Menguatnya Konflik Berbagai Macam Filsafat Pendidikan

0 39

Intensitas konflik antara berbagai macam filsafat. Dewey bangkit dengan kemampuan filsafat dan pendidikannya dengan menyerukan pembelajaran yang didasarkan pada filsafat pragmatisme yang akarnya berasal dari –dan Dewey sendiri memberikan kontribusi pada pengokohan akar ini- dari sosilisme Darwinian. Dewey menyalakan antusiasme di kalangan pendukung, dan mempengaruhi gairah para penentang khususnya pihak Katholik. Perselisihan ini menyebabkan membanjirnya buku-buku tentang filsafat pendidikan.

Dengan menguatnya intensitas polemik maka menguat juga perbedaan antara agen-agen berbagai macam orientasi filsafat pendidikan. Kebanyakannya mengambil orientasi pragmatisme progresif dan lainnya berada di barisan orientasi tradisional. Pragmatisme juga terbagi menjadi beberapa bagian, di antaranya adalah Romantisme yang pandangan-pandangannya berasal dari para pemikir semisal Stanley Howl dan Freud. Yang kedunya misalnya –yang oleh Brubacher disebut dengan perdamaian dan moderasi- menyandarkan pemikirannya kepada pandangan-pandangan John Dewey.

Alasan dan Sebab Saling Bertentangannya Aliran- Aliran Filsafat Pendidikan

John Brubacher menguraikan alasan dan sebab saling bertentangannya aliran-aliran filsafat pendidikan, sehingga disebutkan bahwa sebab-sebabnya adalah fenomenal dan asli.

Sebab Fenomenal

Adapun sebab fenomenal memusatkan pada pendirian seperti reaksi yang bertentangan terhadap faham-faham tradisional terdahulu. Pada saat mazhab-mazhab tradisional menjalankan ilmu Psikologi Metafisika datanglah gerakan progresif untuk mendirikan ilmu psikologi dengan basis Biologi, khususnya teori evolusi organik Darwinian, disamping aplikasi pendidikan dalam bidang studi Antropologi dan Sosiologi.

Sebab Asli

Sedangkan dalam kaitannya dengan sebab-sebab asli yang menyebabkan polemik pendidikan yang membentuk inkubator sebab-sebab fenomenal maka Brubacher menyebutkan bahwa ia mendukung aliran-aliran baru dari revolusi politik dan ekonomi yang menyebabkan banyak konflik karena kekuasaan politik antara berbagai macam otokrasi yang mencakup kebebasan bertindak, kebebasan individu dan pragmatisme pembebasan. Semua orientasi pendidikan ini merefleksikan sarana yang efektif untuk merekonstruksi pemikiran dan orientasi yang mengabdi kepada prinsip dan politiknya. Mereka merengkul para pendidik dan filosuf yang berjalan dalam horison orientasi keyakinan dan kekuatan politik.

Perbedaan Mendefinisikan Filsafat Pendidikan Konfrontatif

Dengan demikian memungkinkan mendefinisikan bidang perbedaan antara filsafat-filsafat pendidikan yang konfrontatif ini sebagai berikut:

Pertama, filsafat-filsafat pendidikan ini sepakat dalam mendefinisikan bingkai umum untuk filsafat pendidikan. Bingkai ini terdiri dari tiga unsur. Pertama unsur al haqiqah (ontologi), al ma’rafah (epistemologi) dan al qiyam wal aqa`id (aksiologi). Hanya saja terjadi begitu besar ambiguitas mengenai penafsiran cakupan masing-masing dari tiga unsur tersebut. Sebagian membatasi hakikat hanya pada monostic materialism (eksistensi material) di mana eksistensi itu tidak memiliki tujuan dan tidak ada kekuatan luhur di baliknya, dan tidak ada dunia selain alam inderawi ini.

Manusia termasuk esensi alam inderawi itu sendiri seperti tanaman, hewan dan benda mati. Filsafat-filsafat lain menyatakan bahwa eksistensi ini memiliki tujuan. Manusia mampu mengenali Tuhan dan hukum etika melalui studi watak kemanusiaan dan peristiwa-peristiwa sejarah. Di antara agen orientasi ini adalah John Wild.

Filsafat lain mengatakan bahwa hakikat wujud adalah jiwa dan bahwa alam jiwa menjangkau alam materi dengan wujud, termasuk di dalamnya manusia- yang tersusun dari materi dan jiwa, dan jiwa memiliki hegemoni dan orientasi. Di antara agen orientasi ini adalah Herman H. Horne yang penjelasannya telah diberikan sebelumnya.

Filsafat lain meragukan kemungkinan mengidentifikasi hakikat seluruhnya. Pengetahuan manusia terbatas dengan keterbatasan pengalamannya. Di antara agen orientasi ini adalah John Dewey.

Kedua, filsafat-filsafat pendidikan berbeda pendapat tentang pengertian –filsafat pendidikan- itu sendiri dan dalam menentukan cakupannya dan pusat di mana ia harus berdiri. Terkait pusat tersebut filsafat terbagi menjadi dua bagian. Kelompok pertama menyerukan untuk menjadikan anak sebagai pusat proses pendidikan (child-centered) dan kelompok kedua yang menjadikan materi pembelajaran sebagai pusat proses pendidikan (subject-centered). Kelompok pertama disebut progresivis dan sementara yang kedua disebut tardisionalis atau pendukung materilisme essensialis. ***Dr. Majid Irsani Al Kailani

Bahan Bacaan

Joe Park, Selected Readings in the Philosophy of Education, New York

William H. Howick, Philosphies of Western Education, tt.

John S. Brubacher, “The Challenge to Philosophize about Education” dalam Modern Philosophies and Educations, Fifth-Fourth Yearbook of the National Soceity for the Study of Education (Chicago: univeristy of Chicago, 1955)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.