Mengenangmu di Muzdalifah adalah Keindahan

0 82

Puisi Mengenangmu di Muzdalifah adalah keindahan. Tak terasa, berdasar perhitungan waktu, hari ini adalah detik-detik terakhirku bersama bapak kami di bumi. Saat ini, tepat di malam ini, di sembilan tahun yang lalu, aku mengadu kepada Tuhan. Suatu permohonan suci yang terlantun karena dorongan nurani yang penuh sembilu.

Kami banyak duduk diam dan hanya mengatupkan mata. Mata yang hampir tak lagi tergoda akan apapun, kecuali bagaimana kami dapat melaksanakan haji. Hembusan angin yang kencang, yang mendorong jutaan debu masuk ke dalam tubuh, tak menghalangi kami untuk terus melangkah. Melangkah ke suatu titik yang kita sebut Muzdalifah. Untuk mengenang kisah itu, berikut kutulis dan kutayangkan puisi keindahan hidup bersamanya. Hidup yang mengaransemen segenap cerita indah di perjalanan hidup di bumi.

Mengenangmu adalah Keindahan

Di malam ini
Di sembilan tahun yang lalu
Kau tak mampu bergerak dengan mulut tanpa kata
Kau hanya diam dengan tetesan air mata penuh makna

Kulihat matamu lembab dengan wajah membiru
Hamburan debu Muzdalifah melewati seluruh tubuhmu
Kau bungkus tubuhmu dalam dingin malam dengan kain putih
Kain yang kau mintakan untuk membungkus tubuh saat kematianmu

Kupikul dirimu di tengah jutaan umat yang merayap
Aku lupa akan apapun kecuali aku mendekapmu
Nafasmu semakin berat terasa di bahuku
Lalu lemas dan terasa mendingin

Aku bercerita, Pak … ini Muzdalifah
Lalu kau buka matamu dengan pelan …
Tiba-tiba kau ajak aku berdo’a di bawah tiang besar
Dengan pijar cahaya gemerlap yang menerangi gunung berpasir

Sesaat kau berjalan dengan pelan
Lalu entah mengapa tiba-tiba bergerak cepat
Kita bertemu dengan mereka yang berkulit pekat
Kau tersenyum sembilu karena aku menghibur mereka

Saat itu, kita duduk dalam hamparan karpet berdebu
Kau kembali sembilu dengan pesan yang mulai kacau
Kutidurkan kau dalam pahaku lalu tertidur dengan lemah
Dalam belaian lagu-lagu suci ketuhanan kau terus mendesah

Saat itu aku ingat ceritamu di ribuan hari yang lalu
Saat aku menangis karena demam tubuh yang terus mengganggu
Kau gendong aku dan membaringkan aku dalam pahamu
Kau elus rambutku sambil terus menghiburku

Anaku tenang dan tidurlah dengan lelap
Sambil terus kau elus rambutku kau berkata
Aku akan di sini menjaga dan merawatmu
Jangan takut bersamaku kau dapati ketenangan

Anakku ingatlah
Suatu hari aku yang akan begini
Jika hari itu benar-benar datang
Ingatlah suasana saat ini

Kau benar
Di Muzdalifah semua itu terulang
Saat itu aku melayang dan tak kuasa kuteteskan air mata
Air mata yang mengalir deras seperti saat puisi ini kuhadiahkan untukmu

Tuhan jaga dan lindungilah ayahku
Kupanjatkan ini di hari mustajabah dalam keyakinanku
Aku terlampau indah hidup bersamanya
Sehingga mengenangnyapun adalah keindahan

By. Prof. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.