Mengenal Filsafat Positivisme

Mengenal Filsafat Positivisme
9 1.708

Mengenal Filsafat Positivisme – Kajian positivisme dalam di sini lebih mengarah pada sebuah karakter yang mengideologis. Basis ini biasanya berkembang setahap demi setahap yang berujung pada lahirnya sebuah ideologi. Ketika positivisme menjadi sebuah ideologi, maka ia sama seperti ideology lainnya, mengutip David Mc. Lelland selalu tertutup.

Sipat ketertutupan ideology bukan hanya karena ia menjadi sebuah refleksi, tetapi ia menjadi agen yang aktif membentuk hasrat orang-orang yang berada dalam pengaruhnya. Dalam ideology, manusia sama sekali tidak mencerminkan hubungan antara dirinya dan kondisi keadaan dirinya, tetapi mencerminkan cara  mereka melanggengkan hubungan antara dirinya dan kondisi keberadaannya. Hal ini mengandaikan adanya sebuah hunbungan yang nyata dan hubungan “imajinasi” yang dialami. Positivisme dalam pengertian yang mengideologi inilah yang menjadi kajian peneliti dalam Disertasi ini.

Tokoh Utama Positivisme

Kajian terhadap positivisme, mengacu pada persoalan pokok,  yakni pada perkembangan akal budi manusia dan pada teori pengetahuan [epistemologi]. Positivisme dalam dua soal ini, dapat diidentikkan dengan pikiran August Comte [1798-1857], yang menyebut perkembangan manusia dari mistis/teologis ke tahap metafisik dan berakhir di tepian positif. Di tahap yang terakhir ini, manusia dianggap Comte sebagai puncak perkembangan dan dalam kedudukan yang paling tinggi.

 August Comte beranggapan bahwa, masing-masing manusia sadar, jika ia melihat ke belakang ada sejarahnya sendiri. Ia pasti “berjalan” dari seorang teolog pada masa kanak-kanaknya, ke metafisikawan pada masa remaja dan seorang fisikawan pada masa dewasanya. Manusia selalu memulai pemikirannya dengan menganggap fenomena dari segala jenis sebagai produk dari aksi ada supernatural berkelanjutan. Dalam tatanan ini alam semesta dianggap manusia sebagai tatanan mitos spiritual. Hal ini, tampaknya di korelasikan pada usia kemanusiaan dalam maknanya yang luas dan dibentuk oleh sejarah kemanusiaan.

Di akal budi manusia yang mistis/teologis alam dan berbagai dinamika yang terjadi padanya dianggap sebagai sesuatu yang misteri. Kejadian dalam alam selalu dihubungkan dengan aspek-aspek mistik dan manusia tidak menghayati dirinya sebagai makhluk luhur yang rasional dan berkedudukan tinggi di atas makhluk lain. Manusia selalu diliputi oleh misteri yang tidak dapat dipecahkan oleh dirinya. Oleh karena itu, di perkembangan ini, manusia dianggap Comte bermental bayi. Di tataran ini, kepercayaan manusia sanagt tunduk pada kakuatan roh halus.

August Comte menyatakan bahwa di fase mitos spiritual, juga memiliki syarat perkembangan. Paradigma mitos spiritual telah berlangsung dari tahap fetiyisme (pemujaan yang mutlak dan mendalam terhadap benda-benda), kemudian berkembang ke tahap politeisme (pendidikan dari kelambanan dan ketumpulan fetiyisme) dan kemudian baru berkembang ke tahap terakhir, yakni monoteisme yang menjadi perantara bagi lahirnya keadaan teologis dan metafisis. Monoteis telah menyatukan bahwa dewa-dewa yang banyak seperti ada pada konsep polities kepada dewa yang satu.

Di akal budi manusia yang metafisik, manusia mulai disandarkan akan posisinyasebagai makhluk yang berkedudukan tinggi dalam hubungannya dengan makhluk lain. Manusia mulai rasional dan ia mulai melakukan abstraksi-abstraksi dan konsepsi-konsepsi metafisik. Manusia berusaha keras mencari hakekat sesuatu secara metafisisk. Namun demikian, ia belum dapat menyingkirkan kakuatan metafisisk dibalik fenomena yang tampak. Oleh karena itu, Comte menyebut akal budi diwilayah ini dengan sebutan transisi, yakni suatu era yang menjadi penyambung terhadap perkembangan manusia pada suatu konsep yang ia sebut era positivistik.

Di tataran fisikawan, manusia dianggap Comte sudah harus berani  menolak pandangan bahwa alam adalah ciptaan ketuhanan dari Tuhan Allah. Konsepsi-konsepsi manusia mulai bergerak menjauh dari teologi menuju fisika melalui media a yang dihaluskan. Pengaruh supranatural Tuhan, dewa-dewa dan roh-roh harus digantikan oleh hakiki mesterius, sebab-sebab dan subtansi. Manusia positivis harus meningalkan dunia fiksi –seperti ada pada era ilmu pengetahuan. Sebuah di mana kenyataan dan pengetahuan manusia harus dapat diukur oleh potensi-potensi dasar manusia itu sendiri.

Di akal budi manusia yang positivistic rumuskan bahwa akal budi manusia telah berada dalam tataran yang sempurna. Gejala alam tidak lagi dijelaskan secara a priori (spekulasi), melainkan ia dijelaskan melalui observasi, eksperimen dengan komparasi yang ketat dan teliti. Indikator keberhasilan saintis dalam merumuskan konsep ilmu ini, secara ril u ungdiperlihatkan dengan usaha yang  sungguh-sungguh dari para saintis sesudah Covernicus, Jhonanes Kepler dan Galileo Galilai.

Itu harus benar-benar nyata dan pasti, berguna, jelas dan langsung dapat diamati dan dibenarkan oleh setiap orang yang memiliki kesempatan yang sama untuk melihat dan menilainya. Sikap yang demikian oleh Comte dilawankan dengan sipat khayal, meragukan, ilusi dan kabur. Konsekwensinya, fakta-fakta yang bukan fakta positif harus dianggap liar dan karenanya harus ditolak. Termasuk soal eksitensi Tuhan.

Basis Paradigma Positivisme

Ilmu pengetahuan positif dengan demikian, adalah ilmu pengetahuan yang dasarnya dirujuk pada konsep rasionalisme Descartes dan ilmu alam yang berbasis pada paradigma Galileogalilei, Isac Newton dan Francis Bacon. Mereka dianggap Comte sebagai nabi-nabi, benar-benar sebagai pendiri-pendiri bersama dirinya .sendiri, tentu saja- dari metode positivisme yang ekselen. Sejak zaman mereka dan sesudahnya, hanya pikiran positif  yang akan mengembangkan pikiran yang valid. Karena pikiran itu sendiri dihadiahkan dengan kekuatan koherensi logis. Pola pikir ini menurut Comte mampu menggantikan apa yang dulunya dianggap superioritas teolog dan metafisikawan.

Rumusan teori prngetahuan di atas menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pengetahuan positif adlah: Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat objektif baik dari sisi subjek maupun objek. Pengetahuan yang objektif dari sisi subjek adalah, pengetahuan yang kehadirannya diperoleh dengan sikap subjek yang bebas dari unsur-unsur sentiment pribadi, kepercayaan agama, penilaian etik dan berbagai kepentingan [ pribadi/komutitas]. Sedangkan objektif dari sisi objek adalah, pengetahuan yang hanya dapat diperoleh melalui fakultas-fakultas manusia. Oleh karena itu, pada dimensi objek yang tidak dapat diukur dan diobservasi seperti: roh atau jiwa, tidak dapat ditolelir, atau harus ditolak.

Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang  bersifat berulang-ulang. Dengan demikian, kejadian  dalam alam yang hanya bersifat unik dan kasuistik tidak dapat disebut sebagai pengetahuan. Sebab jika kasus unik dianggap sebagai pengetahuan, maka ilmuan tidak mungkin mampu melakukan generalisasi. Padahal ujung akhir dari ilmuan atas berbagai fenomena alam itu, adalah keharusan untuk melakukan generalisasi. Ketiga, ilmu pengetahuan harus selalu menyoroti setiap fenomena atau kejadian alam yang saling ketergantungan satu sama lain. Alam menurut Comte memiliki dan sekaligus membentuk suatu sistem yang bersifat mekanik.

Asumsi-asumsi Comte sebagaimana dijelaskan di atas, dilandasasi oleh dimensi ontologism yang dianutnya yakni sikap Comte yang determinan pada paham naturalistic [segenap gejala dan kejadian dalam alam, tanpa kecuali, tunduk pada hukum alam ]. Hukum ini dianggap Comte berjalan secara mekanik, layaknya sebuah jarum jam dinding yang setia berputar tanpa henti. Alam dianggapnya sebagai realitas puncak (peack reality). Alam dianggap hidup, tetapi tidak memiliki kesadaran yang menjadi hukum dasar alam itu sendiri. Manusia sendiri digambarkan bagai suatu binatang di dunia alamiah; tumbuh dari alam, makan dari alam dan tergantung pada alam .Jika pun manusia dianggap memiliki pencipta, maka pencipta mereka tidak lebih dari alam itu sendiri yang proses penciptaannya itu sendiri berjalan dalam prinsip kausalitas yang berkelanjutan.

Makna Positivisme

Sudut pandang di atas menunjukan bahwa apa yang dimaksud dengan positivisme adalah sebuah paham yang menganut logika factual, dapat dipikirkan secara rasional dan mengharuskan adanya pervikasi dan pengukuran. Positivime mengharuskan berlakunya kuantifikasi, sebab alur logika ini mengharuskan adanya pengukuran.

Asumsi-asumsi yang tidak memungkinkan diberlakukannya logika positivistik tadi, seperti eksistensi Tuhan, yang adanya di luar kategori historis manusia, dan nilai-nilai yang tidak factual harus ditolak karena akan kesulitan untuk membuktikan kebenarannya. Penalaran kebenaran berdasarkan prinsip positivistic tadi, memang hanya akan mengakui kebenaran pada sesuatu yang fisik, rasional dan keterukuran. Mereka secara umum mengakui bahwa prinsip umum positivisme telah melakukan pemisahaan terhadap soal etika dan agama dengan politik dalam beberapa hal dengan persoalan filsafat dan pengetahuan. Pemisahaan ini telah menyaratkan berlakunya prinsip ilmu pengetahuan yang bebas nilai.

Paradigma positivisme, dengan demikian berarti menolak metafisika dan teologi, atau setidaknya menempatkan dua soal tadi sebagai sesuatu yang primtif. Paham ini menganggap bahwa setiap fakta di dunia ini mempunyai hubungan satu sama lain [kausalitas] dari suatu sistem yang satu. Dunia dianggap sebagai sistem rasional dari kumpulan fakta dan kejadian .Berbagai kejadian mengikuti hukum tertntu yang berlaku secara universal. Oleh karena itu, Ilmuan dapat melakukan prediksi.

Gambaran di atas menunjukan bahwa apa yang dimaksud dengan positivisme adalah: sebuah paham kefilsafatan yang memandang pengalaman [epistemologi] pengetahuan.

Hal lain yang dapat disusun berdasarkan pengertian positivisme tadi, maka apa yang dimaksudnya adalah gabungan pemikiran empiris-rasional plus keterukuran. Dan karena itu pula, maka tokoh yang terlibat dalam pemikiran tadi, –meski secara definitive dapat hanya disandingkan kepada August Comte, sebagai pendiri–. Tetapi jika mengacu pada pikiran Thomas S. Kuhn, bahwa sesungguhnya setiap ilmuan pasti memberikan unsur sumbangan pada satu penemuan termasuk dalam soal-soal pemikiran.

Oleh karena itu, jika ini yang dijadikan rumusan dan teori tentang positivisme tadi yang dijadikan patokan. Maka kajian terhadap positivisme, secara historis adalah mereka yang berada di pemikiran empiris-nasional. Tokoh yang berada di dua aliran ini, secara teoretis tidak dapat dipisahkan sebagai pendiri positivisme. Sebab meski aliran positivisme lahir di abad modern, tetapi tata letak dasar pemikiran ini- sama dengan paham lainnya- pasti merupakan lanjutan dari pemikiran sebelumnya. Comte sendiri mengakui bahwa paradigma pengetahuan yang dianutnya itu merupakan refleksi dari kombinasi Rasionalisme Descartes dan paradigma ilmu alam yang berbasis pada Galileogalilei, Isac Newton dan Francis bacon. Mereka dianggap Comte sebagai nabi-nabi, benar-benar sebagai pendiri-pendiri bersama dirinya sendiri, tentu saja- dari metode positivisme yang ekselen.

Di tataran ini diasumsikan bahwa, suatu pemikiran tidak pernah berdiri sendiri dan terlepas dari factor dan variabel lain. Pemikiran terhadap sesuatu yang kemudian melahirkan perubahan selalu menjadi dalam ragam tahapan. Perubahan akan terjadi sedikit demi sedikit, item demi item. Itu pula yang tampaknya menjadi pokok pangkal lahirnya pemikiran positivis. Dengan semangat melihat aliran dan pemikiran dialektis yang positivis ini, peneliti akan mencoba mengurainya dari mulai paham empirisme, rasionalisme dan kemudian berujung pada lahirnya paham positivis. ** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

 

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

  1. nur muhamad fadillah berkata

    Auguste Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam. paradigma positvesme juga menolak adanya ilmu metafisika dan teologi dan hanya meninik beratkan pada sesuatu yang dianggap rasional pada suatu indivdu dan dapat diukur melalui fakta.

    NAMA : NURMUHAMAD FADILLAH
    KELAS : T.IPS C SEMESTER 6

  2. siti komala sari berkata

    Asslamu’alaikum…
    saya mahasiswa jurusan ips/c, semester 6 nim 1414143104
    Terkait dengan Postivisme pada hakikatnya juga adalah ajaran sosial atau pandangan dunia, yang menganggap mungkin bahwa masyarakat yang lebih baik itu dapat dibentuk. Ilmu pengetahuan, dalam pandangan Comte, patut menjadi pemimpin dalam usaha ini. para pengikut positivisme logis menganut kayakinan ini. hal ini tercermin dalam pemakaian kata ‘positivisme’ dalam nama aliran filsafat ilmu pengetahuan.jadi menurut yang telah dipaparkan ilmu pengetahuan itu harus logis,nyata da bermanfaat serta diarahkan untuk mencapai kemajuan..sehingga muncul adanya asas positivisme logis seperti 1. empirisme, 2. positivisme, 3. Logika, 4. Kritik Ilmu.

  3. Vidya Wiranti berkata

    1414143111

    Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Positivisme merupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahua .

  4. SINTA DEVIKA berkata

    Sinta Devika
    IPS C/6
    Posistivisme merupakan pemikiran yang lahir dengan mengedepankan observasi atau pengamatan terhadap fakta-fakta secara empiris untuk mendapatkan kontribusi yang positif. Positivisme menolak hal-hal yang abstrak seperti mitos, metafisis dsb.
    Akibat dari ketidakpercayaannya terhadap sesuatu yang tidak dapat diuji kebenarannya, maka faham ini akan mengakibatkan banyaknya manusia yang nantinya tidak percaya kepada Tuhan, Malaikat, Setan, surga dan neraka. Padahal yang demikian itu didalam ajaran Agama adalah benar kebenarannya dan keberadaannya.

  5. Rosi Aprilia Diningsih berkata

    Tentang paradigma basis positivisme ,yaitu memang pada dasarnya perspektif setiap orang berbeda,dimana Tuhan memberikan akal kepada manusia untuk terus berpikir menggunakan akal sebagai kemampuannya. Dalam menggunakan akal,terkadang manusia tidak mengetahui dan tidak sadar bahwa Tuhan yang menciptakan semuanya, dapat dikatakan darimana ilmu pengetahuan itu muncul kalau bukan dari Tuhan. Kembali ke perspektifnya Comte, mungkin dia melihat secara konkretnya saja dimana sekarang sedang maraknya pengetahuan yang dipakai dalam menyelesaikan suatu masalah, dia menTuhankan ilmu pengetahuan dan teknologi. Paradigma positivisme harusnya mampu mengarahkan manusia dalam memahami ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu alat yang dapat membantu meringankan pekerjaan manusia, tapi tidak mengesampingkan dan tidak memungkiri bahwasannya manusia dan alam semesta begitu juga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi atau semua yang ada di dunia ini adalah ciptaan Tuhan. Memang Tuhan tidak terlihat, namun keberadaannya harus bisa dirasakan. Seharusnya ilmuwan mampu meng kolaborasi kan antara ilmu dunia dan akhirat, sehingga dengan adanya ilmu pengetahuan teknologi semata-mata hanya untuk lebih mengenal bahwa Tuhan memang ada dan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat kita letakan dunia di tangan kita tanpa menTuhankan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, dengan ini kita manfaatkan sebaik-baiknya sebagai jembatan menuju amalan untuk kehidupan yang kekal abadi (Akhirat).

    1414143100

    1. lyceum berkata

      Yess good

  6. Ummu Lubabah berkata

    Assalammu’alaikum Wr.Wb
    pak saya mau bertanya
    Apakah sama positif dengan positivisme?
    Pada filsafat positivisme ini kan berawal dari pemikiran yang memprioritaskan pada bukti empiris yang dapat dipertanggungjawabkan (empirisme). Atau dapat dikatakan ilmu alam sebagai satu-satunya pengetahuan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Sedangkan dewasa ini manusia sangat jauh dari hukum-hukum alam dan digantikan oleh hukum buatan manusia itu sendiri yang egoistis, sehingga banyak sekali bencana yang melanda manusia itu sendiri, lalu bagaimana untuk mengatasi hal tersebut?

    1414141119

  7. MUFLIHAH AWALIYAH berkata

    *NAMA : MUFLIHAH AWALIYAH
    KELAS : IPS B/SEMESTER 1
    NIM : 1608104049
    assalamualaikum wr.wb
    Pa saya mau bertanya
    Proses berfikir dalam filsafat memiliki beberapa karakteristik, apa sajakah karakteristik dalam filsafat ?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.