Mengenal Lebih Dekat Budaya Sunda dan Karakter Orang Sunda

0 450

Budaya dan Karakter Sunda. Jika anda pernah tinggal di luar Pulau Jawa, lalu anda ditanya, dari mana asalmu? Lalu disebut berasal dari Jawa Barat, terlebih kalau menyebut kata Bandung, secara umum, masyarakat setempat akan menyambut hangat. Kehangatan itu, terjadi karena memang mereka cenderung dianggap lemah dan tidak membahayakan. Sunda dianggap lembut dari sisi tutur kata, dan kurang berani dalam mengambil keputusan.

Jawa Barat, secara faktual menjadi provinsi yang mengumpulkan masyarakat Sunda. Karena itu, menyebut Sunda selalu identik dengan Jawa Barat. Nuansa kebatinan yang sama, berlaku bagi anggota Tentara Nasional Indonesia [TNI]. Mereka yang berasal dari Komanda Daerah Militer Jawa Barat, yang dikenal dengan Kodam Siliwangi, konon nuansanya dirasakan mereka. Sambutan cenderung lebih familier di mata masyarakat setempat karena wataknya yang menggambarkan sisi masyarakat Sunda tadi.

Hal ini, berbeda tentu saja jika menyebut kata Suku Jawa. Suku ini, dihimpun dalam banyak provinsi di Jawa [Jawa Tengah, Jawa Timur dan Madura]. Bahkan untuk bagian tertentu, masyarakat Banten dan Jawa Barat, Suku Jawa, terakomodasi juga didalamnya. Lepas dari soal itu, Jawa Barat, secara populatif selalu menjadi ukuran kemenangan dalam kontestasi politik Nasional.

Mengapa? Karena jumlah penduduk Provinsi ini paling banyak di Indonesia, meski akomodasi terhadap masyarakat suku ini, selalu paling kecil. Inilah problem penting dan catatan strategis ke depan dalam konteks politik nasional.

Memahami Makna Sunda

Secara Bahasa, kata Sunda memiliki padanan makna dengan kata cahaya, cemerlang, putih dan bersih dalam tampilan fisik. Dalam makna lain, Sunda juga memiliki makna lembut dan bersahaja dalam konteks perilaku. Pengertian semacam ini, setidaknya dapat dibaca dalam Kamus Bahasa Sangsekerta. Dalam kamus dimaksud, kata Sunda yang berawalan Su, mengandung arti baik, bagus atau padanan lain yang memiliki relevansi makna dengan kebaikan dan ketulusan.

Secara umum, masyarakat Jawa Barat mendiami gugusan bumi bergunung. Itulah mengapa banyak pihak menyebut bahwa masyarakat yang mendiami pulau paling Barat di Jawa ini, dikenal telah membawa kemakmuran dan keberkahan hidup bagi penduduknya. Soko utama kehidupan mereka adalah bertani.

Asumsi tadi diperkuat dengan realitas Alam Jawa Barat yang melimpah dengan kesuburannya. Inilah bentuk dan ciri lain dari masyarakat pegunungan yang kurang lebih selama 1000 tahun, menguasai wilayah hijau seperti ini.

Kehidupan masyarakat Sunda yang mendiami Pulau semacam ini, telah berlangsung lama. Kehadiran suku ini, di tempat seperti ini, berlangsung sejak zaman Salaka Negagara, Tarumanagara sampai dengan Pakuan Padjadjaran. Meski cerita sudah lamanya kekuasaan kerajaan Sunda, namun banyak pihak hanya menyebut Kerajaan Sunda dengan pemerintahan Padjadjaran, khususnya ketika dipimpin Eyang Prabu Siliwangi.

Bisa dimengerti memang mengapa Padjadjaran dan Prabu Siliwangi identik dengan Kerajaan di Jawa Barat. Sebab melalui dialah, Jawa Barat tampil menjadi soko negara yang baldatun thayibatun wa rabbun ghafur. Buku berjudul Sundaland (Tatar Sunda atau Paparan Sunda) yang disusun  Stephen Openheimer, dan ribuan judul buku lain seperti Eden of the East menyebut bahwa Tatar Sunda telah menjadi pusat peradaban di dunia dan dari sinilah segala silsilah manusia di bumi berpencar, termasuk ke Benua Eropa.

Lima Konsep Hidup Masyarakat Sunda

Setidaknya, ada lima kata kunci yang sering digunakan atau dipakai orang tua masyarakat sunda, ketika mereka menasehati anak-anaknya. Kelima kata kunci itu adalah: Cageur, Bageur, beneur, singeur dan pinteur. Kelima kata kunci ini, akan penulis uraikan maknanya satu persatu berikut ini:

  1. Cageur. Kata ini mengandung makna sehat baik secara jasmani maupun ruhani. Akal yang sehat terdapat pada jiwa yang sehat. Orang Sunda dituntut memiliki kesehatan dalam berpikir, kesehatan dalam berpendapat, sehat secara perilaku dan selalu menjauhkan diri dari berpikir buruk terhadap orang lain.
  2. Bageur. Kata ini mengandung makna baik hati, memiliki rasa kasih sayang yang tinggi kepada sesame manusia, tidak pelit, tidak gampang emosi, memiliki jiwa penolong dan ikhlas dalam menjalankan hidup.
  3. Beneur. Kata ini mengandung makan cekatan dan pandai memanfaatkan momentum. Kata ini juga sering diterjemahkan dengan terampil dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Orang Sunda akan penuh mawas diri meski bukan berarti selalu was-was, mengerti pada setiap tugas yang diberikan, suka mendahulukan kepentingan orang lain sebelum dirinya sendiri, pandai dan terbiasa menghargai pendapat orang lain.
  4. Singeur. Kata ini mengandung arti jujur, tidak suka berbohong, tidak mengerjakan sesuatu secara asal-asalan, amanah (dapat dipercaya), lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam.
  5. Pinteur. Kata ini mengandung arti bahwa orang Sunda harus memiliki ilmu baik dunia maupun akhirat. Dalam implementasinya, orang sunda umumnya tetap toleran terhadap siapapun yang berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri apalagi menyudutkan orang lain.

Lima kunci orang Sunda ini, akan menjadi media komunikasi kami, lyceum Indonesia dalam seminggu ini. Minggu ini, soal budaya ini, akan focus pada bagaimana akhirnya orang Sunda memainkan dan dimainkan perannya dalam konteks politik kebangsaan Indonesia.

Semoga para pembaca dapat menyimkanya dengan baik. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.