Menghimpun Taubat di Arafah | Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah Part- 19

Menghimpun Taubat di Arafah | Mencari Tuhan Di Kaki Ka’bah Part- 19
0 93

Menghimpun Taubat di Arafah. Waktu yang ditunggu-tunggu jama’ah haji, akhirnya datang juga. Prosesi pelaksanaan ibadah haji, di mana kami sudah berada di jazirah Arab selama kurang lebih 16 hari, akan segera dimulai. Jumlah hari dimaksud, tentu jika kami menghitung jarak waktu ketika kami mulai tinggal di Medinah.

Hari itu, tepat tanggal 08 Dzul Hijjah. Seluruh jama’ah haji sudah memakai pakaian ihram. Pakaian yang secara keseluruhan berwarna putih. Pakaian yang menandakan kehidupan kita di alam kubur. Pakaian yang mengharamkan untuk menggunakan kain berjahit, kecuali bagi wanita. Inilah pakaian yang mendorong manusia menuju alam primordial yang sesungguhnya alam. Pakaian yang konon tidak akan pernah pupus terbakar terkaman panasnya api neraka.

Tidak ada menteri, tidak ada pengusaha. Tidak ada petani dan tidak ada pedagang. Tidak ada nelayan, tidak ada pegawai serabutan. Tidak ada artis dan tidak ada olah ragawan. Semua sama! Mereka memperoleh tempat dan kedudukan yang sama.  Symbol-nya pakaian yang digunakan sama, yakni putih. Tidak ada jama’ah yang tidak menangis. Cucuran air mata meleleh di pipi kiri kanan jama’ah. Dalam soal ini, termasuk Crhonos, menangis. Sambil meneteskan air mata, Crhonos berkata:

“Allahumma inni uharrimmu nafsi min kulli ma harramta ala al muhrimi farhamni ya arhamarrahimiin, [Ya Allah ya rabbi, dengan memakai pakaian ihramku ini, aku mengharamkan apapun yang Kau haramkan atas ihram. Rahmati dan sayangi kami ini Ya Allah dengan sebenar-benarnya rahmat].

Ya Allah perkenankanlah, saat kami mati nanti, jadikanlah pakaian ihram ini sebagai pembalut tubuhku. Ya Allah dengan pakaian ini, aku seolah tak lagi membutuhkan apapun, karena ternyata yang kubawa hanya pakaian-pakaian yang tak berharga ini. Ya Allah sejak detik ini, jadikanlah dan kawallah aku dalam kedudukanku sebagai Muslim yang benar-benar tunduk dan patuh terhadap-Mu.”

Ia kemudian memakaikan pakaian ihram untuk Shofi. Tubuhnya semakin tampak sangat kurus. Ia juga sedikitpun tidak menunjukkan rasa sehatnya dengan baik. Ia menghela nafas dan tarikan nafasnya semakin terdengar sengau. Ia memakainkan satu persatu pakaian ihram itu, dan ia terus berdo’a dan bermunajat kepada Allah, agar Shofi dapat melaksanakan rukun haji ini. Akhirnya, pakaian ihram Shofipun terpakaikan. Shofi berbisik:

“Anak-ku, berjanjilah padaku bahwa kelak ketika aku mati, meninggalkanmu bersama dengan kakak dan adik-adikmu, serta seluruh cucuku, pakaikanlah pakaian ini sebagai pembalut kain kafanku. Kini, aku tak memiliki kuasa atas apapun. Tampaknya aku semakin dekat dengan kematianku. Aku hanya berharap, aku tidak dimatikan di sini. Aku masih ingin menjumpai keturunanku, karena aku belum berwasiat ketakwaan kepada mereka semua. Kamu harus tahu, inilah pakaian yang kuyakini tidak akan pernah terkena api neraka.

Shofi dan Crhonos menangis. Ia bercucuran air mata. Inilah sosok yang sangat dikagumi Crhonos. Seorang aki-laki yang demikian gagah dan tegas, kini menjadi layu. Seorang suami yang sangat baik bagi istrinya dan seorang bapak yang demikian bijaksana. Tidak ada kata kotor yang ke luar dari mulutnya untuk anak-anaknya. Ia meneteskan air air mata dan hanya air mata, saat kami masih kecil, khususnya ketika tahu anaknya nakal.

Berjejer di Pelataran Maktab

Setelah semua jama’ah memakai pakaian ihram, mereka duduk di pelataran teras Maktab. Berjejer seperti jejeran para ahli kungfu dengan stelan semua serba putih. Wajah-wajah berseri tampak di mata mereka, meski tampak juga secara fisik sangat lelah. Pancaran wajah penuh harap akan maghfirah Allah terlihat.

Buku kecil yang diberikan petugas haji, dijinjing dan dibuka mereka. Kadang mereka melafalkannya karena takut nanti salah membuat niat. Sal berwarna-warna melingkar di leher seluruh jama’ah. Para jama’ah berkumpul seperti sebuah koloni yang berbeda-beda, namun tetap sama. Tidak sedikit, di antara mereka komat-kami membaca berbagai bacaan.

Berjam-jam jama’ah menunggu mobil yang akan berangkat ke Arafah.  Banyak orang tua yang terpaksa bolak balik menuju wc baik untuk keperluan hajat besar maupun hajat kecil. Tidak sedikit yang mengalami mencret. Suara batuk-batuk jama’ah dengan dahak-dahak yang agak membiru, bersahutan antara satu jama’ah dengan jama’ah lain. Tampak jama’ah sudah sangat lelah.

Di Syari Syuhada Kota Mekkah, mobil-mobil bus mewah melintasi kami. Jama’ah asal Iran, Irak, Quwait, Malaysia, Brunai Darussalam sudah melewati kami. Jama’ah duduk di kursi mobil yang kelihatan sangat empuk dan mewah. Berjejer secara tertib dua orang jama’ah per set jok. Mereka begitu tertib dan terlihat sangat terdidik. Setiap mobil yang lewat, kami berharap itulah mobil yang akan mengangkut kami. Tetapi, ternyata bukan.

Dengan speaker kecil, kepala rombongan akhirnya mengumumkan kepada seluruh jama’ah untuk mempersiapkan diri. Mobil yang akan kami tumpangi, beberapa menit lagi akan segera datang. Dan benar juga, mobil itu datang menjemput kami. Mobil yang sudah sangat dekil dan kotor, menjadi kendaraan istimewa yang kami mampu bayar.  Di mobil itulah, kami menumpangi kendaraan ini.

Impian untuk menaiki kendaraan yang biasa digunakan jama’ah asal negara-negara lain, pupus sudah. Dengan menghela nafas, crhonos berkata: “Ya inilah Indonesia. Negeri besar dengan potensi alam yang luar bisa, tidak pernah terpelihara dengan baik. Inilah salah satu alat buktinya. Kadang aku kasin menyaksikan, bagaimana jama’ah asal Indonesia ini, dengan tulus menjalani ibadah. Mereka berangkat dengan keimanan yang tinggi. Ya Allah ampunilah kami”.

Perjalanan yang Sangat Macet

Lama sekali kami sampai ke tempat wukup itu. Mobil yang kami tumpangi berjalan sangat pelan. Sehingga sampainya mobil ke tempat wukuf, saat hari berganti menjadi malam. Ratusan ribu bus terpanggang macet. Bahkan jika diperkenankan jalan kaki dari Tan’im ke tempat wukup dimaksud, jauh akan lebih cepat sampainya dibandingkan dengan naik bus.

Malam hari, saat kami berjalan melintasi bukit-bukit berdebu, Shofi berdiri dan diam. Dia menyaksikan sebuah lampu pijar raksasa yang menerangi hampir sebagian besar bukit yang kami lewati. Crhonos begitu bersemangat memungut batu-batu kerikil yang beberapa hari ke depan akan digunakan untuk melakukan jumrah. Ia memungut batu-batu kecil itu, untuk keperluan empat jama’ah.

Di perjalanan malam itulah, waktu malam akhirnya berubah menjadi dini hari. Jama’ah terus berjalan menurungi suatu bukit menuju titik tertentu, sebab nanti siang, mulai pukul 12.00 sampai dengan pukul 18.00 waktu setempat pelaksaan wukuf akan kami lakukan.

Sampailah kami ke tenda yang relative besar. Suatu tenda yang agak mirip dengan tenda anak pramuka. Kapasitasnya mampu menampung  150 sampai 200 jama’ah. Kami sudah sampai dan berada di tempat untuk melaksanakan wukuf.

Dini hari tanggal 09. Dzul Hijjah, semua jama’ah asal Indonesia sudah berada di Arafah. Crhonos ke luar dari tenda. Ia melihat alam demikian teduh. Meski tidak mengandung makna akan turun hujan. Ia menyaksikan langit seperti sedang turun ke bumi. Ia kaget dan agak sedikit histeria. Ia melihat pelataran Arofah yang ternyata di sekitarnya ada Jabal rahmah dan Masjid Namirah. Inilah dua tempat bersejarah umat manusia, yang diprakarsai oleh Adam dan Ibrahim.

Kuhimpunkan Do’a Pertaubatanku di Arafah

Saat itu, Crhonos ingat bagaimana para kyai desa menyampaikan kepada dirinya bahwa saat pelaksanaan wukuf di Arafah, trilyunan Malaikat turun ke bumi. Mereka akan memohonkan kepada Allah atas apa yang diminta manusia . Manusia yang sedang melaksanakan wukuf di Arafah ini. Sambil menengadah ke langit, Crhonos menyampaikan do’a sebagai berikut:

“Ya Allah di tempat inilah, Kau berjanji akan mengampuni dosa manusia, tentu jika itu diminta manusia. Kau juga menyatakan bahwa mereka yang melakukan wukuf di tempat ini, akan dijauhkan darinya siksa api neraka. Kau juga menyatakan siapapun yang berwukuf di tempat ini dengan cara yang benar dengan niat yang juga benar, akan dikabulkan semua do’anya. Di sini aku berdo’a apa yang terdapat di hatiku. Terimalah do’a kami .. Amiiin “

Padang Arafah, secara historis adalah tempat yang menjadi petunjuk untuk Nabi Adam dan Hawa. Menurut cerita, setelah Adam dan Hawa ke luar dari Syurga, keduanya hidup terpencar. Lalu Malaikat yang disuruh Allah untuk mengarahkan Adam dan Hawa menuju tempat ini.

Di tempat inilah, Adam dan Hawa bertaubat. Keduanya memohon ampun atas segala dosa yang dilakukannya. Setelah keduanya bertemu, mereka tidak pernah berpisah sampai akhir hayat.  Di tempat inilah, “Keduanya sebagaimana terekam dalam al Qur’an surat Al-A’raf [70]: 23 yang artinya:

Ya … Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Crhonos melamun panjang setelah mengingat ayat ini. Lalu  membuat ilustrasi sendiri. Ia menyatakan:

Mungkin, tempat ini disebut Arafah, bukan hanya sekedar keduanya dipertemukan ulang di sini, tetapi, sangat mungkin, keduanya baru sadar telah berbuat dosa sehingga keduanya mengetahui (‘arafa) dosanya. Di tempat inilah, mereka mengetahui caranya bertaubat. Ya Allah perkenankanlah kami sadar atas dosa kami. Dan berilah kami jalan ke luar bagaimana cara kami melakukan pertaubatan atasnya.

Akhirnya, waktu untuk wukuf-pun datang. Seluruh jama’ah melaksanakan shalat dhuhur dan ashar dengan cara di jama’ takdzin dilakukan secara berjama’ah. Inilah suatu moent istimewa dan sangat indah, saat di mana semua permintaan dan do’a yang dipanjatkan hamba-hamba Tuhan akan terus menyambung kehadirat Allah Swt. By. Charly Siera –bersambung.

Komentar
Memuat...