Bisikan Dari Nurani “Menjadi Birokrat Dalam Plakat”

Birokrat dalam Plakat
0 12

Di jalan raya, sewaktu masih kecil, biasanya hanya ramai berisi umbul-umbul, baligo dan plakat ketika akan memasuki tanggal 17 Agustus. Tanggal dan bulan dimaksud, sering disebut sebagai moment sakral Indonesia. Pada tanggal dimaksud, nomenklatur bangsa Indonesia dideklarasikan (1945) sebagai bangsa merdeka. Lukisan para pejuang yang heroik, patung-patung proklamator kemerdekaan, terpampang di gerbang-gerbang menuju kampung atau di sudut-sudut jalan.  Para pejuang, berdiri berjejer dengan model dan warna cat baru dengan warna mencolok merah putih.

Pada moment dimaksud, masyarakat juga diramaikan bukan hanya dengan potongan kertas merah putih dengan lipatan-lipatan yang unik, tetapi, juga berbagai perlombaan yang cukup banyak menyita waktu dan pikiran. Tetapi itu dianggap biasa. Masyarakat tetap penuh etos, harapan dan upaya untuk minimal mengingat heroisme para pendahulu bangsa ini. Hari ini, jalan-jalan raya tanpa peringatan hari kemerdekaanpun selalu penuh oleh gambar. Gambar yang memperjuangkan dirinya yang bercita-cita menjadi birokrat, meski hanya dalam plakat, karena mereka tidak pede. Mereka tidak dikenal publik luas.

Di luar moment itu, gambar-gambar dan tulisan yang kerap muncul di jalan masa lalu, paling hanya photo bintang iklan beserta produk iklannya. Fose artis dan bintang film-pun begitu menggoda dan mendorong siapapun dapat dengan cepat mengenal sebuah produk yang dilayani para bintang. Saya percaya, para bintang dapat honor banyak karena mereka berhasil mempopulerkan produk yang dikemas sedemikan rupa oleh kelihaian akting dan fose mereka dalam gambar.

Jalan Raya Era Reformasi

Belakangan, baligo dan plakat bertebaran setiap hari di setiap sudut jalan. Tidak seperti masa lalu. Fose bintang film, penyanyi dan bintang iklan itu, hari-hari ini tampaknya harus rela mundur perlahan sebab setiap sudut di jalan strategis telah diisi gambar yang konon layak atau diperlayakkan sebagai calon pemimpin umat.

Latar belakang mereka cukup heterogen, tidak homogen seperti para artis dalam gambaran di atas. Ada yang berlatar belakang politisi kawakan, politisi dadakan dan sedang berlatih menjadi politisi, latar belakang kyai, akademisi, birokrat karier, PNS yang pensiun dini, pelawak, supir dan kondektur bahkan pengangguran. Mereka bersatu dalam satu irama, dalam satu musik dan dalam satu gaya. Gaya-gaya dimaksud adalah gaya seorang calon pemimpin Indonesia temporer baik di kelas lokal, regional atau nasional.

Menarik lagi untuk disebut, bahwa para musisi, aktris dan aktor yang dulu membintangi produk-produk unggulanpun, hari ini, banyak di antara mereka yang justru mengiklankan dirinya seperti para bintang dadakan itu. Konsekwensinya, kalau dulu mereka mendapatkan honor, hari ini banyak di antara mereka yang justru merogoh isi saku cukup banyak untuk kepentingan pengikalanan diri mereka sendiri.

Entah bagaimana awalnya, sosok-sosok calon pemimpin umat itu berfose. Seolah tidak punya kreasi lain untuk memperkenalkan diri kepada publik, selain hanya menempelkan photo di pinggir jalan dengan sejumlah bahasa atraktif yang cenderung menggiurkan. Dalam konteks tertentu, perilaku meraka kalah kreatif oleh para ahli lukis jalanan yang mengkonstruk gambar dan tulisan di truk-truk pengangkut barang umum, dengan gambar yang sedikit glamour dan nakal. Ada apa sesungguhnya dengan bangsa Indonesia hari ini? Pongah dan tidak punya arah, atau itu arah yang sesungguhnya? Dengan alasan ini, sesungguhnya kenapa tulisan ini lahir

Dari Ideologi ke Komoditi

Saya melihat bahwa persoalan utama kenapa soal tadi terjadi, lebih karena menguatnya abrasi dari sesuatu yang awalnya ideologis. Jika kita mengutif David Mc. Leland (2006) ideologi itu, seharusnya bersipat tetap dan tidak pernah mati— kepada sesuatu yang absurd dan dalam konteks tertentu bersipat pragmatis. Ideologi, hari ini, tidak lagi berjuang untuk kepentingan ideologi, tetapi ia persis seperti komoditi yang layak diperjualbelikan dan diperdagangkan.

Sialnya lagi, komoditi jenis ini, hari ini tidak hanya dijual di toko beretalase. Tetapi, merambah ke tempat-tempat lain baik yang sakral –seperti tempat ibadah–, maupun ke tempat yang penuh sampah seperti jalanan dan emper-emper pertokoan.

Misalnya, kelompok ideologi “wong cilik” tidak lagi menunjukkan “rasa kecilnya”. Banyak orang yang hari ini mendagangkan dirinya sebagai pejuang kaum kecil yang lemah atau diperlemahkan. Tetapi di waktu yang sama, “para pejuang” kaum lemah ini, bertengger dalam deretan masyarakat yang kaya atau patut diadagiumkan sebagai kelompok penguasa.

Para pejuang kaum cilik itu, tidak lagi berlesehan di emperan. Di mushala kecil yang reot dan gentingnya bocor, di bawah jembatan dengan lusuh keringat dan pakaian yang serba kotor. Di desa-desa yang jalannya jangankan di aspal hotmix, aspal curah saja tidak. Mereka mendiskusikan kelompok kecil itu di hotel berbintang atau minimal di Masjid besar yang dibangun dari hasil proposal dan kedekatan politik pemilik yayasan kepada mereka yang disebut penguasa. Kecil, lemah atau diperlemahkan, kini beralih dari sesuatu yang sebelumnya sangat esensialis ke sesuatu yang praktis dan pragmatis.

Jualan Yang Mungkin Bakal Tidak Lagi Laku

Hal sama dapat dilihat dari bagaimana kelompok-kelompok tertentu mendagangkan moral, akhlak dan etika keberagamaan. Para pejuang nilai-nilai dimaksud, tidak lagi mampu berdiri sebagai wakil dari mereka yang benar-benar nmemiliki akhlak terpuji. Tetapi, banyak di antara kita, justru menjadi soal akhlak dan etika itu, sebagai komoditas yang pantastik untuk diperjual belikan.

Dalam konteks ini, sepertinya kita layak bertanya, layakkah kita berharap kepada para pedagang politik. Kepada para pedagang ideologi dan kepada pebisnis moral. Agak sulit memang. Apa yang menjadi kebanggan para politkkus, itulah yang membuat rakyat tidak enak. Atau sebaliknya. Apa yang membuat rakyat enak, itulah yang membuat politikus tidak nyaman.

Coba kita bayangkan. Ada tokoh yang siap atau mempersiapkan dirinya untuk menjadi pemimpin bangsa, dikenal saja tidak. Buktinya! Pamflet-pamflet itu bertebaran karena mereka yakin bahwa dirinya tidak dikenal. Lho ya dikenal secara personal saja tidak, bagaimana dengan kinerjanya. Tetapi inilah politik Indonesia. Politik yang antah berantah dan entah ke mana ujungnya. Prof. Dr. H. Cecep Sumarna

Komentar
Memuat...