Mengukur Intelektualisme dengan Menulis| Teknik dan Cara Menulis Part – 3

Mengukur Intelektualisme dengan Menulis
0 19

Menulis itu ibadah. Ibadah untuk mentransformasi suatu gagasan yang dimiliki penulis itu sendiri untuk dirinya, dan semoga ada manfaatnya untuk orang lain. Karena itu, pahala atau apapun istilah yang mungkin dapat disandingkan dengan kata pahala, atas  apa yang ditulis penulis, tak mungkin mampu dibayar apapun, termasuk jika bayaran itu berbentuk nilai mata uang asing seperti US dollar.

Ini penting saya tuliskan, karena banyak pihak selalu mentamsilkan penulisan akan sesuatu, selalu harus disandingkan dengan kata berapa dibayar. Ini keliru, terlebih dalam konteks Indonesia, yang kurang ramah terhadap tulisan, jika asumsinya pada bayaran. Saya melihat mereka yang mau menulis, apapun itu tulisannya, ia sedang bergerak dari satu situasi jumud menuju kemerdekaan diri. Ia akan duduk, berdiri dan bergerak dalam dinamika berpikir yang bukan hanya sekedar kreatif, tetapi, selalu meramaikan dirinya, sekalipun berada dalam dunia yang sepi.

Dengan nalar tadi, maka, sesungguhnya sebuah tulisan itu, berkepentingan untuk dirinya sendiri dan untuk kepentingan penulisnya sendiri. Membuat suatu tulisan, sejatinya bukan untuk orang lain. Karenanya, kita tidak butuh penilaian; positif atau negative dari apa yang kita tulis dari orang lain. Hak publik untuk menilai atas apa yang kita tulis; positif atau negatif. Namun satu hal yang menjadi catatan penting adalah, biasanya orang yang demikian pandai memberi penilaian negatif atas suatu karya, ia sejatinya tidak pernah bisa menulis. Itu saja.

Figure Intelektual Muda

Adik sosiologis saya, bernama Nanan Abdul Manan. Sosok intelektual kreatif dan imaginatif, adalah bagian dari sosok atau figure intelektual muda, yang lama melakukan “persetubuhan” intelektual bersama kami dalam berbagai event ilmiah yang kami miliki. Melalui karya terbarunya ini, kini, ia hadir dalam keakuannya sendiri, mengisi ruang kosebagai sosok yang bukan hanya sekedar membalutkan intelektualismenya dalam pikirannya yang tunggal, tetapi, mencoba melakukan proses emanasi berpikir ke publik luas.

Ia, tentu bersama sejumlah penulis muda lain yang kami bina dalam rangkaian ribuan hari, ingin bersama-sama mengabadikan dirinya sebagai manusia yang pernah hadir di muka bumi. Ia menjadi sadar, bahwa ternyata pada akhirnya, ada sesuatu yang harus selalu terabadikan. Dan satu-satunya, yang mungkin “terbadikan” itu adalah produk pemikiran yang tertuang ke dalam bentuk tulisan.

In group, kami harus juga mengatakan bahwa, tulisan-tulisan yang sedang kami gagas. Harus berangkat dan bergerak dari sesuatu yang bersipat pengalaman empiris, lepas apakah itu berpretensi kebaikan atau keburukan. Tujuannya, agar apa yang ditangkap melalui proses berpikir dari dunia empiris ini, mungkin sebagian atau seluruhnya, dapat memberi inspirasi bagi siapapun yang mengenal dan membaca pikirannya.

Sebagai salah seorang yang lama mengenal penulis muda energetic ini. Akhirnya, saya harus mengucapkan selamat dan sukses, semoga karya ini bukan hanya sekedar dapat menjadi api penyulut bagi lahirnya pemikiran dia yang lain, tetapi, juga dapat menyulut api intelektual mereka yang ada di sejawat dan di bawahnya. Semoga demikian. Amiiin ….. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...