Mengurai Kegagalan Islam Politik di Indonesia| Part – 1

0 109

Pernahkan ada Presiden Indonesia yang bukan Muslim? Jawabannya tidak pernah! Pernahkan ada Presiden Indonesia, yang tidak dipilih mayoritas Muslim? Jawabannya, juga hampir sama, tidak ada!

Tetapi jika ada pertanyaan, pernahkan ada Presiden Indonesia yang benar-benar diakui sebagai sosok Muslim dan mewakili Islam? Jawabannya hampir tidak ada! Kecuali mungkin KH. Abdurachman Wachid [berakar di NU] atau BJ. Habibie yang telah “diislamkan” ICMI satu dasawarsa sebelum dia diangkat menjadi Presiden menggantikan Jenderal Soeharto.

Bagaimana nasib mereka ketika memimpin Indonesia dalam perspektif Islam Politik di Indonesia? Ternyata sama! Mereka selalu diidentikkan tidak mewakili Islam. Meski tidak seperih apa yang dialami Ir. Jokowie Widodo saat menjadi Presiden, atas berbagai tudingan “anti Islam”. Hampir semua Presiden Indonesia, ternyata dihujat dalam substansi yang relatif mirip sama. Yakni “anti Islam” di awal, di tengah atau di akhir pemerintahannya.

Cukup menarik juga untuk disebut bahwa, ketika para pemimpin Indonesia dianggap berjarak dengan Islam, mereka malah selalu lebih kuat kedudukannya dalam konstelasi politik nasional.

Dalam kasus tertentu, mereka malah cenderung menjadi rapuh memimpin Indonesia, ketika apiliasi politiknya bergeser dari apa yang disebut sekularis menjadi Islamis. Hal ini mengecualikan apa yang dialami Presiden Soekarno, yang secara massif di awal pemerintahannya, didukung komunitas dan aktivis Muslim.

Lyceum akan menghadirkan tulisan ini, mengurai Relasi pemimpin Indonesia dengan Islam Politik di Indonesia. Tulisan ini akan memuat mulai dari Ir. Soekarno sampai ke Ir. Jokowie dengan mengecualikan KH. Abdurachman Wachid dan BJ. Habibie. Alasannya, karena dua tokoh dimaksud, dianggap merefresentasikan kekuatan Islam Politik Indonesia, meski dalam soal ini, tentu sangat subjektif.

Soekarno: Santri atau Sekularis

Kita mulai dari Ir. Soekarno. Ia diangkat sebagai Presiden pertama Indonesia [1945] dengan gegap gempita mayoritas bangsa Indonesia. Dan karena penduduk Indonesia mayoritas Muslim, maka, secara mayoritas ia dikehendaki umat Islam Indonesia. Soekarno dipuja buka saja sebagai pemimpin penuh mitos, tetapi, juga dianggap sebagai juru selamat Indonesia.

Soekarno yang diangkat menjadi Presiden di usia yang sangat muda, tampil dalam keunikannya sendiri, Ia bukan saja patut dianggap sejajar dengan pemimpin kelas atas dunia, tetapi, dalam banyak kasus, ia terkesan mampu mengalahkannya.

Kemesraan antara Soekarno dengan “Islam politik”, selanjutnya hanya bertahan sebentar, Sejak awal kemunculannya, ia kemudian memperoleh hujatan karena dianggap tidak mampu menampilkan refresentasi masyarakat Muslim, khususnya, dalam mempertahankan Piagam Jakarta.

Karena itu sepuluh tahun pertama, masa pemerintahannya selalu berjalan dalam dinamika yang penuh intrik. Sampai M. Hatta undur diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden, disusul beberapa tahun setelahnya pembubaran Partai Masyumi, aktivis Muslim, balik menyerang Soekarno dan berada di barisan paling depan dalam berbagai upaya untuk menggantikannya. .

Soekarno yang dulu dianggap hebat dan penuh mistis, tiba-tiba harus jatuh dan tersungkur. Kejatuhannya dipicu karena menguatnya anggapan bahwa Soekarno membawa gagasan “ambisius” yang hendak menyatukan kaum nasionalis, agamis dan Komunis [Nasakom] di Indonesia.

Gagasan ini, sebagaimana dapat dibaca dalam Biografi Soeharto, disebut Ir. Soekarno kepadanya, karena gagasannya ini telah disampaikan dalam forum – forum multinasional. Bahkan disinyalir telah disampaikan Soekarno dalam Sidang Umum PBB.

Gagasan ini tentu saja ideal dan dinantikan publik dunia. Gagasannya dianggap dapat menurunkan ketegangan perang dingin antara Barat versus Eropa Timur. Tepatnya antara Amerika Serikat dengan Rusia. Hanya saja, gagasan ini, tentu saja berhadapan bukan saja dengan TNI, tetapi juga dengan pemikir dan aktivis Muslim

Penggerak anti Soekarno dengan segenap dinamika politiknya, juga didukung secara mayoritas oleh aktivis Muslim. Beberapa tahun sebelum Soekarno jatuh, ia akhirnya berhadapan dengan sebagian perwira TNI dan aktivis politik Islam.

Dalam soal ini, penulis kira Jenderal Soeharto, tidak mungkin berani mengambil alih kekuasaan, jika dirinya tidak didukung masyarakat Indonesia, yang didalamnya otomatis aktivis Muslim. Bersambung …

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.