Mengkaji Ulang Potensi Pendidikan Indonesia| Mengurai Benang Kusut Pendidikan Part -1

Mengkaji Ulang Potensi Pendidikan Indonesia
0 38

Mengkaji Ulang Potensi Pendidikan Indonesia. Kondisi guru di Indonesia, dalam satu dasawarsa terakhir, merasa telah diperhatikan pemerintah. Posisi dan eksistensi dunia pendidikan, bukan saja ramai didiskusikan di ruang akademis, di ruang birokrat karier, tetapi juga di kalangan politisi. Suatu proses yang di jaman dulu, seolah berjarak dengan dunia pendidikan.

Tampaknya, sejak reformasi bergulir, terdapat kesadaran kolektif publik di sebagian besar masyarakat dan bangsa Indonesia. Mereka umumnya berkesimpulan bahwa nasib bangsa sangat tergantung kepada pendidikan. Namun demikian, nasib pendidikan juga akan sangat bergantung kepada nasib guru.

Kesadaran akan pentingnya eksistensi dan posisi guru, bagi bangsa dan negara maju, sebenarnya sudah lama dimiliki. Negara seperti Jepang dan Amerika Serikat sudah lama mengkaji soal posisi guru dalam relasinya dengan negara. Coba bagaimana Hirohito, seorang Kaisar Jepang harus berkata, beberapa saat setelah Hirosima dan Nagasaki diluluhlantakan Amerika Serikat.

Kaisar kharismatik itu, beberapa saat setelah bom sekutu meledak di pusat-pusat Kota jepang, langsung meminta kepada penggawa negara untuk menghitung berapa jumlah guru yang masih tersisa. Hal yang sama berlaku untuk Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, bertanya berapa guru yang tersisa saat bom di Pearl Harbour dijatuhkan Jepang.

Jhon F. Kenedy lain lagi. Presiden Amerika yang dekat dengan Soekarno, langsung geram dengan mempertanyakan kualitas pembelajaran di dalam kelas mereka, sesaat setelah diluncurkannya satelif pertama Sputnik I di dunia oleh Uni Soviet. Diketahui bersama bahwa pada tanggal 4 Oktober 1957, Uni Soviet berhasil meluncurkan Sputnik yang secara teknologis berarti mengalahkan Amerika.

Posisi Guru dalam Pendidikan

Lalu bagaimana perhatian negara Indonesia dalam pengelolaan pendidikan termasuk pengelolaan guru. Pendidikan Indonesia, sering dianalis para kebijakan pendidikan, selalu terlambat dalam pengelolaan pendidikan yang lebih strategis. Akibatnya, pendidikan Indonesia bukan saja jauh tertinggal dengan negara model Amerika dan Unisoviet atau Rusia tadi, dengan Malaysia saja, Indonesia kalah.

Padahal dalam berbagai catatan sejarah pernah ditulis juga kalau negeri tetangga itu, pernah sempat mengimpor guru dari Indonesia di awal kemerdekaannya. Hari ini, negeri Malaysia mampu mengalahkan Indonesia. Kekalahan pendidikan di Indonesia tersebut, salah satunya berdasarkan analis kebijakan pendidikan tersebut, karena perhatiannya terhadap guru di Indonesia sangat rendah.

Menarik untuk disebut bahwa, pendidikan Indonesia, bahkan kalah oleh Vietnam yang baru saja keluar dari krisis politik. Gagasan Ho Chi Minh di Vietnam, telah pula meletakkan sebuah pembangunan negara dengan sandaran utama kualitas guru.

Apa yang dikatakan Ho Chi Minh di Vietnam. Ia menurut Jaim Uhrowi [Republika, 22 Mei 2007] menyebut No Teacher No Education. Jadilah mereka sebagai salah satu negeri yang sebelumnya penuh kritis menjadi negeri baru yang ramah, termasuk keramahannya dalam pengelolaan pendidikan. Berikut kami akan menayangkan beberapa pemikiran soal problem pendidikan dan guru di Indonesia. Tulisan akan berseri ditulis oleh saya sendiri, saat yang kami sedang menyusun naskah akademik pengelolaan Akademi yang baru dimiliki. Prof. Cecep Sumarna –tulisan bersambung

 

Komentar
Memuat...