Meniru Cinta Sejati Nabi Muhammad kepada Siti Khadijah

Meniru Cinta Sejati Muhammad
0 7.698

Meniru Cinta Sejati Nabi Muhammad. Khadijah meninggal dunia. Waktu kematiannya dikenang sebagai tahun duka. Ia meninggalkan Muhammad di alam fana’ dalam kesendirian. Khadijah kembali ke pangkuan Tuhan dalam derai air mata basyariyah Muhammad. Kekasih yang sangat dicintainya. Karena cintanya yang hebat, kekayaannya yang demikian melimpah habis terkuras untuk berjuang menegakkan Islam.

Inilah sosok yang dikenal sebagai induk para ahli Syurga dari kaum wanita. Hidup abadi bersama para Nabi dan shalihin. Dialah sosok yang selalu tersimpan dalam bathin terdalam Muhammad. Ia menyimpan rapih cintanya karena khawatir menjadi celaan bagi istri-istrinya yang lain. Muhammad sadar bahwa rasa cemburu istri-istrinya kepada cinta Muhammad atas Khadijah, seringkali melahirkan prahara keluarga.

Fakta menunjukkan bahwa ternyata cinta Muhammad atas Khadijah, tetap saja tidak bisa untuk tidak dicemburui. Ekspresi rasa cintanya kepada Khadijah, tidak mampu ia sembunyikan secara tuntas. Muhammad sering menyampaikan kepada sahabat terdekatnya tentang rasa cinta tulusnya yang tak mungkin tergantikan oleh siapapun kepada Khadidjah. Ia adalah cita rasa cinta pertamanya yang memperoleh sambutan dari diri Muhammad dengan tulus. Ia memberinya gelar Dewi sebagai lambang induknya bidadari di Syurga.

Cinta Tulus Pasti Digumamkan

Muhammad hanya bergumam di tengah malam, saat dia terkilir dari bangun atau sengaja ingin bangun dalam rangka menghadap Tuhan dalam bentuk tahajud. Ia selalu berdoa agar Tuhan tetap menjaga dan memberinya rahmat dan selalu membalas setiap titian kebaikan yang pernah diberikan Khadidjah kepada dirinya di bumi. Di bumi ia memberi gelar Dewi sebagai lambang kebaikan, kejujuran, kesetiaan dan ketulusan.

Saat istrinya yang lain, seperti Aisyah mempertanyakan mengapa ia begitu dalam mencintainya, dengan lugas ia menjawab: “Bagaimana mungkin aku melupakan Khadijah. Ia adalah pemberi selimut saat dingin menerpa dan tak ada seorangpun yang memberi aku selimut. Ia adalah wanita kaya yang memberiku kepercayaan saat tidak ada seorangpun yang percaya kepadaku, khususnya ketika untuk pertama kali aku memperoleh orakel (wahyu). Ia penyimpan rahasia keluarga, penyayang yang tidak ada tandingnya, pemberi yang tidak ada tepinya. Khadijah adalah pecinta yang tidak ada kata selain rasa suka. Ia menjadi pembuka pintu saat malam datang merayap dan pewaris segala kekayaan bathin nubuwah yang dimilikinya. Dia adalah wanita yang berdiri tegar ketika menghadapi berbagai masalah kemanusiaan saat kenabiannya harus dia ajarkan kepada umatnya.

Jika bukan karena perintah Tuhan, mungkin Muhammad tidak lagi memiliki istri selain Khadijah. Itulah cinta basyar Muhammad, meski ia harus disimpan dalam bathin terdalam saat perjumpaan fisiknya tak mampu ia lakukan.

Khadijah adalah Kenangan Tak Terlupakan

Muhammad sebagai basyar menyimpan kenangan indah bersama Khadijah tanpa eksploitasi kata dan cerita. Kisahnya berakhir dan selalu berakhir dalam legenda cinta termisteri sepanjang sejarah kemanusiaan. Cinta yang tertanam dan terukir dalam bathin yang mengajarkan ketegaran, kesungguhan, keindahan dan kebahagiaan tanpa akhir.

Khadijah yang sangat kaya raya, membangun keluarga dengan segenap kemewahan lahir, tiba-tiba harus berganti menjadi papa, karena kekayaannya habis dipakai perjuangan kenabian Muhammad. Khadjijah Ikhlas dan sedikitpun tidak menununjukkan watak sayang terhadap kekayaannya. Ia mengalihkan kekayaan lahir menuju kekayaan bathin yang tak ternilai. Ia menjadi demikian metafisik menuju sesuatu yang beyond.

Ia yang saat wafatnya hanya menyisakan empat tumbak tanah di Khandak itu, tetap menjaga kesetiaan dan ketulusan kepada suami yang paling dicintainya, yakni Muhammad. Muhammad menjadi tujuan perolehan cinta kasih yang tak mungkin tergantikan atau digantikan manusia lain. Inilah cinta abadi kemanusiaan yang terlukis dalam segenap kasih sayang yang tak berhingga.

Khadijah dan Muhammad sepertinya meyakini bahwa cintanya hanya akan dipetik di taman Syurga. Tempat yang hanya dapat dihuni jika keduanya telah sama-sama meninggalkan alam fisik. Suatu alam tak berbatas, seperti cinta keduanya yang juga tak berbatas. Inilah alam yang tidak ada alam lain kecuali kebahagiaan. Kebahagiaan yang bukan penantian semu. Inilah cinta yang sesungguhnya diidamkan banyak manusia. By. Prof. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...