Mengenal Teori Iluminasi| Menata Ulang Konsep Dzikir Part – 4

0 28

Oke mari diskusi kita lanjutkan. Dalam benak penulis, epistemologi yang cenderung positivitik, bukan saja akan meruntuhkan sendi-sendi kemanusiaan, tetapi sekaligus mematahkan semangat esensial kemanusiaan. Entah kenapa, penulis menganggap bahwa dunia pendidikan, termasuk dunia pendidikan Islam, justru terlibat secara aktif mengembangkan paradigma positivitik, yang menurut ukuran subjektif penulis, justru sudah ketinggalan zaman.

Paradigma positivisme, mengutif A. Sanusi [2006] melahirkan beban baru bagi manusia. Beban itu, persis ibarat bisul. Jika bisul itu hanya satu, mungkin terasa tidak menjadi penyakit berbeban. Masalahnya, apa yang disebut dengan bisul dimaksud, hari ini persis muncul di berbagai tempat dalam tubuh manusia. Akibatnya, bisul itu, bukan saja membuat tidak nyaman bagi manusia, tetapi, ia telah menjadi hantu yang menakutkan.

Mengenal Teori Iluminasi

Bagi penulis, epistemologi pendidikan Islam secara teoretik sejatinya tidak mengajarkan sifat dan karakter yang demikian positivistik. Sumber pengetahuan dalam pendidikan Islam, tidak terbatas pada fakultas inderawi dan rasio manusia, tetapi juga dimensi Tuhan. Wujudnya terlihat dalam bentuk intuisi dan wahyu.

Objek kajian dalam pendidikan Islam sendiri, tidak terbatas pada alam dan manusia, tetapi dimensi Tuhan yang metafisik dan beyond. Konsep ini berakibat pada ukuran kebenaran yang tidak terbatas pada sejauh rasional dan sejauh dapat diukur serta dibuktikan secara empirik, tetapi mengharuskan adanya pertanggungjawaban di mata Tuhan atas segala aktivitas umat manusia.

Bagi pendidikan Islam, fungsinya ilmu, selain untuk kepentingan deskriptif, prediktif dan eksplanatif, seperti dapat ditelanjangi dari prinsip- prinsip positivistik tadi, juga untuk mencari penjelasan guna memanfaatkan hukum alam dalam menerapkan wahyu dengan fungsinya untuk mendekati Tuhan. Metode yang digunakannya tidak hanya burhani (eksperimental, instrumentasi, observasi pada fakta dan data), tetapi juga penghadapan pada teks suci (wahyu/bayani) dan penguatan hati (intuisi/irfani). Kompromi atas berbagai potensi tadi, disebut Dan Brown (2000), sebagai ciri dari prinsip-prinsip iluminasi.

Dampak dari paradigma pengetahuan yang iluminatif, manusia dan alam, selain bersifat fisik-materil juga berdimensi immateril. Alam dan manusia dalam perspektif Islam harus disebut sebagai ayat (tanda) adanya Tuhan. Manusia menjadi subjek alam namun sekaligus bergantung dan bertanggungjawab hanya pada Tuhan.

Akibat susulan lainnya adalah, aktivitas manusia selalu harus beorientasi ke hari akhir. Ujungnya keharusan pertanggungjawaban dalam setiap aktivitas dan selalu berupaya melakukan simetri dengan Tuhan dan dengan alam. Konsep pendidikan Islam yang demikian, bercita-cita untuk menjadikan manusia sebagai manusia, yakni manusia yang paripurna, karena pendidikan Islami mempertemukan dimensi fisik dengan dimensi non-fisik, dimensi materil dengan dimensi immateril, dimensi profan dengan dimensi yang sakral, duniawi dan sekaligus ukhrawi. Prof. Cecep Sumarna –bersambung–

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.