Mengenang Terbentuknya NKRI pada 15 Agustus Tahun 1950

0 636

Membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI], bukanlah barang mudah. Perjalanan awal kebangsaan yang penuh keretakan pimpinan Soekarno Hatta, terus terjadi di mana-mana. Pengelolaan konflik kebangsaan yang ditandai dengan muncul dan menguatnya negara federasi, telah menyebabkan bangsa ini berada dalam kerapuhan yang sangat cepat.

Tidak sedikit isu adu domba antara berbagai negara bagian Indonesia, yang jika tidak ada langkah strategis untuk menghentikannya,  perjalanan kebangsaan yang baru terbentuk sangat mudah untuk benar-benar pecah.

Namun demikian, usaha untuk membentuk Indonesia dalam konseop Negara Kesatuan Indonesia tidaklah berhenti. Upaya itu, terus dilancarkan masyarakat dan tokoh politik di berbagai daerah. Gerakan rakyat yang pembubaran negara bagian misalnya terlihat dari upaya rakyat di Yogyakarta. Terlebih ketika membaca Oasal 43 dan 44 Konstitusi RIS, upaya penggabungan daerah satu ke daerah lain, atau negara bagian satu ke negara bagian lain,  sangat dimungkinkan. Pasal dimaksud terlebih kalau keinginan penggabungan tersebut dikehendaki rakyat dan diatur dengan Undang-undang Federal.Indonesia.

Dalam Republik Indonesia Serikat, Negara Republik Indonesia [NRI] adalah bagian dari RIS. NRI yang beribu kota di Jakarta, dipimpin Soekarno. RIS sendiri berdiri tanggal 27 Desember 1949 . Karena itu, tidak menghenrankan jika NRI sekaligus menjadi pusat RIS karena ibukota yang lokasinya di Jakarta.

Soekarno menjadi Presiden RIS. Karena itu, Soekarno mengangkat Mr..Assaat menjadi Acting Presiden Indonesia dan Mr. Soesanto Tirtoprodjo sebagai Perdana Menteri. Jabatan itu baru berakhir pada 17 Agustus 1950 saat di mana RIS bubar. Bubarnya RIS secara otomatis  menjadi cikal bakal lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI]. Saat NKRI berdiri, Assaat langsung melepaskan jabatan kepada Soekarno sebagai Presiden Repubklik Indonesia

Upaya Konstitusional Pembentukan NKRI

Upaya penggabungan negara bagian menjadi NKRI memperoleh hasil konstitusional beberapa bulan setelah RIS berdiri. Sebut misalnya, tanggal 8 Maret 1950, RIS dengan persetujuan Parlemen dan Senat mengeluarkan suatu Undang-undang Darurat. UU Darurat itu dikenal bernomor  11 tahun 1950 tentang Tata Cara Perubahan Susunan Kenegaraan RIS.

Mengacu kepada UU Darurat dimaksud, negara-negara bagian berturut-turut menggabungkan diri dengan Republik Indonesia-Yogya. Perlu dicatatatkan bahwa sampai 5 April 1950, RIS tinggal menyisakan tiga negara bagian. Ketiga negara bagian dimaksud adalah Republik Indonesia, Negara Sumatera Timur (NST) dan Negara Indonesia Timur (NIT).

Meluasnya keinginan rakyat yang ingin menggabungkan diri dalam NKRI, memaksa NRI menganjurkan kepada Pemerintah RIS, agar mengadakan perundingan dengan Negara Sumatra Timur dan Negara Indonesia Timur. Perundingan itu berfokus pada pembentukan Negara Kesatuan. Akhirnya Mei 1950, terjadilah perundingan antara RIS dan NRI. Pada 19 Mei 1950, terjadilah persetujuan kedua pemerintah yang gagasan besarnya dituangkan dalam suatu “Piagam Persetujuan yang memuat kesepakatan pembentukan negara kesatuan sebagai penjelmaan Republik Indonesia berdasarkan Proklamasi 17 Agustus 1945.

Undang-undang Dasar 1945 akhirnya memuat prinsip-prinsip yang esensial yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan “bagian-bagian lain yang dianggap baik” dari Konstitusi RIS. Panitia akhirnya berhasil menyusun RUU Dasar Negara Kesatuan RI pada tanggal 14 Agustus 1950. Dan pada tanggal 15 Agustus 1950, Soekarno membacakan piagam terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Team Lyceum. Indonesia

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.