Menikah dengan Mahar Surat Al Fatihah | Misteri Sang Ksatria Cinta Part – 21

0 381

Menikah dengan Mahar Surat Al Fatihah: Malam kamis itu, Alberta terhuyung. Ia kembali lagi ke ruang bacanya. Ia melukiskan suatu fakta baru, bahwa betapa kekasihnya itu, yang sebentar lagi akan menjadi besannya, segera ia temui. Meski tidak ada yang tahu kalau Santi adalah kekasihnya, dan juga tidak ada yang peduli atas apa yang dirasanya, Alberta tetap harus merasa senang, anak kesayangannya Allent dapat menjadikan dirinya sering bertemu dengan Santi.Inilah hal terindah yang aku rasakan. Aku dapat bertemu kamu Santi … kapanpun dan dimanapun, tanpa harus terikat beban sosial yang cukup tinggi. Bathin Alberta berkata

Malam sebelum ia tidur, Alberta menulis sebuah tulisan yang sangat pendek di surel miliknya. Untukmu Santi … Demi Tuhan hatiku teriris. Dari sejuta rasa keteririsan yang pernah aku alami, malam inilah yang paling membuat aku sangat teriris. Malam inilah yang membuat aku meneteskan air mata yang cukup deras. Betapa sulitnya dirimu memposisikan rasa dan raga dalam waktu yang sama. Kau dituntut membuat suamimu bahagia, tetapi, betapa sejatinya kau begitu sulitnya saat ini untuk mendapati kebahagiaan itu darinya.

Santi, … bantulah suami kamu. Jagalah terus dia. Aku jamin, aku jamin, aku jamin sekali lagi untuk membantu kalian. Jangan khawatir akan segenap biaya perawatan suami kamu, dimanapun ia mau dirawat. Aku sangat sayang sama kalian semua. Aku tak mungkin melupakan cintaku, mungkin sama dengan kamu, sangat sulit melupakan diriku. Tetapi, aku harus realistik, kini kau akan menjadi besanku. Selebihnya, biarlah Tuhan yang akan mengatur. Aku mohon, saat besok kita ketemu, jagalah rasa suamimu dan sedikitpun kau tak menunjukkan diri sebagai kekasih terlama aku. Betapa sakitnya aku sebagai laki-laki, jika apa yang kau alami, dapat diketahuinya.

Dengan mata yang sembab, Alberta masuk ke kamarnya, kurang lebih pukul dua malam. Ia gelisah bagaimana ia menunjukkan batang hidungnya saat akan bertemu dengan Santi. Ia merebah lalu tidur dalam segenap bayangan yang terus membayangkan bagaimana sulitnya perasaan Santi malam ini. Sampai adzan subuh dikumandangkan dan dia bangun lalu shalat. Sehabis shalat, dilihat mobil sudah di parkir di depan rumah dan supir-supir rumah tangga bersama supir perusahaan sudah siap berangkat. Ada sepuluh mobil yang berangkat dari kediaman Alberta di Jakarta menuju Cirebon.

Sampailah keluarga Alberta di Cirebon pukul 10 pagi. Musisi yang dimintai Allent khusus lagu-lagu jaz kepada Mell, sudah tersedia di sekitar altar rumah Santi. Liukan suara yang menyanyikan lagu Deddy Dukun, Fariz RM, Indra Lesma, Yana Yulio dan Katon Bagaskara, sangat sepoi terasa di rumah megah ala Italiano abad ke 17 itu.

Allent dan ibunya Hypatia langsung disambut Mell dan Santi. Sementara itu, Alberta berjalan di belakang mereka. Ia menyalami suami Santi yang tidak mampu berjalan tegak karena gula darah dan asam uratnya cukup tinggi. Bapaknya Mell yang sedang kumat itu, kemudian mengatakan terima kasih atas kunjungannya ke Cirebon. Mereka duduk dengan sangat santai dan disuguhi sejumlah minuman dan makanan natural seperti kelapa muda dan just sirsak kesukaan Allent. Mereka terus bicara tanpa sedikitpun jeda. Di luar dugaan, Mell malah meminta kepada kedua orang tuanya untuk dinikahkan saat itu juga dengan Allent. Betapa bahagianya Allent. Ia menoleh kepada Alberta agar permohonan Mell disetujui.

Hypatia dan Santi semula menolak dengan halus atas permohonan Mell. Tetapi, Alberta tampaknya cukup bijak atas permohonan Mell dan ia kemudian meminta idzin kepada bapaknya Mell untuk menikahkan mereka. Akhirnya, mereka menyetujui pernikahan dilangsungkan saat itu juga. Tanpa amil dan tanpa petugas KUA akhirnya mereka menikah. Lagu berjudul Ku Tak Sanggup, mengalun saat persetujuan perkawinan itu berlangsung.

Alberta lalu bertanya, Ssssssst …. sebentar dulu. Mell kamu mau minta mas kawinnya apa dan berapa jumlahnya kalau dalam bentuk uang. Mau uang rupiah, dollar atau apa …?

Dengan senyum manis, Mell mengatakan: “Mas kawinku adalah, aku mohon Allent membacakan surat al fatihah untuk-ku”. Apa …? Kata Allent dan Alberta bertanya serempak. Sementara Santi, Hypatia, dan bapaknya Mell sedikitpun tidak berkomentar. Mereka berkaca-kaca menyaksikan bagaimana Mell berkata seperti itu.

Papah kata Mell kepada Alberta, Allent, kekasihku dan sebentar lagi akan menjadi suamiku, sejak pertama kali aku bertemu kamu di Tokyo, di Universitas yang sangat bergengsi di dunia, kau begitu menawan saat menyampaikan pidato ilmiah di sebuah forum ilmiah. Jas dan setelah pakaian yang kau gunakan, telah membuat aku terkesima. Dengan kesanggupanmu untuk menjadikan aku sebagai istrimu, telah membuat aku kehilangan harapan apapun, kecuali aku ingin menjadi istri kamu.

Alberta meneteskan air mata. Ia menoleh kepada Santi yang juga meneteskan air mata. Mell juga sama meneteskan air mata. Yang lain tidak ada yang meneteskan air mata. Mell tahu, rasa cinta seperti ini, sesungguhnya dimiliki ibunya dan Alberta yang saat ini menjadi mertua barunya. Dengan sesungging senyum, Mell kemudian meminta sekali hanya dinikahkan dengan maskawin, membaca surat al fatihah.

Alberta kemudian bertanya sekali lagi. Mell sungguhkah kau hanya meminta maskawin seperti itu? Kamu jangan khawatir, berapapun yang kamu minta atas maskawin ini, biarpun kami tak mempersiapkannya terlebih dahulu, kami sanggup memenuhinya sekarang juga. Mell kembali meyakinkan. Cuma kata Mell, mengapa aku harus hanya membaca al fatihah, dengan al fatihah inilah, aku merasa akan mengawali kehiduapn keluarga kami dengan cita rasa dan rasa sayang yang sangat tulus dari Allent. Aku akan mengatakan Amiin saat Allent selesai membacanya, karena, aku akan pastikan bahwa keluargaku hanya akan diisi sejumlah rasa indah dan bahagia serta tak ada apapun, kecuali rasa cinta yang tulus. Pernikahan ini diawali niat tulus untuk membangun keluarga yang bahagia dunia dan akhirat.

Akhirnya, mereka melangsungkan pernikahan. Semua berkata amiin dan Mell resmi dan mengubah namanya menjadi Nyonya Allenta Akriphos. Hypatia mencium Mell dengan hangat diikuti oleh santi dan bapaknya Mell. Alberta yang terakhir mencium Mell. Dan rupanya ia sudah mempersiapkan diri sejak awal akan memberi hadiah untuk keluarga Santi, satu kunci mobil Mercedes Benz dengan A Class. Mobil seharga 1,099 milyard ini, dihadiahkan kepada Mell dengan mengecup keningnya secara lembut sambil berbisik, Mell, terimalah ini, hadiah dari aku dan mamah barumu. Kudoa’akan semoga kau dapat melahirkan keturunanku yang nubuwah. Aku percaya itu mampu kau lakukan. Karena aku tahu betapa ibumu pasti merawatmu dengan baik dengan nalar-nalar ketuhanan. Air mata misteri Alberta kembali menetes. Persis sama dengan air mata Santi yang selalu misteri.

Hari itu, betul-betul menjadi hari yang sangat membahagiakan. Sampai kemudian Alberta dan Hypatia bersama seluruh rombongan pulang. Sebelum pulang, Alberta bilang, Santi … datanglah ke rumah kami di Jakarta. Dan tidurlah di sana beberapa malam.Santi menjawab, betapa bahagianya jika aku bisa ke sana. Tetapi, anda tahu betapa suamiku butuh perawatan khusus. Kecuali Tuhan mengidzinkan aku dalam waktu lain, kupastikan aku akan datang. Jagalah anakku ya … kata Santi pelan.

Allent, ajudan kantor, seorang sekretaris dan adik Allent yang baru pulang dari Beijing, tetap di sana tidak pulang. Mereka disuruh Alberta untuk menunggu Allent sampai visa selesai dibuat untuk melaksanakan Umrah, lalu bulan madu di Belgium sambil menemui kakaknya Allent, yakni Altair, yang masih aplikasi riset di sana. Allent diidzinkan cuti selama satu bulan dan diminta kepada sekretarisnya untuk mengurus segala sesuatunya.

Terima kasih Santi … kata Alberta dalam hatinya. Terima kasih atas segalanya …. Karena engkaulah, aku bisa datang ke sini. Karena engkaulah air mataku menetes. Karena engkaulah aku memiliki harap. Karena engkaulah aku masih menyisakan tawa. Tawa yang akan kupersembahkan kepadamu secara khusus, ketika aku dan kamu dapat hidup berdua bersama dalam satu mihrab cinta. Aku yakin … kapanpun itu, akan terjadi. Aku akan bersama kamu secara bersama, sambil memegang tasbih dan bacaan al Qur’an dalam hembusan terakhir yang tak terasa. Hembusan itulah … yang akan menjadi akhir cerita kita sekaligus mengawalinya di alam lain, bersama Hypatia tentu saja. Charly Siera. The End …

Edisi Sebelumnya:

  1. Misteri Sang Ksatria Cinta. Part 1
  2. Dalam Sebuah Mihrab 
  3. Hiburan di Tengah Segenap Rasa Pilu 
  4. Membunuh Rindu 
  5. My Endless Love
  6. Bertemu di Forum Budaya
  7. Kematian Tak Mengakhiri Cinta 
  8. Cinta dalam Dua Keluarga
  9. Selalu Misteri
  10. Love in the Sky 
  11. Diam Seribu Bahasa 
  12. Sosok Mellisa Claudhya
  13. Duka Allent ditinggal Mati Istri 
  14. Atrium Mengawal Cinta
  15. Memadu Kasih di Atrium
  16. Cerita Cinta dua Generasi
  17. Allent dan Mell Saling Menyatakan Cinta
  18. Lagu Kerinduan Abadi
  19. Mel dan Santi Menari Indah
  20. Allent Melamar Mellisa
Komentar
Memuat...