Menjauhi Prahara

0 0

Menjauhi Prahara. Hidup hanya satu kali dan yang mati tak pernah bangkit kembali untuk hidup di dunia. Karena itu, menjadi tidak pantas, jika hidup kita hanya diarungi dengan prahara-prahara yang selalu menistakan segenap cita rasa kemanusiaan kita. Padahal penyebutan kita sebagai manusia yang dalam kaidah agama disebut dengan al-nus selalu mengandung kesimetrian. Simetri bukan sama dan bukan juga homogen. Tetapi, tampil dalam segenap wujud yang sama, memainkan irama dalam waktu yang sama.

Hanya jika kita menganggap bahwa hidup adalah kompetisi, maka, rasa takut akan pergantian posisi pasti menghinggapi diri. Mereka yang saat ini merasa berada dalam puncak-puncak karier, sejatinya, mereka sedang berjalan dalam tangga kehidupan yang terus menurun. Itulah makna lain mengapa hidup selalu disandingkan dengan kata sandiwara. Karena dalam lakon hidup selalu tersedia tugas yang berbeda hanya diperlukan bermain sesuai dengan irama yang ada. Yang berbeda dalam permainan yang sama, akan memaksa siapapun untuk pentas secara prima.

Jika hidup menjadi sejenis manusia yang selalu berada dalam posisi seolah sedang berkompetisi, ia akan selalu abai pada apapun yang menjadi kesejatian tugasnya sebagai manusia. Padahal jika kita sadar bahwa semua yang ada itu bersipat regulasi yang pasti berganti posisi, maka, dalam segala hal pasti tak kan pernah ada yang abadi. Dan jika kita sadar bahwa hidup tak pernah berada dalam keabadian, maka, citra kita hanya memiliki satu titik, yakni kesimetrian.

Rasa Kemanusiaan itu bernama Cinta

Puncak rasa simetri, itulah cinta. Sebab hanya jika kita memiliki rasa cinta itulah, terutama terhadap diri kita sendiri, tuntutan untuk berbuat kebajikan pada sesama kemanusiaan, lepas dari terminologi apapun untuk kita sebut, termasuk pada kata lawan, maka, sejatinya tugas kemanusiaan kita akan mampu ditunaikan.

Politik juga sama. Ia bukan hanya sekedar bagaimana berkuasa dan menguasai sesuatu. Ia adalah seni bermain, yang sutradaranya tak pernah muncul ke permukaan. Jika kita sadar bahwa koreograf dan sutradara tak pernah ada dalam suatu gelanggang, mengapa, kita tak sadar akan kepedulian kemanusiaan kita. Yu kita tersenyum saja agar prahara tak datang menyapa kita. By. Prof. Cecep Sumarna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.