Menjadi Pemalas Agar Bisa Lebih Segar | Slowdown to speed Up Part – 2

Menjadi Pemalas Agar Bisa Lebih Segar Slowdown to speed Up Part - 2
0 21

Dua hari kemudian, kawan itu kembali menyapa saya, hello Prof, aku ingin bertemu. Apa boleh? Mengapa tidak boleh, ada apa? Kata saya! Ya ingin kembali berdiskusi dan mencari jalan ke luar atas situasi yang dihadapi. Hayu, kapan? Ya sekarang kata dia menjawab dengan cepat. Oke … aku tunggu di pinggir kolam belakang rumah-ku …. kata saya.

Dua jam kemudian, dia datang dengan mobil avanza kebanggaanya. Dua cangkir kopi dan sepiring goreng ubi jalar, sudah kami siapkan. Saya mau kedatangan orang yang selalu serius menurut ukuran banyak orang. Ia juga terkenal sebagai pekerja keras. Berangkat dari rumahnya sangat pagi dan pulang sangat malam. Padahal pekerjaannya, sebenarnya, menurut ukuran saya, dapat dilakukan hanya dalam waktu beberapa jam saja. Oke boss, silahkan duduk, minumlah itu kopi mumpung masih hangat. Goreng ubi juga masih hangat.

Eeeeh, mengapa kamu loyo, kata saya. Ya inilah Prof. Asam urat dan kolesterol saya tinggi. Punggung seperti ke tarik-tarik. Mungkin karena setiap hari harus membawa mobil sendiri ke sana ke mari, saya kelelahan. Makan, kadang di jalan dan tidak teratur. Waktu seolah-olah mengejar saya, ke manapun saya pergi.  Saya jadi tidak fokus.

Jadilah Pemalas

Hey … begini ya, kata saya melanjutkan pembicaraan. Coba sekali-kali anda belajar menjadi seperti pemalas. Dia bilang, ah ada-ada saja. Jangankan hidup dilalui seperti pemalas, menjadi benar-benar serius dan sungguh-sungguh dalam bekerja saja, hasilnya, jarang berhasil. Coba aja dulu, kata saya. Katanya minta resep. Ko … dibantah terus.Iya sih … tetapi teori anda ini katanya, mengada-ada. Saat banyak orang menyuruh serius, ini malah disuruh untuk tidak terlalu serius. Saat banyak orang menyuruh untuk sungguh-sungguh, lho anda malah menyuruh untuk menjadi seperti pemalas. Saya bingung. Bagaimana ilustrasinya.

Misalnya, coba waktu untuk tidur atau waktu istirahat anda itu minimal 8 jam. Tidurlah dengan pulas. Termasuk jika anda baru bisa tidur jam 12 malam. Bangunlah jam 8 pagi. Karena anda Muslim, bangun dulu setengah jam saat subuh tiba, lalu tidur lagi sampai jam 8 pagi itu. Apa mungkin kalau habis bangun, mengambil air wudlu bisa tidur lagi.

Mengapa tidak kata saya. Lha yang Muslim itu kan disuruh wudlu juga sebelum tidur. Buktinya bisa tidur. Yang menyebabkan anda tidak bisa tidur itu, karena saat anda bangun, anda ingat banyak beban yang dihadapi. Lalu anda menjadi gelisah. Kegelisahan itulah  yang menyebabkan anda tidak dapat tidur. Coba perhatikan, kenapa pemalas itu bebas. Hal itu terjadi karena ia tidak tahu memiliki masalah, makanya, mengapa dia menjadi pemalas. Paling tidak, bagi anda sikap pemalas itu, digunakan untuk tidur dan istirahat. Lupakan saja beban agar semua syaraf tubuh dapat kembali nyaman.

Ia mulai menganggukkan kepalanya. Benar juga gumam dia. Hal yang sama, anda berlakukan saat melakukan perjalanan, di mobil, di motor atau di becak. Lupakan semuanya. Fokus dan tenang dalam perjalanan. Bila perlu, jika dalam perjalanan yang anda lalui, anda cerita yang indah-indah saja. Jangan berpikir atau berbicara yang menyulitkan. Toch kendaraan anda sedang bergerak menuju titik yang anda tuju. Jika itu mampu dilakukan, maka, pada saat anda sampai ke tempat kerja untuk mengerjakan setiap beban yang harus anda selesaikan, anda pasti fokus dan menghasilkan hasil pekerjaan yang maksimal. Mengapa? Sebab otak masih sangat fresh. Iya juga … katanya pelan. By. Prof. Cecep Sumarna, bersambung ke seri–Mulai dari yang Dianggap Ringan

Komentar
Memuat...