Mengukur Keberhasilan Komunikasi

0 176

Mengukur Keberhasilan Komunikasi. Manusia, dalam bahasa Arab diperkenalkan dengan kata al nas. Kata ini, memiliki relevansi dengan kata al nush, yang mengandung makna harmoni. Mengapa manusia dijuluki harmoni. Karena manusia dicipta Tuhan dengan potensialitas dasarnya, sebagai sosok yang harus selalu harmoni dan selaras dengan berbagai situasi dan dinamika di lingkungan di mana dia berada. Karena itu, bukan manusia, jika ia tidak mampu membangun harmoni antar sesama manusia, manusia dengan alam dan tentu manusia dengan Tuhan. Harmoni itu dapat dilakukan salah satunya melalui kemampuan komunikasi massa

Mengapa disebut harmoni? Karena manusia adalah makhluk yang tidak mungkin hidup sendiri tanpa bantuan orang lain sedikitpun. Ia akan selalu hidup bersama dengan kebutuhan dan ketergantungannya kepada yang lain. Itu pula yang dalam istilah Biologi diperkenalkan dengan nama eko sistem.

Karena manusia membutuhkan orang lain, maka, dibutuhkan sarana untuk membangun suatu koloni, suatu komunitas dan satu group tertentu agar ia mampu berinteraksi dengan yang lain. Allah secara tepat, memberi sarana dan alat itu, dalam apa yang disebut dengan bahasa. Rangkaian bahasa yang dibutuhkan manusia dalam kerangka membangun harmoni itu, dalam istilah temporer disebut dengan kata komunikasi.

Kemahiran komunikasi, karena itu, pasti dibutuhkan setiap orang. Melalui kegiatan komunikasi, manusia dapat melakukan interaksi agar dapat memahami orang lain dan tentu ia juga difahami yang lain. Apa yang dibuthkan orang lain dan apa yang dibutuhkan kita, dapat saling difahami. Karena itu, kegiatan komunikasi pasti bersipat mutual. Para ahli kemudian menyebut komunikasi sebagai kebutuhan dasar manusia.

Berhasil atau gagalnya hidup seseorang, salah satunya tergantung kepada kemampuan seseorang dalam melakukan komunikasi. Makalah ini, akan menyajikan fungsi bahasa sebagai sebagai sarana dan alat ekspresi diri dalam memahami orang lain dan bagaimana agar kita mampu difahami yang lain. Dua fungsi komunikasi ini, tentu membutuhkan kemampuan berbahasa, yang dampaknya, menurut saya relatif tepat untuk digunakan dalam membangun massa, termasuk didalamnya membangun komunikasi yang lebih mutual dan lebih fungsional, termasuk dalam kegiatan berpolitik.

Makna Komunikasi

Para ahli bahasa, umumnya membagi komunikasi –tentu membutuhkan kemampuan berbahasa– dalam dua jenis kegiatan. Dua jenis kegiatan dimaksud adalah: komunikasi verbal dan komunikasi non verbal. Komunikasi verbal adalah penyampaian pesan atau informasi melalui bahasa lisan kepada orang lain, sedangkan komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan atau informasi melalui isyarat atau ekspresi tubuh. Tujuan dua kegiatan dimaksud adalah bagaiama kita memahami orang lain, atau bagaimana kita dapat difahami orang lain. Hubungannya bersipat mutual dan tidak ada pihak-pihak yang dirugikan atas kegiatan komunikasi itu.

Secara bahasa, kata komunikasi berasal dari bahasa Inggris –serapan bahasa Latin– yaitu communis yang artinya milik bersama atau membagi bersama. Secara terminologi, komunikasi adalah proses penyampaian suatu pernyataan oleh satu pihak kepada pihak yang lainnya atau banyak pihak supaya bisa terhubung dengan lingkungan yang ada disekitarnya.

Dalam kegiatan komunikasi, pasti membutuhkan bahasa. Mengapa? Karena bahasa adalah alat komunikasi verbal yang digunakan manusia untuk melakukan relasi dengan manusia lain. Ia tersusun dalam sistem lambang atau bunyi tertentu yang membentuk sebuah ujaran sehingga terbangun hubungan psikologis antara satu subjek dengan satu objek tertentu yang dapat membangun saling pengertian didalamnya. Dalam setiap pengguna, bahasa selalu berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya dan ditetapkan tata aturannya oleh para pengambil kebijakan. Dalam bahasa Indonesia dikenal dengan istilah Ejaan Yang Telah Disempurnakan.

Alat Komunikasi

Bahasa sendiri berfungsi sebagai sarana sekaligus sebagai alat komunikasi untuk melakukan integrasi dan adaptasi dari suatu pemikiran tertentu yang diambil dari sebuah realitas, yang kemudian terbentuk dalam suatu koherensi terstruktur dan logis yang apat ditransformasikan ke dalam bentuk ide ke publik. Karena itu, tidak heran jika Mc. Carthy menyebut bahasa sebagai praktik yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan berpikir seseorang sekaligus dalam bahasa Plato, sebagai salah satu sarana dan alat bagaimana keinginan dan gagasan kita dapat difahami orang lain, dan sebaliknya.

Pakar-pakar bahasa, dalam ragam tafsirnya, setidaknya telah menyepakati sebelas fungsi bahasa dalam relasinya dengan kegiatan komunikasi. Kesebelas fungsi dimaksud adalah sebagai berikut: 1). Bahasa sebagai sarana integrasi dan adaptasi; 2). Bahasa sebagai sarana kontrol sosial; 3). Bahasa sebagai sarana memahami diri; 4). Bahasa sebagai sarana ekspresi diri; 5). Bahasa sebagai sarana memahami orang lain; 6). Bahasa sebagai sarana mengamati lingkungan sekitar; 7). Bahasa sebagai sarana berfikir logis; 8). Bahasa membangun kecerdasan; 9). Bahasa mengembangkan kecerdasan ganda; 10). Bahasa Mengembangkan profesi; 11). Bahasa sarana menciptakan kreativitas baru

Peran dan Fungsi Komunikasi

Kegiatan komunikasi, pasti membutuhkan serangkaian kata yang kemudian disebut kalimat. Kalimat yang baik dalam tradisi Islam diperkalkan dengan sebutan, sebuah kata yang tersusun dengan rapih, yang dapat memberi pemahaman yang utuh atas apa yang dimaksud pembicara kepada lawan bicaranya, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memahami maksud yang diutarakan pembicara. Karena itu, pelaku komunikasi, semestinya dilakukan dalam satu semangat bagaimana setiap diri kita dapat memahami orang lain dan orang lain memahami kita.

Kegiatan komunikasi harus mampu menghasilkan suatu semangat agar terhindar dari kemungkinan munculnya ketidaksesuaian antara apa yang diinginkan dengan apa yang terjadi. Akibat fatalnya adalah lahirnya salah arah atau bahkan hilang arah. Hal ini sangat mungkin terjadi, terlebih di lingkungan atau di sebuah organisasi – seperti Parpol, termasuk PDIP– yang didalamnya terdapat berbagai macam individu dengan karakter, sifat dan watak yang berbeda, serta tingkat pendidikan dan pemahaman akan sesuatu yang juga beda satu sama lain.

Sebut misalnya dalam lingkup Partai Demokrasi Indonesia (PDI), yang setelah reformasi ditambah dengan kata Perjuangan (PDIP). Parpol ini, adalah partai politik Indonesia tertua selain PPP, karena selama 32 tahun Golkar tidak pernah menjadi Parpol. Partai ini pernah menjadi kontestan Pemilu tahun 1971.

Partai ini, didirikan tanggal 10 Januari 1973. Ia merupakan fusi (penggabungan) dari beberapa partai politik Indonesia seperti: Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI) dan juga dua partai keagamaan Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Fusi ini terjadi karena pemerintah Orde Baru melahirkan Undang-undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Golkar, diadakanlah fusi (penggabungan) partai-partai politik, yang menjadi hanya dua partai politik (yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia) dan satu Golongan Karya. Dengan berbagai dinamikanya, PDIP sebenarnya dapat disebut sebagai salah satu partai mapan karena pengalaman organisatorisnya yang cukup panjang

PDIP dan Organisasi Politik.

Saya melihat bahwa, di lingkup organisasi politik seperti PDIP, yang kompleksitas dan variannya sangat beraneka ragam ini, setidaknya setiap orang membutuhkan dua kemampuan komunikasi, yakni komunikasi massa dan komunikasi organisasi. Komunikasi massa diperlukan karena ia selalu berada dalam ruang dan lingkungan hidup yang lebih luas dan kompleks. Untuk kepentingan komunikasi semacam ini, dibutuhkan perantara lain berupa media cetak dan elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima dengan cepat dan serentak kepada publik secara meluas.

 Apa yang mesti dilakukan dalam kepentingan ini? Setidaknya kemampuan Juru bicara organisasi akan menjadi penentu. Ia harus meletakkan prinsi-prinsip public relation yang tepat dengan tingkat kemampuan berbahasa yang juga cukup baik, santun dan solutif. Tidak emosional dan tampil sebagai trend setter komunikasi berbagai arah.

Fungsi komunikasi massa ini, bertujuan agar cita-cita organisasi dapat tersampaikan dengan tepat, misalnya menyangkut kebijakan politik, kebijakan ekonomi dan kebijakan sosial lain yang langsung menyentuh masyarakat banyak. Jangan biarkan semua orang dalam organisasi itu berbicara.

Cukupkan komunikasi di jenis ini, berada dalam satu meja. Ia mewakili seluruh kepentingan organisasi dan berbicara dari apa yang dibutuhkan dan diputuskan organisasi. Komunikasi organisasi dapat terjadi secara efektif apabila masing-masing anggota dalam organisasi ini mampu memahami apa yang menjadi tujuan, program dan sasaran yang hendak dibangun organisasi di mana seseorang berhimpun. Komunikasi di jenis ini, relatif lebih terbatas dan relatif lebih kecil dibandingkan dengan kegiatan komunikasi massa sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya.

Komunikasi Organisasi

Komunikasi organisasi, dilakukan dalam konteks bagaimana Parpol misalnya mampu membaca keinginan massa atau berbagai fenomena yang terjadi. Lalu bagaimana partai memiliki sikap yang mewakili kepentingan seluruh massa di akar rumput. Hasil dari komunikasi organisasi ini, kemudian di publis sebagaimana telah saya jelaskan di alinea sebelumnya. Dalam konteks tertentu, komunikasi organisasi dapat saja dilakukan dalam bentuk yang personal atau bahkan sangat personal.

Kegiatannya dilakukan dalam bentuk tatap muka meski sifatnya sangat tertutup.Kita tahu bahwa sebenarnya berpolitik itu, adalah tindakan komunikasi. Dan dalam Partai Politik, bukan hanya sekedar bagaimana sebuah Parpol melirik atau dilirik; plus minus oleh partai lain, tetapi, juga kemungkinan bagaimana setiap anggota partai dapat dikalahkan atau mengalahkan orang lain dalam partai itu. Karena itu, menjadi tidak heran jika pertentangan antara anggota Parpol terjadi dan sering berakibat fatal. Akibat fatal dimaksud, dapat saja menyangkut aspek hukum. Inilah resikonya.

Bagaimana misalnya, jika dalam keadaan tertentu menimpa partai di mana kita hidup dan berjuang didalamnya. Ya semestinya, komunikasi harus lebih banyak bersipat organisatoris dan komunikasi itu sangat mungkin bersipat tertutup. Tidak terbuka apalagi ke ranah publik yang cukup luas, sebetapapun varian-varian dalam Orsospol itu ada dan terjadi.

Banyak di antara kita sering tidak sadar, bahwa kebebasan berkomunikasi itu, dilakukan dalam bentuknya yang bersipat telanjang bulat, sehingga lupa untuk membungkus sedikitpun, padahal sangat mungkin bungkusan-bungkusan itu, dapat menyelesaikan dinamika yang ada.

Fakta ternyata tidak selalu demikian. Mengapa hal ini terjadi? Menurut saya terjadi karena kita abai kemungkinan menggunakan kemampuan kita yang andal dalam kegiatan komunikasi. Karena itu, tidak heran jika kemudian dalam sebuah rumusan para ahli komunikasi menyebut bahwa 87,5 persen keberhasilan seseorang, termasuk didalamnya sebuah organisasi, disumbang oleh kemampuan komunikasi.

Simpulan

Apa yang dapat kita simpulkan dari tulisan ini. Saya melihat bahwa komunikasi yang efektif akan terjalin dengan baik, jika masing-masing di antara kita mampu membangun hubungan yang baik antara berbagai pihak. Salah satunya diwujudkan dalam bentuk memberi pemahaman bahwa dalam ruang kita selalu tersedia ruang lebih dan sekaligus ruang kurang masing-masing diri. Hal ini akan mampu dilakukan, jika kita mampu memiliki kemampuan bahasa yang baik.

Saya melihat bahwa tidak mungkin terjadi komunikasi yang mutual yang saling menguntungkan akan terjadi, jika jika satu sama lain tidak dapat saling memahami tentang apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkannya. Kegiatan komunikasi harus mampu menggiring seseorang, menumbuhkan rasa percaya dirinya agar hambatan atau tantangan dapat diatasi dengan baik. Mereka yang memiliki kemampuan “bahasa” yang baik akan mampu melakukan komunikasi yang efektif. Eefektivitas ini, akan mampu menjalin antar individu menjadi berkembang sehingga melahirkan hubungan yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain. Demikian …. semoga ada manfaatnya. Amiin …. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.