Mengenal Penyakit Campak dan Rubella

0 111

Kampanye imunisasi Measles Rubella (MR) yang berlangsung di seluruh Pulau Jawa sejak 1 Agustus 2017 menuai pro dan kontra. Sebagian masyarakat mendukung penuh, karena paham manfaatnya. Sebagian lainnya masih bertanya-tanya, apa tujuan kegiatan yang terkesan “mendadak” dan “dipaksakan” oleh pemerintah ini? Mengapa harus dilakukan imunisasi secara massal yang melibatkan rentang kelompok umur cukup panjang, yaitu bayi berusia 9 bulan sampai siswa SMP berusia kurang dari 15 tahun? Ada apa di balik semua ini? Dan bahkan ada sebagian kelompok masyarak yang menolaknya. Lantas apa Penyakit Campak dan Rubella itu?

Mengenal Penyakit Campak dan Rubella

Sebelumnya, kita harus paham dulu, apa campak dan rubella? Menurut dr. Arifianto, SpA dilansir dari republika.co.id (19/08). Campak dan Rubella keduanya adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus. Penyebab campak adalah Morbilivirus, dan rubella disebabkan oleh golongan togavirus. Gejala-gejala penyakit campak dan rubella mirip sebagiannya, yaitu adanya demam disertai ruam. Bedanya adalah anak yang mengalami campak seringkali tampak terlihat lebih sakit, yaitu disertai mata merah, batuk, sesak, dan diare.

Sebagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus, penderita campak akan sembuh dengan sendirinya, seiring waktu dan kekebalan tubuh yang melawan virus. Tetapi campak mematikan karena komplikasinya, yaitu radang paru (pneumonia), diare dengan dehidrasi (kekurangan cairan) berat, dan ensefalitis (peradangan di jaringan otak dengan konsekuensi kecacatan seumur hidup, jika penderitanya tidak meninggal). Campak juga dapat menyebabkan kebutaan dan infeksi telinga tengah yang berisiko gangguan pendengaran.

Profil kesehatan Indonesia tahun 2016 melaporkan 6.890 kasus campak sepanjang tahun 2016, dengan jumlah kematian 5 orang. Pusat data dan informasi Kementerian Kesehatan RI mencatat 8.185 kasus campak di Indonesia, dengan 831 kasus kejadian luar biasa (KLB) atau wabah.

Angka kematian yang disebabkan oleh dari penyaki ini dilaporkan hanya 1 kasus. Apakah data ini menunjukkan kondisi penyakit campak di negara ini sudah sangat rendah dan tidak perlu dikhawatirkan? Apabila Anda berpikiran demikian, maka Anda salah! Pahami dulu beberapa hal berikut.

Pertama: Tujuan Pencapaian Imunisasi Campak dan Rubella

Tujuan akhir yang ingin dicapai adalah tidak adanya kasus campak sama sekali di Indonesia (eliminasi), bahkan di seluruh dunia! Rencana strategis (Renstra) 2012 – 2020 yang dibuat oleh WHO mencanangkan eliminasi campak dan rubella di setidaknya 5 area WHO, dan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek sudah menargetkan Indonesia bebas campak di tahun 2020, sejak tahun 2015 lalu.

Kedua: Manfaat Vaksin Campak dan Rubella

Kedua, sebagian orang berkata: “campak bukanlah penyakit berat, bukankah semua anak akan mengalami campak?” Atau “anak saya tetap kena campak, meskipun sudah diimunisasi. Apa manfaatnya vaksin campak?” Di Indonesia, ketika seorang anak mengalami demam yang disertai gejala ruam merah di kulit, maka orangtua menyebutnya sebagai campak, atau “tampak/tampek”. Padahal belum tentu penyakitnya adalah campak, tetapi bisa jadi rubella, atau yang tersering adalah roseola. Penyakit yang disebut terakhir ini dialami oleh sekitar 90% seluruh anak sebelum usianya mencapai 5 tahun (tersering pada usia 6 – 24 bulan).

Roseola yang kadang disebut “tampak” ini adalah penyakit ringan, dan tidak menimbulkan komplikasi, apalagi kematian. Sangat berbeda dengan campak. Orangtua diharapkan mengetahui perbedaannya agar tidak salah kaprah, dan paham bahayanya penyakit campak dan pentingnya imunisasi campak/MR. Maka bisa jadi, ketika orangtua berpikir anaknya tetap sakit campak meskipun sudah diimunisasi, sesungguhnya anak tersebut mengalami roseola atau rubella. Bukan campak.

Ketiga : Data Kasus Penyakit Campak dan Rubella di Indonesia

Bagaimana dengan data kasus campak di Indonesia yang turun terus, dari 10.712 kasus di tahun 2013, lalu sempat naik menjadi 12.493 kasus di tahun 2014, dan turun ke angka 8.185 kasus pada tahun 2015? Kematian yang dilaporkan pun hanya satu. Tidakkah merasa puas dengan “prestasi” yang ada? Tentu saja tidak! Penjelasan sebelumnya mengenai target Indonesia bebas campak tahun 2020 sudah sangat jelas. Bandingkan saja angka 8.185 di Indonesia tahun 2015 dengan angka 667 kasus di AS tahun 2014. Negara AS sudah merasa sangat banyak dengan jumlah tersebut! Lalu mengenai angka kematian yang hanya satu, saya merasa yakin jumlah ini masih underreported.

Tidak semua kasus kematian dilaporkan, dengan luasnya dan beragamnya geografis Indonesia, termasuk daerah-daerah pelosok, dan sistem pelaporan yang belum memadai di semua tempat. Bisa saja kenyataan yang terjadi merupakan fenomena gunung es, yaitu masih banyak kasus yang tidak atau belum terlaporkan. Di dalam petunjuk teknis kampanye imunisasi MR sendiri, Kementerian Kesehatan mengakui jumlah kasus diperkirakan masih rendah dibandingkan angka sebenarnya di lapangan, mengingat masih banyaknya kasus tidak terlaporkan, terutama dari pelayanan swasta, serta kelengkapan laporan surveilans yang masih rendah.

Keempat: Prestasi dan Cakupan Imunisasi Campak dan Rubella

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan cakupan imunisasi campak masih rendah, yaitu 82,1 persen, meskipun laporan dari data rutin imunisasi campak menunjukkan angka 97,8 persen di tahun yang sama, dan turun menjadi 92,3 persen di tahun 2015. Maka untuk mencapai target cakupan lebih dari 95 persen di tahun 2020, tantangannya menjadi sangat besar, dan kampanye imunisasi MR yang diawali tahun ini menjadi cermin bagaimana Pulau Jawa mampu menghadapinya.

Pernahkah Anda melihat anak yang dirawat di RS karena sakit campak, dengan komplikasi pneumonia, diare atau ensefalitis? Saya seorang dokter anak, dan saya melihat sendiri penderitaan anak-anak yang dirawat karena napasnya sesak, lemas akibat kekurangan cairan saat diarenya, bahkan sampai kejang berulang karena ensefalitis, dan berakhir pada kematian, atau cacat seumur hidup, setelah sebelumnya mengalami tumbuh-kembang normal! Penderitaan akibat penyakit campak dan rubella tidak semata pada fisik si anak saja, tetapi anggota keluarga lain yang terpaksa harus menemaninya menjalani sakitnya.

Ketika seorang anak dirawat, otomatis orangtuanya harus menemaninya. Sang ayah terpaksa tidak masuk kerja, atau mencari nafkah lewat berdagang misalnya, selama hari-hari anak dirawat. Belum lagi pengeluaran biaya untuk makan sehari-hari, ongkos transportasi, dan risiko mengalami kelelahan fisik dan mental yang berujung pada melemahnya daya tahan tubuh. Di AS misalnya, pada 12 (saja) kasus campak yang dilaporkan tahun 2008 di negara bagian Kalifornia, biaya kesehatan yang harus ditanggung masyarakat dihitung sebanyak 125.000 USD. (sumber: republika.co.id)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.