan prinsip positivistic tadi, memang hanya akan mengakui kebenaran pada sesuatu yang fisik, rasional dan keterukuran. Mereka secara umum mengakui bahwa prinsip umum positivisme telah melakukan pemisahaan terhadap soal etika dan agama dengan politik dalam beberapa hal dengan persoalan filsafat dan pengetahuan. Pemisahaan ini telah menyaratkan berlakunya prinsip ilmu pengetahuan yang bebas nilai.

Paradigma positivisme, dengan demikian berarti menolak metafisika dan teologi, atau setidaknya menempatkan dua soal tadi sebagai sesuatu yang primtif. Paham ini menganggap bahwa setiap fakta di dunia ini mempunyai hubungan satu sama lain [kausalitas] dari suatu sistem yang satu. Dunia dianggap sebagai sistem rasional dari kumpulan fakta dan kejadian .Berbagai kejadian mengikuti hukum tertntu yang berlaku secara universal. Oleh karena itu, Ilmuan dapat melakukan prediksi.

Gambaran di atas menunjukan bahwa apa yang dimaksud dengan positivisme adalah: sebuah paham kefilsafatan yang memandang pengalaman [epistemologi] pengetahuan.

Hal lain yang dapat disusun berdasarkan pengertian positivisme tadi, maka apa yang dimaksudnya adalah gabungan pemikiran empiris-rasional plus keterukuran. Dan karena itu pula, maka tokoh yang terlibat dalam pemikiran tadi, –meski secara definitive dapat hanya disandingkan kepada August Comte, sebagai pendiri–. Tetapi jika mengacu pada pikiran Thomas S. Kuhn, bahwa sesungguhnya setiap ilmuan pasti memberikan unsur sumbangan pada satu penemuan termasuk dalam soal-soal pemikiran.

Oleh karena itu, jika ini yang dijadikan rumusan dan teori tentang positivisme tadi yang dijadikan patokan. Maka kajian terhadap positivisme, secara historis adalah mereka yang berada di pemikiran empiris-nasional. Tokoh yang berada di dua aliran ini, secara teoretis tidak dapat dipisahkan sebagai pendiri positivisme. Sebab meski aliran positivisme lahir di abad modern, tetapi tata letak dasar pemikiran ini- sama dengan paham lainnya- pasti merupakan lanjutan dari pemikiran sebelumnya. Comte sendiri mengakui bahwa paradigma pengetahuan yang dianutnya itu merupakan refleksi dari kombinasi Rasionalisme Descartes dan paradigma ilmu alam yang berbasis pada Galileogalilei, Isac Newton dan Francis bacon. Mereka dianggap Comte sebagai nabi-nabi, benar-benar sebagai pendiri-pendiri bersama dirinya sendiri, tentu saja- dari metode positivisme yang ekselen.

Di tataran ini diasumsikan bahwa, suatu pemikiran tidak pernah berdiri sendiri dan terlepas dari factor dan variabel lain. Pemikiran terhadap sesuatu yang kemudian melahirkan perubahan selalu menjadi dalam ragam tahapan. Perubahan akan terjadi sedikit demi sedikit, item demi item. Itu pula yang tampaknya menjadi pokok pangkal lahirnya pemikiran positivis. Dengan semangat melihat aliran dan pemikiran dialektis yang positivis ini, peneliti akan mencoba mengurainya dari mulai paham empirisme, rasionalisme dan kemudian berujung pada lahirnya paham positivis. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

 

Komentar
Memuat...