Take a fresh look at your lifestyle.

Menghibur Otak dengan Menulis| Teknik dan Cara Menulis Part – 8

0 12

Konten Sponsor

Menghibur Otak dengan Menulis. Sewaktu saya masih menjadi salah seorang siswa di tingkat SLTA, ada seorang guru berkata bahwa banyak teman sewaktu kuliah yang tidak memiliki kemampuan menulis. Mereka yang tidak bisa menulis, saat ini, waktu itu ten saja, sudah menjadi guru. Tentu saya kurang percaya, ketika ada salah seorang guru berkata demikian.

Lebih tidak percaya lagi, ketika dia mengatakan bahwa banyak di antara para pendidik mahasiswa [dosen], juga ternyata tidak mampu menulis. Menulis apa saja; opini, informasi aktual, feature, makalah ilmiah atau tulisan serius lain dalam kepentingan akademik. Dalam hati waktu itu, apa mungkin? Saya menyimpulkan tidak percaya.

Bagaimana mungkin harus percaya? Kami sendiri yang waktu itu masih menjadi siswa di SLTA saja, menulis atau mengarang sesuatu menjadi pelajaran wajib. Jadi, menulis telah menjadi tradisi atau menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan oleh kami. Kami memiliki buku harian yang dinamai X File. Kami mencatat semua peristiwa yang dilihat, didengar dan dipikirkan.

Dari perjalanan itu, secara tidak langsung, kami terlatih untuk menghubungkan apa yang dilihat dan didengar itu, dengan pikiran kami. Secara tidak sadar, kami terlatih mengekplorasi realitas  ke dalam pergolakan pemikiran atau sebaliknya. Kami lalu memuntahkannya ke dalam bentuk tulisan. Tulisan yang kami simpan dalam X File. Selama di SMA itu, tidak kurang dari 6 X File dalam buku yang cukup tebal. Hal yang sama berlaku saat kami mengikuti perkuliahan.

Tidak Bisa Menulis itu ternyata Fakta

Tetapi, celotehan guru sewaktu di SLTA itu ternyata benar. Saat kamii menjadi mahasiswa, ternyata mereka yang tidak memiliki kemampuan menulis itu banyak atau bahkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang mampu menulis. Mereka tidak memiliki keterampilan karena tidak memiliki tradisi menulis. Lebih kaget lagi ketika ternyata, yang tidak mampu menulis itu, menghinggapi mereka yang menjadi dosen dan pembimbing termasuk yang membimbing karya tulis mahasiswa.

Pengetahuan saya yang membenarkan apa yang disampaikan guru SLTA itu, kemudian diamati dalam durasi waktu yang cukup panjang. Hasilnya menyimpulkan bahwa ketidakmampuan itu, terjadi karena memang tidak memiliki habit menulis. Menulis itu soal kebiasaan.

Secerdas apapun seseorang dalam berpikir dan membaca sesuatu, tidak menjamin mampu menulis, sepanjang dirinya, tidak memiliki kebiasaan menulis. Padahal, mereka yang biasa membaca dan mengamati sesuatu, tetapi tidak mampu diekspresikan pada sebuah tulisan, maka, dirinya pasti akan mengalami penyempitan. Inilah yang berbahaya. Karena itu, segeralah membiasakan menulis agar tidak terjadi penyempitan ….. Menulis itu hiburan paling indah. Prof. Cecep Sumarna