Mengenal Padjajaran dan Peran Eyang Prabu Siliwangi

0 604

Eyang Prabu Siliwangi memang misterius. Salah satu ciri kemisteriusannya itu terlihat dari: Pertama, tidak jelas di mana makam yang bersangkutan disemayamkan, meskipun banyak tulisan dan cerita yang menyebut posisi makam dimaksud berada. Ketidakjelasan itu, didukung oleh menguatnya cerita rakyat yang mengatakan bahwa Eyang Prabu Siliwangi, ngahyang dalam suatu pertempuran dengan kerjaan Islam yang baru berdiri. Hal ini, bukan saja menyulitkan sejarawan, tetapi, juga menganehkannya karena kondisi ini di luar tradisi masyarakat Hindu yang selalu menempatkan makam orang-orang hebat dalam pengawetan pola budaya yang kuat.

Kedua, terkait dengan posisi keagamaan Eyang Prabu Siliwangi sendiri yang dalam banyak tafsir sering disebut pengikut ajaran agama Islam di satu sisi, namun di sisi lain, ada juga yang menyebut bahwa dia kembali kepada ajaran agama nenek moyangnya yakni agama Hindu. Dua pendapat ini juga sama. Sulit memperoleh pembuktian historis, mana dia natara keduanya yang paling shahih menunjukkan bukti sejarah. Keduanya tetap ambigu.

Ketiga, terkait dengan di mana sesungguhnya kerajaan Padjadjaran itu berada. Apakah di Pakuan Bogor, di Cianjur atau di Pandeglang Banten. Sebab di tempat-tempat inipun, tidak ada bukti sejarah yang meyakinkan. Semua selalu bersipat hypotetik yang margin erornya sama-sama tinggi. Tulisan ini akan mengupas sisi-sisi remang ini, dan hendak mencoba menganalisa dengan memakai standar berbagai tulisan dan cerita satu ke cerita lainnya yang beredar di kalangan masyarakat. Tulisan ini, akan dikupas dalam empat tulisan secara berseri, dan dipublish di lyceum.id.

Hypotesa Nama Prabu Siliwangi

Eyang Prabu Siliwangi yang memiliki kemungkinan disandingkan dengan Prabu Wangi, adalah julukan untuk cucu Prabu Niskala Wastukancana yang memerintah kerajaan Padjadjaran di Sunda Galuh pada kisaran tahun 1371 – 1475 Masehi. Disebut silih karena dalam literature Sunda kata ini dapat juga diartikan dengan pengganti dan yang digantinya adalah Prabu Wangi. Maka kemudian ia disebut dengan Siliwangi. Jadi, Siliwangi dalam pengertian itu, besar kemungkinan ia adalah Prabu Jayadewata yang berkuasa sekitar tahun 1482-1521 Masehi. Ia adalah cucu dari Wastukencana dan langsung memperoleh tampuk kekuasaan karena berhasil menyatukan kembali kerajaan Sunda Galuh dalam satu naungan kerajaan yang kemudian diberinama Padjadjaran.

Penamaan Padjadjaran, sebagaimana ditulis Gerrit Pieter Rouffaer (1860-1928), seorang arkeolog berkebangsaan Belanda dan beberapa kali mengkaji tentang seni kuno jawa, disebutkan bahwa Padjadjaran mengandung makna sejajar atau seimbang. Dalam isi tulisannya itu, yang dimaksud dengan seimbang di sini adalah kesejajaran Maharaja Pasundan dengan Maharaja Majapahit yang telah berdiri lebih dulu, yakni pada kisaran tahun 1293 – 1500 Masehi. Masa puncak kerajaan Majapahit adalah ketika ia dipimpin seorang raja bernama Hayam Wuruk dan Patih bernama Gajah Mada. Tampaknya, ketika kerajaan Majapahit ini mulai redup, kerajaan Padjadjaran sedang menunukkan sinarnya sebagai sebuah kerajaan besar yang setara dengan Majapahit.

Runtuhnya Padjajaran

Apakah Padjadjaran runtuh saat dipimpin Prabu Siliwangi? Ternyata sulit juga dibenarkan. Mengapa? Karena setelah dia, dalam beberapa tulisan dan cerita rakyat yang terus beredar, masih ada raja lain setelahnya seperti: Prabu Surawisesa (1521-1535); Prabu Ratu Dewata (1535-1543); Ratu Sakti (1543-1551); Prabu Nilakendra (1551-1567), dan Prabu Raga Mulya 1567-1579).

Dengan nalar ini, tampaknya, saat Raja Prabu Raga Mulyalah, kerajaan Padjadjaran mengalami kehancuran. Sebab setelah raja ini, tidak ada lagi raja di Padjajaran. Pada tahun-tahun ini juga, dikenal adanya penyerbuan yang dimpin Maulana Yusuf –kerajaan Muslim Baru—di Banten pada tahun 1501 Saka atau tahun 1579 Masehi. Jadi, dengan nalar ini, tidak tepat jika disebutkan bahwa Eyang Prabu Siliwangi menjadi akhir dari raja Padjajaran. Justru pada saat dia berkuasa, Padjajaran sedang berada pada puncak kekuasaan Hindu yang “menjadi” pengganti atas kedigjayaan Majapahit yang sudah redup bahkan runtuh. Untuk mengetahui sejarah runtuhnya kerajaan padjajaran silahkan baca ini: Runtuhnya Kerajaan Pakuan Padjajaran. **By. Prof. Dr. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.