Menjadi Birokrat Dalam Plakat

0 18

Di jalan-jalan raya, sewaktu saya masih kecil, biasanya hanya ramai berisi umbul-umbul, baligo dan plakat ketika akan memasuki tanggal 17 Agustus. Maklum tanggal dimaksud, sering disebut sebagai tanggal paling sakral di Indonesia. Pada tanggal dimaksud, nomenklatur bangsa Indonesia dideklarasikan (1945) sebagai bangsa yang merdeka. Lukisan para pejuang yang heroik, patung-patung proklamator kemerdekaan, gerbang-gerbang ke kampung dan ke sudut-sudut jalan, berdiri berjejer dengan model dan warna cat baru dengan warna mencolok merah putih. Masyarakatpun diramaikan bukan hanya dengan potongan kertas merah putih dengan lipatan-lipatan yang unik, tetapi, juga berbagai perlombaan yang cukup banyak menyita waktu dan pikiran, namun penuh etos, harapan dan upaya untuk minimal mengingat heroisme para pendahulu bangsa ini. Hari ini, jalan-jalan raya tanpa peringatan hari kemerdekaanpun selalu penuh oleh mereka yang bercita-cita menjadi birokrat, meski hanya dalam plakat.

Di luar moment itu, gambar-gambar dan tulisan yang kerap muncul di jalan, paling hanya photo bintang iklan beserta produk iklannya. Fose artis dan bintang film-pun begitu menggoda dan mendorong siapapun dapat dengan cepat mengenal sebuah produk yang dilayani para bintang. Saya percaya, para bintang dapat honor banyak karena mereka berhasil mempopulerkan produk yang dikemas sedemikan rupa oleh kelihaian akting dan fose mereka dalam gambar.

Belakangan, baligo dan plakat bertebaran setiap hari di setiap sudut jalan. Tidak seperti masa lalu. Fose bintang film, penyanyi dan bintang iklan itu, hari-hari ini tampaknya harus rela mundur perlahan sebab setiap sudut di jalan strategis telah diisi gambar yang konon layak atau diperlayakkan sebagai calon pemimpin umat.

Latar belakang mereka cukup heterogen, tidak homogen seperti para artis dalam gambaran di atas. Ada yang berlatar belakang politisi kawakan, politisi dadakan dan sedang berlatih menjadi politisi, latar belakang kyai, akademisi, birokrat karier, PNS yang pensiun dini, pelawak, supir dan kondektur bahkan pengangguran. Mereka bersatu dalam satu irama, dalam satu musik dan dalam satu gaya. Gaya-gaya dimaksud adalah gaya seorang calon pemimpin.

Menarik lagi untuk disebut, bahwa para musisi, aktris dan aktor yang dulu membintangi produk-produk unggulanpun, hari ini, banyak di antara mereka yang justru mengiklankan dirinya seperti para bintang dadakan itu. Konsekwensinya, kalau dulu mereka mendapatkan honor, hari ini banyak di antara mereka yang justru merogoh isi saku cukup banyak untuk kepentingan pengikalanan dimaksud.

Entah bagaimana awalnya, sosok-sosok calon pemimpin umat itu berfose, seolah tidak punya kreasi lain untuk memperkenalkan diri kepada publik, selain hanya menempelkan photo di pinggir jalan dengan sejumlah bahasa atraktif yang cenderung menggiurkan. Dalam konteks tertentu, perilaku meraka kalah kreatif oleh para ahli lukis jalanan yang mengkonstruk gambar dan tulisan di truk-truk pengangkut barang umum, dengan gambar yang sedikit glamour dan nakal. Ada apa sesungguhnya dengan bangsa Indonesia hari ini? Pongah dan tidak punya arah, atau itu arah yang sesungguhnya? Dengan alasan ini, sesungguhnya kenapa tulisan ini lahir

Dari Ideologi ke Komoditi

Saya melihat bahwa persoalan utama kenapa soal tadi terjadi, lebih karena menguatnya abrasi dari sesuatu yang awalnya ideologis –yang jika mengutif Mc. Leland (2006) seharusnya bersipat tetap dan tidak pernah mati— kepada sesuatu yang absurd dan dalam konteks tertentu bersipat pragmatis. Ideologi, hari ini, tidak lagi berjuang untuk kepentingan ideologi, tetapi ia persis seperti komoditi yang layak diperjualbelikan dan diperdagangkan. Sialnya lagi, komoditi jenis ini, hari ini tidak hanya dijual di toko beretalase, tetapi, merambah ke tempat-tempat lain baik yang sakral –seperti tempat ibadah–, maupun ke tempat yang penuh sampah seperti jalanan dan emper-emper pertokoan.

Misalnya, kelompok ideologi “wong cilik” tidak lagi menunjukkan “rasa kecilnya”.. Banyak orang yang hari ini mendagangkan dirinya sebagai pejuang kaum kecil yang lemah atau diperlemahkan. Tetapi di waktu yang sama, “para pejuang” kaum lemah ini, bertengger dalam deretan masyarakat yang kaya atau patut diadagiumkan sebagai kelompok penguasa. Para pejuang kaum cilik itu, tidak lagi berlesehan di emperan, di mushala kecil yang reot dan gentingnya bocor, di bawah jembatan dengan lusuh keringat dan pakaian yang serba kotor, di desa-desa yang jalannya jangankan di aspal hotmix, aspal curah saja tidak. Mereka mendiskusikan kelompok kecil itu di hotel berbintang atau minimal di Masjid besar yang dibangun dari hasil proposal dan kedekatan politik pemilik yayasan kepada mereka yang disebut penguasa. Kecil, lemah atau diperlemahkan, kini beralih dari sesuatu yang sebelumnya sangat esensialis ke sesuatu yang praktis dan pragmatis.

Hal sama dapat dilihat dari bagaimana kelompok-kelompok tertentu mendagangkan moral, akhlak dan etika keberagamaan. Para pejuang nilai-nilai dimaksud, tidak lagi mampu berdiri sebagai wakil dari mereka yang benar-benar nmemiliki akhlak terpuji. Tetapi, banyak di antara kita. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.