Inspirasi Tanpa Batas

Mengenang 2 Minggu Sebelum Kejatuhan Soeharto 21 Mei 1998

0 8

Konten Sponsor

Mengenang 2 Minggu Sebelum Kejatuhan Soeharto 21 Mei 1998. Tanggal 9 Mei 1998, Presiden Soeharto berangkat menuju Kairo, Mesir. Ia bersama dengan 15 negara lain akan hadir di negeri Piramid itu, untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi [KTT] G -15.  Inilah lawatan Presiden kedua RI yang paling herois sekaligus paling akhir ke luar negeri. Berangkat dalam suasana pemerintahannya yang sedang diselimuti semut mahasiswa seantero Nusantara. Mereka menuntut dilakukan reformasi.

Tiga hari di Kairo, suasana Jakarta semakin tidak kondusif. Terjadilah tragedy tri sakti pada 12 Mei 1998. Keadaan semakin tak terkendali sehingga menewaskan empat mahasiswa Trisakti yang sedang berdemonstrasi secara damai di depan kampus mereka.  Pasca penembakan dimaksud, tanpa banyak dikomando, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Barat dan Ibu Kota, tumplek datang ke Tri Sakti. Tujuan awalnya sederhana. Mereka hendak menyampaikan duka cita. Inilah, peristiwa pertama di mana ratusan ribu mahasiswa berkumpul di era Orde Baru. Saat ini juga, demontrasi mahasiswa diselimuti kerusuhan.

Awal Pernyataan Pengunduran Diri Soeharto

Sehari setelah [14 Mei], di hadapan masyarakat Indonesia di Kairo, Soeharto mengatakan bersedia mengundurkan diri jika rakyat yang menginginkannya. Saat pengumuman itu berlansgung, kerusuhan dan penjarahan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jabotabek seperti Supermarket Hero, Super Indo, Makro, Goro, Ramayana dan Borobudur.  Beberapa dari bagunan pusat perbelanjaan itu dirusak dan dibakar. Sekitar 500 orang meninggal dunia akibat kebakaran yang terjadi selama kerusuhan terjadi.

Soeharto langsung pulang dan tiba di Indonesia sehari setelahnya. Tanggal 16 Mei,  warga asing berbondong – bondong kembali ke negeri mereka. Suasana di Jabotabek semakin mencekam. 19 Mei, Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam [Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar, KH Ali Yafie, Emha Ainun Nadjid, Yusril Ihza Mahendra].

Dalam pertemuan yang berlangsung selama hampir 2,5 jam, para tokoh membeberkan situasi terakhir, di mana eleman masyarakat dan mahasiswa tetap menginginkan Soeharto mundur. Permintaan tersebut ditolak Soeharto. Ia lalu mengajukan pembentukan Komite Reformasi. Pada saat itu Soeharto menegaskan bahwa ia tak mau dipilih lagi menjadi presiden. Namun hal itu tidak mampu meredam aksi massa, mahasiswa yang datang ke Gedung MPR untuk berunjukrasa semakin banyak.

Demontrasi yang dipimpin Amien Rais itu, mengajak massa mendatangi Lapangan Monumen Nasional untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Namun pada tanggal 21 Mei 1998, jalur jalan menuju Lapangan Monumen Nasional diblokade petugas dengan pagar kawat berduri untuk mencegah massa masuk ke komplek Monumen Nasional namun pengerahan massa tak jadi dilakukan.

Pada dinihari Amien Rais meminta massa tak datang ke Lapangan Monumen Nasional karena ia khawatir kegiatan itu akan menelan korban jiwa.  Sementara ribuan mahasiswa tetap bertahan dan semakin banyak berdatangan ke gedung MPR / DPR. Mereka terus mendesak agar Soeharto mundur. Pada tanggal 21 Mei 1998,

hari Kamis, pukul 09.05, Soeharto mengumumkan mundur dari kursi Presiden. BJ. Habibie disumpah menjadi Presiden RI ketiga. Sumber Berita dari Kompas. Team lyceum.id

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar