Mengenal Makna Filsafat| Filsafat Ilmu Part – 1

Mengenal Makna Filsafat| Filsafat Ilmu Part - 1
0 12.496

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia atau philosophos. Kata tersebut terstruktur dari kata philos (cinta) dan sophhia (bijaksana). Dalam kalimat lain, filsafat sering juga disebut berasal dari kata philos dan shopos. Makna harfiahnya, meski berbeda penyebutannya sama. Philos [Felien] berarti cinta dan shopia atau shopos berarti kebijaksanaan.

Jika mengacu kepada pemikiran Socrtes sebagaimana dijelaskan di bab sebelumnya, maka, kata bijaksana dapat pula diterjemahkan sebagai pengetahuan. Pengetahuan dalam bahasa filsafat disebut dengan hikmah tertinggi yang menjadi budi teragung manusia. Itulah filsafat.

Harun Hadiwijono (1980) berpendapat bahwa filsafat diambil dari bahasa Yunani, filosofia. Struktur katanya berasal dari kata filosofien yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam arti itu, filsafat mengandung arti sejumlah gagasan yang penuh kebijaksanaan. Artinya, seseorang dapat disebut berfilsafat ketika ia aktif melakukan usaha untuk memperoleh kebijaksanaan.

Kata filsafat dalam pengertian atau makna tadi, lebih berarti sebagai “imbauan kepada kebijaksanaan”. Karena itu, filsafat bukan kebijaksanaan dan bukan hikmah, tetapi sifat dekat dengan kebijaksanaan, sipat dekat dengan hikmah. Mengapa? Ya itulah kebijaksanaan diri manusia yang bijak. Ia akan sadar bahwa kebijaksanaan itu hanya milik Idea-Plato, god dan Allah dalam terminologi Arab-Muslim.

Harun Nasution menganggap bahwa kata filsafat berasal dari struktur kata philos dan shopia, philos dan shopos atau philosofien. Philein berarti cinta dan shopos berarti wisdom atau bijaksana. Orang Arab menurut Harun memindahkan kata philosopia ke dalam bahasa mereka dengan menyesuaikan tabi’at susunan kata-kata bahasa Arab.

Filsafat dengan pola (wajan) fa’ala, fa’lalah dan fi’lal. Berdasarkan wajan tadi, maka penyebutan kata filsafat dalam bentuk kata benda seharusnya disebut falsafat atau filsaf. Harun Nasution mengkritik mereka ketika menyebut istilah ini dengan sebutan Filsafat Ia lebih memilih kata filsaf atau falsafat

Harun lebih lanjut menyatakan bahwa kata filsafat yang banyak dipakai masyarakat Indonesia. Kata ini, sebenarnya bukan murni berasal dari bahasa Arab sama seperti tidak murninya terambil dari bahasa Barat, philosophy. Harun justru membuat kompromi bahwa filsafat terambil dari dua bahasa, yaitu fil diambil dari bahasa Inggris dan safah diambil dari bahasa Arab. Kata filsafat, adalah gabungan antara bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Berfilsafat, menurutnya mengandung arti berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma serta agama). Selain itu, berfilsafat juga berarti berpikir sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalannya.

Atas dasar pengertian semacam itu, maka menurut Harun, secara etimologi, filsafat dapat didefinisikan sebagai: 1) Pengetahuan tentang hikmah; 2) Pengetahuan tentang prinsip atau dasar- dasar segala sesuatu; 3) Mencari kebenaran; dan 4) Membahas secara mendasar dari apa yang dibahas.

Ali Mudhafir (1996) berpendapat bahwa kata filsafat dalam bahasa Indonesia memiliki pedanan kata falsafah (Arab), philosopia (Inggris), philosopie (Jerman, Belanda dan Prancis). Semua kata itu, berasal dari bahasa Yunani, philosopia. Kata philosopia sendiri dari dua suku kata, yaitu philein, philos dan shopia. Philein berarti mencintai, philos berarti teman, shopos berarti bijaksana dan shopia berarti kebijaksanaan.

Dengan demikian, menurut Ali Mudhafir ada dua arti secara etimologi dari kata filsafat yang sedikit berbeda. Pertama, apabila istilah filsafat mengacu pada asal kata philein dan shopos, maka ia berarti mencintai hal-hal yang bersifat bijaksana (ia sifat). Kedua, apabila filsafat mengacu pada asal kata philos dan shopia, maka ia berarti teman kebijaksanaan (filsafat menjadi kata benda).

Sejarah menunjukkan bahwa pada awalnya, kata shopia lebih sering diartikan sebagai kemahiran dan kecakapan dalam suatu pekerjaan tertentu seperti, kecakapan dalam suatu pekerjaan. Misalnya, kecakapan dalam perdagangan teknik pelayaran. Makna kemahiran kemudian dikhususkan untuk kecakapan di bidang seni dan musik.

Makna ini berkembang menjadi jenis pengetahuan yang lebih tinggi. Yakni jenis pengetahuan yang dapat mengantarkan manusia untuk mengetahui kebenaran murni. Shopia dalam arti terakhir ini, setidaknya terlihat dari rumusan Phytagoras yang menyatakan bahwa hanya Dzat Yang Maha Tinggi (Allah) yang mampu melakukan kebenaran murni.

Menurut Phytagoras, manusia hanya sampai pada sifat “pencinta kebijaksanaan”. Phytagoras menyatakan “cukup seorang menjadi mulia ketika ia menginginkan hikmah dan berusaha untuk mencapainya meski ia tidak pernah menjadi hikmah itu sendiri”.

Filsafat dari Literal ke Jalan Hidup

Makna filsafat sebagaimana dijelaskan tadi, akan berbeda pengertiannya dengan makna substantif dari filsafat itu sendiri. Dalam pengertian terakhir, filsafat sering difahami sebagai jalan hidup. Pengertian terakhir ini, filsafat mengalami pergeseran makna yang jauh sekali dibandingkan dengan makna literalnya. Pengertian filsafat yang pertama lebih memberi arti teoretis, sedangkan dalam makna kedua, filsafat lebih dapat difahami sebagai pandangan hidup yang sifatnya praksis.

Filsafat dalam makna praksis, setidaknya terlihat dari pernyataan Phytagoras (572-497 M) yang sering ditahbiskan sebagai orang pertama yang memakai kata philosopia ketika ia ditanya, apakah ia orang yang bijaksana? Dengan rendah hati, Phytagoras menjawab bahwa dirinya adalah pencinta kebijaksanaan (lover of wisdom), la bukan kebijaksanaan itu sendiri.

Baginya, kebijaksanaan itu milik Sang Abadi yang hadirnya juga abadi. Yang Abadi itu terus menerus mengurus soal-soal yang konkret, dinamik dan fisik serta berbagai gejala dan perubahan yang terjadi pada yang fisik.

Dalam pengertian ini, seseorang dapat disebut telah berfilsafat apabila ucapan dan prilakunya mengandung makna dan ciri sebagai orang yang cinta terhadap kebijaksanaan, terhadap pengetahuan dan cinta terhadap hikmah. Tetapi bukan kebijaksanaan itu sendiri, bukan hikmah dan juga bukan pengetahuan itu sendiri.

Meski demikian, banyak juga sumber yang menyatakan bahwa kata shopia mengandung arti luas daripada hanya sekedar kebijaksanaan, pengetahuan dan hikmah sebagaimana diilustrasi tadi. Pengertian dimaksud berkembang misalnya: 1) kerajinan; 2) kebenaran pertama; 3) pengetahuan yang luas; 4) kebajikan intelektual; 5) pertimbangan yang sehat, dan; 6) kecerdikan dalam memutuskan hal-hal yang praktis. Berdasarkan pengertian tadi, pada awalnya filsafat bermakna umum, yang intinya mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellence).

Hasbullah Bakri mendefinisikan filsafat dalam ragam pandang para tokoh filsafat. Plato (427-438 SM) dianggap telah mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang genuine.

Aristoteles (382-322 SM) dianggap telah mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan yang meliputi kebenaran. Terkandung di dalam kajian filsafat ini adalah ilmu metafisika, logika, retorika, etika, estetika dan ekonomi. Al-Farabi (870-950 SM) dianggap telah mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang alam maujud dan

Hakikat Alam

Descartes (1590-1650 M) dianggap telah mendefinisikan filsafat sebagai hukum ilmu pengetahuan, yakni tentang Tuhan, alam dan manusia. Immanuel Kant (1724-1804 M) dianggap telah mendefinisikan filsafat sebagai ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan.

Atas dasar asumsi seperti itu, maka menurut Kant ada tiga persoalan yang dikaji dalam filsafat. Ketiga pokok soal itu adalah: 1) Apakah yang dapat manusia ketahui (dijawab oleh metafisika); 2) Apakah yang seharusnya diketahui manusia (dijawab oleh etikn); dan 3) Sampai dimanakah harapan manusia (dijawab oleh agnma),

Dalam arti yang agak umum, filsafat dapat digunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikiran manusia tentang berbagai kesulitan yang dihadapinya, serta berusaha untuk menemukan solusi yang tepat. Misalnya ketika kita menanyakan: “Siapakah Kita? Darimana kita berasal? Mengapa kita ada di suatu tempat? Ke mana kita akan pergi dan berlalu? Apa yang dimaksud dengan kebenaran dan kebathilan? Dan apakah yang dimaksud dengan kebaikan dan kejahatan?

Namun demikian, filsafat dapat juga diartikan dalam arti khusus. Dalam arti ini, kata filsafat biasanya bersinonim dengan sistem dari sebuah madzhab tertentu dalam filsafat. Misalnya, filsafat dirangkaikan dengan salah seorang filosof, seperti filsafat Aristoteles atau filsafat Plato. Rangkaian kata filsafat dengan nama seorang filosof tertentu mengindikasikan bahwa setiap filosof dengan aktivitas filsafat yang dilakukannya bermaksud membangun suatu bentuk penafsiran yang lengkap dan menyeluruh terhadap segala sesuatu yang diyakini kebenarannya oleh filosof tertentu dimaksud.

Berdasarkari watak dan fungsinya, filsafat dapat diklasifikasikan pada: f) Sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis; 2) Suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat dijunjung tinggi; 3) Usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya, filsafatberusaha untuk mengkombinasikan hasil bermacam- inacam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam; 4) analisis logika dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat ini sering juga diartikan dengan logo sentrism; dan 5) Sekumpulan problem yang langsung mendapat perhatian dari manusia dan yang dicarikan jawabannya oleh ahli-ahli filsafat. (Rizal Muntasyr, 2003: 3).

Dilihat pengertian filsafat di atas, maka filsafat dapat dibedakan dalam dua jenis pengertian. Pertama, filsafat sebagai reflectif thinking. Kedua, filsafat sebagai produk kegiatan berpikir murni dan ia sudah terbentuk dalam suatu disiplin ilmu.

Filsafat dalam term pertama dapat diartikan sebagai aktivitas pikir murni, atau kegiatan akal pikir manusia dalam usaha mengerti secara mendalam atas’ segala sesuatu. la merupakan satu daya atau kemampuan berpikir yang tinggi dari manusia dalam usaha memahami kemestaan. Sedangkan filsafat dalam arti yang kedua telah terbentuk dalam pembendaharaan yang terorganisasi dan telah memiliki sistematika tertentu. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...