Inspirasi Tanpa Batas

Menjelajahi Aceh dari Peurlak sampai Republik Indonesia

0 46

Konten Sponsor

Waktu itu, tepat pada tanggal 28 Agustus 1996, pesawat Garuda Indonesia Airway, mendarat di Bandara yang kecil dan relatif kumuh. Bandara itu, bernama Blang Bintang, Banda Aceh. Itulah kali pertama dalam sejarah hidup penulis, menumpangi besi atau baja mengapung, yang kemudian diberinama Pesawat terbang.

Perjalanan Soekarno Hatta [Jakarta[ menuju Aceh, ternyata ditempuh dalam waktu yang cukup lama. Kurang lebih  memakan waktu hampir 4,5 jam. Maklum pesawat Boeing 737 yang penulis tumpangi, transit di Bandara yang hari ini diberinama Kualanamu, Medan. Rute ini hanya dilewati pesawat 2 kali penerbangan, yakni pagi dan sore setiap hari.

Aceh dalam Memori Kecilku

Penulis mengenal Aceh, sejak masih sangat kecil. Televisi 14 inchi, hitam putih milik orang tua kami di kampung, ditambah bacaan lain yang sedikit banyak diulas di Jurnal Panji Masyarakat, selalu mencitrakan Aceh sebagai provinsi yang paling heroik di Indonesia.

Provinsi ini, bukan saja dikenal dengan keshalehan keberagamaan, tetapi, juga termasuk ke dalam daerah yang turut menyumbang kepemilikan pesawat pertama yang dimiliki Republik Indonesia.

Dengan berbagai dinamika yang dimiliki Aceh, berbagai referensi tentangnya ketika masih anak-anak, disebut sebagai Daerah Khusus. Ia bersama Jogjakarta, diberi citra khusus yang tidak dimiliki daerah lain. Mengingat Jogjakarta, sedikit atau banyak saya pasti telah mengunjunginya ketika masih anak-anak atau remaja dimaksud, maka, menjadi wajar ketika saya merasa penting untuk  mencoba mengenal Aceh.

Istilah yang melekat dalam memori saya kecil, menyebut Aceh sama dengan menyebut serambi Mekkah. Entah benar atau salah, tetapi, kata serambi dalam  benak saya yang masih kecil adalah terasnnya Mekkah. Tentu saja teras bagi sebuah rumah bernama Indonesia. Jadi, cita-cita untuk mengunjungi Aceh, atau singgah dalam waktu yang lama di Aceh, selalu menjadi impian sejak kecil.

Akhirnya Aceh Berhasil Kutinggali

Tahun 1996 di Bulan Agustus tanggal 28 itu, akhirnya berhasil membawa saya menginjakan kaki di sana. Tinggal di negeri para intelektual Muslim yang berada di ujung paling Barat Indonesia.

Saat turun dari pesawat, saya bingung harus naik apa. Taxi sangat terbatas. Kebanyakan orang yang turun dari pesawat dijemput.

Dalam posisi yang bingung seperti itulah, tiba-tiba ada seorang pemuda yang umurnya diperkirakan sebaya dengan saya. Tampilannya sangat rapih dan sopan. Ia bertanya, mau ke mana bang. Saya bilang mau ke Jalan Ar-Raniry. Dia menganggukan kepala dan mengajaknya untuk bareng.

Mobil Volvo yang menjemputnya ke Bandara, akhirnya berhasil membawa saya, ke tempat baru bernama IAIN Ar Raniry.

Saya kaget ketika menyaksikan realitas Aceh. Apa yang terbayang dalam memori, ternyata jauh dari bayangan. Aceh terkesan sangat kampung. Rumahnya kebanyakan panggung. Mobil umum sangat langka, tetapi kendaraan pribadi cenderung banyak dan mewah. Tinggalah saya di Aceh selama kurang lebih dua tahun, dan menikmati suasana yang demikian panas mengalahkan panasnya Cirebon dan Jakarta.

Acehlah yang menjadi awal perjalanan karier dan hidup saya. Karena itu, Aceh bagi saya adalah spektrum awal perjalanan karir saya sebagai seorang tenaga pendidik.

Sejarah Aceh dalam Kepentingan Global

Aceh ternyata adalah negeri yang sangat subur. Karena itu, menjadi dapat dimenegerti, mengapa Vereenigde Oastindische Compagnie [VOC] yang berdiri pada 20 Maret 1602, akhirnya tak mau ketinggalan untuk menajah Aceh. Sebagai sebuah daerah subur dengan kandungan kekayaan alam yang luar biasa, Aceh harus dipandang sebagai daerah yang cukup strategis.

Lembaga bisnis Belanda ini kemudian berupaya keras untuk masuk ke Atjeh. Negeri yang di masa sekarang lebih banyak ditulis dengan nama Acheh atau Aceh. Hanya sayang, VOC terlambat datang ke negeri dimaksud karena Portugis sudah lebih dulu datang dan menguasai negeri ini.

Ditinjau dari sudut pandang sejarah,  jauh hari sebelum abad ke 8, negeri ini sebenarnya telah mendeklarasikan diri sebagai sebuah kerajaan. Namanya sering disebut dengan Asyi. Ada juga yang menyebutnya dengan Huang Chi, Poli dan Phoni, Lambri atau Lamuri.

Pendiri Aceh

Adalah Maulana Abdul Aziz Syah bin Ali Al Mukhtabar bin Muhammad al Akhbar yang mendeklarasikan Kesultanan Aceh. Ia mendeklarasikan sebuah Kesultanan bernama Meurah Perlak. Deklarasi dilangsungkan pada abad ke 8 Masehi.

Nama Aceh sendiri sering disandingkan dengan kata Achi, berasal dari kata Akhi [Arab/saudara]. Sejak saat itulah, kata Aceh menjadi nama di daerah ini, menggantikan atau menimbun nama lain sebagaimana telah penulis sebut tadi.

Dengan kata lain, istilah yang disematkan salah satunya oleh tokoh Islam pertama Aceh, dan dianggap keturunan langsung dari Rasul, membuat Aceh agak sulit untuk dipisahkan dengan kata islam. Sebelum abad ke 8 Masehi, kata Aceh belum pernah didengar sebagai suatu nama, seperti hari ini kita mengenalnya. Karena itu pula, menjadi dapat dimengerti, mengapa Aceh begitu identik dengan kata Islam. Bersambung –Prof. Cecep Sumarna–

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan.

Catatan Setelah Formulir Komentar