Mengenal Metafisika | Part – 1

Mengenal Metafisika
4 2.853

Filsafat Metafisika. Metafisika terstruktur dari dua suku kata, yakni meta dan physika. Secara bahasa, meta berasal dari bahasa Yunani yakni sesudah sesuatu atau di balik sesuatu. Phyisika berarti nyata, kongkret, dapat diukur dan dapat dijangkau panca indera. Jadi, secara bahasa metafisika berarti eksistensi sesuatu di balik atau sesudah yang fisik [nyata, kongkret dan terukur].

Eksistensi di balik atau sesudah yang fisik disebut metafisika. Eksistensi ini, dalam perfektif fisafat perlu dikaji. Saking pentingnya kajian atas eksistensi yang di balik atau sesudah yang fisik itu, filsafat ilmu membuka cabang ilmu baru. Cabang dimaksud diberi nama ontologi. Jadi, ontologi adalah ilmu yang mengkaji tentang sesuatu di balik yang fisik atau eksistensi sesuatu sesudah yang fisik.

M.J. Langeveld (tt: 132) menyebut metafisika sebagai ilmu. Metafisika akan mengkaji tentang teori keadaan. Langeveld mengutif Nicholas Hartman yang mengartikan metafisika sebagai: 1). Tempat khusus yang diperuntukkan bagi objek-objek transenden dan daerah spekulatif bagi tanggapan-tanggapan tentang Tuhan serta kebebasan dan jiwa manusia. 2). Metafisika dapat juga diartikan sebagai pangkalan bagi sistem-sistem spekulatif, teori- teori dan tanggapan dunia terhadap sesuatu yang eksistensinya di luar dimensi yang fisik-empirik.

Makna Lain dari Metafisika

Jika makna di atas dijadikan landasan dalam memahami kata metafisika, maka, secara umum metafisika dapat diterjemahkan sebagai ilmu yang mengkaji tentang sesuatu yang eksistensinya berada di balik yang fisik atau kajian terhadap sesuatu yang eksistensinya berada sesudah yang fisik (nyata). Kajian tentang Tuhan (dapat dibaca berada di balik yang fisik) dan persoalan eskatologis (dapat dibaca sesudah yang fisik), masuk ke dalam kajian metafisika. Hal lain seperti pahala dan siksa kubur atau kebangkitan manusia di akhirat kelak, akan memperoleh tempat pengkajiannya dalam rumpun metafisika. Inilah hebatnya filsafat ilmu.

Tetapi, karena ruang kajian tulisan ini mengkaji tentang ilmu ditinjau dari sudut pandang filsafat, maka, tentu yang dimaksud metafisika di sini adalah: Apakah ilmu yang sekarang eksis, memiliki tabel pertalian dengan dimensi metafisik? Atau dapat juga dipertanyakan, bagaimanakah ilmu harus bersumber? Apakah murni fisik-empiris? Atau ada wilayah lain yang lebih mendalam di luar yang fisik tadi? Inilah urgensi penting kajian dalam bagian ini.

Sedikit Sejarah Metafisika

Sejarah metafisika ditafsirkan berbeda oleh para ahli. Jean Hendrik (1996) menyebut metafisika untuk pertama kali dipopulerkan Andronicos dari Rhodes sekitar tahun 70 SM. Tetapi menurut Anton Bakker (1992), disebutkan bahwa metafisika sudah berkembang sejak abad ketiga sebelum masehi. Baca lebih lengkap tentang Sejarah Metafisika.

Untuk apa mengkaji metafisika dalam konteks kajian kita sekarang. Ilmu ini ternyata dapat digunakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam (ultimate nature) dari keadaan atau kenyataan yang tampak nyata dan variatif. Melalui pengkajian dan penghayatan terhadap metafisika, manusia akan dituntun pada jalan dan penumbuhan moralitas hidup. Baca lebih lengkap tentang Nilai Guna Metafisika.

Secara umum metafisika dapat dibagi menjadi filsafat metafisika umum dan metafisika khusus. Pembagian dan pencabangan ini harus pula ditambahkan pada ketergantungan pemahaman dan aliran yang dipakai masing-masing filosof dan saintis. Satu pencabangan dapat diterima suatu aliran dan secara otomatis ditolak oleh aliran lain. Begitupun sebaliknya. Hal itu harus dianggap biasa** Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.