Inspirasi Tanpa Batas

Mengenang Hari Pahlawan – Islam Indonesia Dalam Bidikan Gerakan Salafy

Secara nalar akademis-intelektual, telah banyak kitab yang mengupas dan menelanjangi ajaran dan ideology gerakan Wahabi. Namun, fenomena Wahabi bukan hanya wilayah teoritis-ilmiah, melainkan juga wilayah ekomoni-politik dan sosial.

0 82

Konten Sponsor

Pendar-pendar cahaya dalam ruang dengan nuansa akrab diskusi ilmiah menaungi ruangan ini. Sementara pedang dan mesiu masih bertebaran di sebrang sana dengan jumlah korban yang kian memilukan. Disini, di negeri ini kita masih bisa bersenda gurau dan asyik-ma’syuk berdiskusi ilmiah penuh gairah. Disana, “dinegeri antah berantah” pedang, tembakan dan bom mesiu masih terus menebar tanpa ada jera hingga darah mengalir lelah. Gerakan radikalisme, ekstrimisme, teorisme dan segala isme kekejaman lainnya belum jera dan kerapkali mengusik keberagaman dan keberagamaan kita.

Peradaban Islam (Akan Kembali) Bangkit di Indonesia

Indonesia dengan kekayaan yang lebih dari cukup untuk memberi kebutuhan masyarakatnya yang merupakan Negara dengan jumlah warga yang banyak. Tetapi, kekayaan tersebut tidak akan cukup bagi oknum yang korup. Dalam pada itu, refleksi religiusitas secara akademis di Indonesia tumbuh dengan subur, secara geografis, diantara Negara ASEAN, kaum intelektual Indonesia mewarnai gelantika pemikiran di Negara lain.

Pluralitas pemikiran keagamaan dan refleksi-ekspresif keberagamaan umat islam di Indonesia tidak bisa dinafikan. NU, Muhammadiyah, Persis, al Irsyad dan ormas sosial-agama lainnya -begitu akrab secara general- di berbagai pelosok tanah air, bahkan, kerukunan antar umat beragama tidak jarang ditemukan diberbagai daerah. Pemuka agama (baca:Ulama) sangat menyadari pluralitas ini.

Islam sebagai Agama yang selalu relevan dengan setiap waktu dan segenap sudut tempat. Islam adalah agama dengan penuh kasih sayang. Islam merupaka agama samawi yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai luhur kemanusiaan (Syariat Basyariyyah). Islam datang ke pulau Nusantara dengan begitu ramah-tamah. Tidak berbenturan dengan budaya kearifan lokal.

Gus Dur pernah bertanya sebagai sindiran kepada bangsa Indonesia terkait hal ini. “kita itu sebetulnya orang indonesia yang kebetulan beragama Islam atau orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia?”. Dalam gramatika bahasa arab, pertanyaan tersebut merupakan “istifham taqriry” . Islam Indonesia bukanlah copy-paste Islam Arab atau Mesir. Bukan Islam Turki atau Afrika.

Geliat pemikiran akademis yang begitu dinamis ditambah kerukunan umat pluralitas internal dan pluralitas eksternal umat islam begitu kentara di Indonesia menjadikan Indonesia begitu menarik sekaligus unik, hal lain yang menjadikan Indonesia begitu mengasyikan adalah kondisi psiko-sosial masyarakat yang “open” kepada “the other”. Hal ini berbeda dengan kondisi timur tengah yang Beragama islam namun penuh konflik.

Alur narasi tersebut (setelah berdiskusi dengan banyak pihak) menjadikan saya berkeyakinan Indonesia akan menjadi poros kiblat umat Islam dunia. Hal ini tidak mustahil mengingat tema muktamar NU kemaren menjadi isu global dunia, ‘islam nusantara’. Tetapi, hal ini tidak berjalan mulus secara abracadabra. Salah satu tantangannya adalah radikalisme, Ekstrimisme, terorisme dan segala bentuk kekerasan lainnya atau merka yang menyebut gerakannya sebagai gerakan dakwah salafi.

Melacak Akar Genealogi Gerakan Salafy : Telaah Historis

Bermula dari perang salib, perang yang berkecamuk pada abad tengah tersebut berlangsung bertahun-tahun dengan strategi, jumlah pasukan, budgeting yang tidak sembarangan. Perang yang menyebabkan dunia barat menanggung beban yang teramat berat, terutama bagi bangsa Aria yang mempunyai strata gengsi tinggi.

Hal ini menimbulkan dendam kesumat yang teramat sangat bagi “barat”. Maka kemudian. Untuk merealisasikan dendam tersebut, “barat” membentuk tim untuk mencari tau sumber kekuatan umat islam . Tim ini yang dikemudian hari dikenal Orientalis. Tim pencari fakta tersebut kemudian mempelajari islam dengan begitu giat dan gairah yang kuat. Sehingga kemudian melaporkan hasilnya dalam bentuk narasi, sebagai berikut

  • Kekuatan umat islam bersumber dari kekuatan spiritual dan keyakinan bahwa mati syahid adalah pintu gerbang menuju ridho Allah
  • Kekuatan dzikir untuk memohon kekuatan dan perlindungan kepada Allah swt
  • Sebelum berangkat berperang, umat islam berziarah kepada Rasulullah, Syuhada atau para Wali
  • Untuk memompa dan memelihara kekuatan umat islam, maka Salahuddin membaca manaqib rasulullah dan para sahabat

Point penting tersebut mendapat tanggapan serius dari “barat” sehingga pada peperangan episode selanjutnya, pasukan barat membawa salib keramat untuk memompa semangat pasukan. Namun, realita tidak sesuai ekspektasi, pasukan barat tetap terpukul mundur, kalah. Bahkan salib yang dikeramatkan tersebut dibakar . Orientalis kemudian merekomendasikan hal lain untuk membalas dendam kesumatnya, yaitu dengan cara menjauhkan umat islam dari dasar-dasar keyakinan beragamanya. Hal ini kemudian diamini oleh Raja Friedrick dengan melakukan langkah-langkah 1) minta bantuan umat yahudi  dan 2) mencari orang islam yang dibayar dengan apapun.

Untuk menjalankan langkah pertama tidaklah susah. Karena pada saat itu, yahudi sedang mencari dukungan para pemimpin eropa untuk mewujudkan cita-citanya kembali ke palestina, yang tidak di izinkan oleh Sultan Abdul Hamid II dari kekhalifahan Turki Utsmani. Hingga suatu saat, untuk menjalankan langkah yang kedua, seorang kapten angkatan perang the british army sekaligus Arkeolog dari Inggris bernama Thomas Adward Larence. Sebagai Arkeolog, Lawrence bisa berkelana kemanapun, tujuan yang hendak dilangkahkan adalah Kota Suci Arab, titik sentrum, sumber keramat Umat Islam. Sebelum menginjakkan kaki di kota suci tersebut, Lawrence singgah di Kuwait dan menjalin kemitraan dengan keluarga besar Assabah melanjutkan tugas Hempher yang dipersiapkan inggris untuk menjadi kakinya di Timur Tengah.

Sementara itu, wilayah Hijaz yang dalam penguasaan Gubernur Mesir Ali Basya, mendapat tugas dari Sultan Abdul Hamid II untuk meredam pemberontakan kelompok badui yang dipimpin Ibnu Su’ud hingga Ibnu Su’ud terdesak dan menjalani kehidupan dengan miskin papa dan terhina. Ibnu Su’ud meminta bantuan keluarga assabah dan kemudian dikenalkan dengan Lawrence. Darisinilah koalisi gerakan puritanisme berawal.

Artikel Terkait

Ibnu Su’ud berambisi untuk menguasai Hijaz, Lawrence memiliki misi mencari orang islam yang siap dibayar untuk “menggerogoti” islam dari dalam. Kerjasama kemitraan terjalin. Ibnu Su’ud menyodorkan kitab karya mertuanya, Muhammad Ibn Abdul Wahab, sebagai media propaganda. Lawrence meminta persetujuan atasannya, jendral Allenby yang berkedudukan di Mesir, ia pun menyutujuinya. Lalu, terjadilah apa yang terjadi. Wilayah hijaz berubah menjadi Arab Su’udy yang kemudian menjadi Arab Saudi dengan madzhab resmi Wahabi .

Semenjak itu, berbagai halaqoh ilmiah ala sunni mendapat perlakuan destruktif, sejarah mencatat. Untuk memuluskan langkahnya menjadikan Wahabi sebagai madzhab resmi Negara, kurang lebih 300 ulama mengalami inskuisisi secara massif. Hal ini mengingatkan kita akan kekejaman tentara mongol ketika melululantahkan dinasti Abbasiyah, juga ketika Spanyol mengalami degradasi sinar keislaman hingga kemudian hengkang dari Bumi Andalus tersebut.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar