Guru Ideal menurut Az Zarnuji | Mahasiswa Berkarya Part 1

0 77

GURU IDEAL – Bagi para santri yang berada dilingkungan pondok pesantren tentunya sudah tidak asing dengan nama Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji. Ia adalah seorang tokoh yang ahli dalam berbagai keilmuan khususnya pendidikan, tasawuf, bahasa dan fikih. Nama lengkap Az-Zarnuji ialah Syeikh Tajuddin Hu’man Bin Al-Khali Az-Zarnuji. Hingga saat ini belum ada riwayat yang menjelaskan tentang lahir dan wafatnya.

Menurut beberapa sumber mengatakan bahwa bliau lahir di daerah Zaranji kota Persia, Sijistan di Afganistan bahkan di daerah Turki di kota Zarnuji. Tetapi yang jelas bliau hidup pada masa dinasti Abbasiyah di Baghdad dan Bani Umayyah II di Spanyol. Dimana ketika itu adalah masa kejayaan umat islam dalam berbagai bidang mulai dari perluasan wilayah, ekonomi dan khususnya pada bidang Pendidikan. Hal ini di tandai dengan banyak lahirnya berbagai lemba-lembaga pendidikan Islam.

Tipologi Az Zarnuji

Az-Zarnuji merupakan orang yang gigih dalam belajar menuntut ilmu. Tercatat ada beberapa lokasi yang pernah bliau tempati untuk menimba ilmu. Kota Bukhara dan Samarkhan merupakan dua tempat yang pernah ia singgahi dalam perjalanan Tolabul Ilminya. Bliau di asuh oleh gurunya yaitu Burhanuddin Al-Marghinani, Syams Al-Din Abdul Al Wajdi Muhammad bin Abdul As Saffar Al-Amidi dan lain-lainya. Kemudian Ia belajar pula pada Al-Firghinani seorang ahli fikih, sastrawan dan penyair.

Lalu ada gurunya yang bernama Hammad bin Ibrahim ahli dalam bidang kalam, satrawan dan penyair. Terakhir Az-Zarnuji tercatat menimba ilmu pada Rukun Al-Islam Muhammad bin Abu Bakar. Berdasarkan riwayat diatas dapat kita simpulkan bahwa keilmuan Al-arnuji sudah tidak diragukan lagi, yang ahli dalam berbagai bidang seperi fikih, kalam, syair, bahasa dan Pendidikan.

Berkat keilmuannya Az-Zarnuji mampu mengarang sebuah kitab yang cukup monumental sehingga menjadi bahan referensi tentang konsep pendidikan. Kitab tersebut di beri nama Ta’lim Al-Muta’alim Thariq Al Ta’alim (Mengajarkan metode belajar kepada para pelajar).

Banyak para akademiki dari berbagai penjuru dunia menjadikan kitab ini sebagai kajian referensi mereka dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Kita yang berisi tentang konsep etika dalam mencari ilmu, syarat mencari ilmu sampai bagaimana cari menghormati atau memuliakan orang – orang yang berilmu (guru).

Ketika Az-Zarnuji hidup, banyak sekali para remaja baik laki-laki maupun perempuan yang menuntut ilmu di lembaga-lembaga pendidikan mulai dari Baca Tulis Al-Quran sampai pada tingkatan madrasah. Akan tetapi ilmu-ilmu yang mereka cari terasa sulit di dapatkan,diserap bahkan untuk diamalkan dalam kehidupan sehari  hari. Itu lah yang menjadi salah satu faktor kenapa Az-Zarnuji mengarang kita tersebut. Lari dari rasa keprihatinan di lingkungannya sendiri.

Menurut Az-Zarnuji dalam kitabnya menjelaskan bahwa pendidikan yang pertama harus diajarkan dan menjadi pondasi awal adalah pendidikan agama (religious). Bliau banyak mengemukakan bahwa tujuan menuntut ilmu itu harus semata-mata karena mencari ridho dari Allah SWT agar kita mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun diakhirat. Selain itu harus didasari oleh niat yang tulus untuk meningkatkan derajat manuusia itu sendiri sehingga mampu menghidupkan dan menegakan agama Allah SWT.

Fungsi Ilmu Menurut Imam Al-Ghazali

Hal senada di sampaikan pula oleh Imam Al-Ghazali yang mengemukakan bahwa fungsi ilmu itu yang pertama untuk agama dan kemudian baru dunia. Ini menandakan bahwa sebelum kita mempelajari hal-hal lain kita sebaiknya mempelajari ilmu agama terlebih dahulu karena akan menjadi dasar  kekuatan untuk mengembangkan ilmu yang lain.

Jadi niat yang benar dalam mencari ilmu buka semata-mata untuk mendapatkan jabatan, memperoleh harta berlimpah serta penghargaan atau sanjungan umat manusia karena itu termasuk duniawi yang kepentingannya hanya sementara.

Jika proses belajar atau menuntut ilmu kita ingin mendapatkan hasil yang maksimal, pilihlah guru yang benar-benar alim, wara dan lebih tua umurnya (dewasa). Maksud dari alim ialah hendaknya guru tersebut benar-benar orang yang ahli dalam bidangnya serta selalu berusaha mendekatkan diri, memohon pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT. Seorang guru hendaknya orang yang wara (waro). Artinya selalu berhati-hati dalam melakukan sesuatu hal.

Terlebih berhati hati dalam makan, minum serta barang – barang yang sifatnya subhat belum tentun kadar hala dan haramnya. Ini semua demi tercapainya tranfer kebersihan / keberkahan ilmu itu sendiri kepada muridnya (transfer of knowledge). Terakhir seorang guru tentunya telah dewasa, menjadi manusia yang benar-benar manusia, pribadi yang anggun, mampu menelaah mana yang baik dan tidak. Hal ini dikategorikan sebagai orang yang telah memiliki umur.

Lebih lanjut Az-Zarnuji pun menyinggung bahwa kita sebagai pelajar berhati – hatilah dalam memilih teman. Pilihlah teman yang rajin dalam beribadah utamanya, selalu berbuat kebenaran dan tentunya teman yang baik selalu saling mengingatkan satu sama lain. Pergaulan yang salah terkadang menjadi faktor kegagalan dalam menuntut ilmu.

Kita sering terlena dan dinina bobokan oleh hegemoni kebebasan bersama rekan – rekan kita yang salah. Oleh karenanya kita dituntut untuk berhati – hati dalam bergaul di lingkungan. Selektiflah dalam memilih rekan belajar. Akan tetapi maksud selektif dalam memilih teman disini, bukan berarti kita membatasi atau menghalangi untuk bersilaturhmi dengan siapa pun. Lebih baik kita berteman dengan buku – buku pelajaran.

Baca selanjutnya di Halaman-2

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.