Mentalitas Guru dan Kualitas Pendidikan| Mengurai Benang Kusut Pendidikan Part – 3

Mentalitas Guru dan Kualitas Pendidikan
0 75

Mentalitas Guru dan Kualitas Pendidikan. Selain karena rendahnya insentif tenaga guru, saya melihat ada faktor lain. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan dimaksud, adalah hilangnya unsur mtrinsik kependidikan. Unsur intrinsik ini selalu bersifat metafisik.

Hilangnya dimensi ini menyebabkan terjadmya keterlambatan dalam merumuskan long lasting values dalam setiap sistem dan mekanisme kependidikan. A. Sanusi (2005: 79) dalam hal ini menyebut bahwa kegagalan utama pendidikan Indonesia justru terletak pada sesuatu yang lebih mendasar dan lebih esensial. Faktor utamanya, menurut tokoh pendidikan Indonesia dimaksud, karena lemahnya visi pendidikan dalam merumuskan: Basic Values; Mission, dan; Objectives dalam pendidikanIndikator Kegagalan Kualitatif yang berhasil peneliti kaji, terdapat beberapa indikator kegagalan pendidikan. Indikator dimaksud adalah:

Rendahnya Tanggungjawab Profesi

berikut beberapa contoh yang dapat ditunjukkan untuk melihat rendahnya rasa tanggungjawab dimaksud. Misalnya, banyak di antara sarjana Ekonomi yang lahir untuk menjadi manipulator data-data keuangan. Akibatnya, mereka bukan saja gagal memecahkan setiap masalah ekonomi global yang dihadapinya, tetapi data-data keuangan menjadi hanya benar secara administratif. Faktanya, data dimaksud tidak objektif dan cenderung manipulatif.

Sarjana hukum dilahirkan sebagian untuk menjadi pelindung para pelanggar hukum. Sehingga banyaknya jaksa, banyaknya pengacara dan meningkatnya jumlah sarjana hukum, malah membuat hukum menjadi semakin tidak tertib. Insinyur juga sama. Sebagian di antara mereka malah menjadi ahli yang pandai membuat desain dan rancangan manipulatif proyek dan terkadang tidak memenuhi syarat uji kelayakan yang ditetapkan serta hanya mendahulukan aspek artifisial.

Banyak informasi di lapangan, justru menunjukkan fakta sebaliknya. Meningkatnya jumlah Sarjana Teknik, malah mempercepat robohnya bangunan, berbeda dengari bangunan lama yang didesain oleh mereka yang hanya lulus Sekolah Dasar pada tempo dulu. Sarjana Pendidikan, termasuk Sarjana Pendidikan Islam, bukan saja gagal mentransformasikan nilai-nilai pendidikan kepada masyarakat, tetapi juga gagal mentransformasikannya kepada peserta didik.

Pendidikan Malah Mendorong Neurosis dan Psikosis

Selain kegagalan dengan indikator di atas, pendidikan gagal mengantisipasi gejala neurosis dan psikosis di tengah masyarakat. Kalangan terdidik semakin hari banyak yang mengalami depresi, gelisah dan psikosis. Hasil Survey Badan Kesehatan Dunia (WHO), menyebut bahwa saat ini sekurangnya terdapat 450 juta penderita penyakit jiwa di seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri dilaporkan, jumlah penderita penyakit jiwa ini telah menghinggapi 16 – 18 persen dari populasi yang ada dengan grafiknya yang semakin hari semakin meningkat. Jumlah orang yang depresi, terisolasi dan gelisah mengalami peningkatan disaat upaya-upaya peningkatan kualitas dan kemudahan berbagai akses hidup, justru mudah didapatkan (Republika, 12 Desember 2006).

Pendidikan dan Krisis Lingkungan

Dunia pendidikan gagal mengantisipasi krisis lingkungan. Saat ini alam berada dalam keadaan yang amat labil karena terlalu banyak campur tangan manusia. Kasus Tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 di Aceh, Jogjakarta dan Pangandaran di tahun 2006, yang telah menewaskan ratusan ribu orang, menurut peneliti, dalam beberapa hal dapat disebut sebagai kegagalan manusia terdidik dalam “meramahkan” lingkungan dan hidup secara harmonis dan berdampingan dengan alam.

Saat ini alam selalu membuat kejutan dan fungsi ilmu pengetahuan yang berguna untuk memprediksi berbagai gejala seolah gugur dengan berbagai peristiwa alam yang unpredictable. Gejala alam hanya menjadi bahan kajian dan eksperimen di laboratorium, di perkosa atas nama sain tetapi tidak memberi makna dalam menyelamatkan krisis kemanusiaan. Alam seolah berontak atas perlakuan manusia yang telah memperlakukannya seperti pelacur, bukan sebagai istri yang equal dan equity dalam relasinya dengan suami. Rumusan religious yang menyebut alam sebagai wahyu (informasi ghaib) yang dipesankan Tuhan melalui kreasinya (kawniyah) terhadap manusia, menjadi terabaikan.

Udara juga kelihatan tidak lagi ramah yang salah satu sebabnya diakibatkan karena banyaknya rumah kaca yang memiliki gas karbon dioksida hasil pembakaran bahan bakar fosil. Kondisi ini tidak hanya mengancam sebagian dunia, tetapi seluruh dunia. Lapisan ozon atmosfir semakin menipis karena gas-gas yang digunakan sebagai penyegar, misalnya “deodoran” dan “aerosol” demikian banyak. Belum lagi kalau berbicara tentang kemungkinan terjadinya perang nuklir. Jumlah nuklir yang saat ini ada telah cukup untuk menghancurkan seluruh umat manusia (A. Syafi’i Maarif, 1993).

Di sisi lain, mengutip Rabindranat Tagore (2000: 21), dapat pula diprediksi bahwa manusia akan mengalami kehancuran, karena batas daya tampung bumi akan terlampui akibat pertumbuhan maksimum. Pertumbuhan maksimum ini disebabkan oleh industrialisasi, polusi, penggunaan sumber daya alam tidak terbarui, produksi pangan dan jumlah penduduk yang sulit dikendalikan.

Bukti Kegagalan Instrinsik

Kegagalan pendidikan dengan indikator di atas, terjadi karena peirdidikan kehilangan unsur intrinsik yang bersifat metafisik dan mengakibatkan tanggungjawab manusia hanya menjadi sebatas artificial dan fisik administratif ketimbang kejujuran substantif yang menjunjung tinggi nilai idealitas.

Pendidikan beralih dari sesuatu yang syarat nilai; adat dan agama, ke pembeiajaran yang sifatnya transmisi atau transfer ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, dunia pendidikan hanya mampu menjadikan peserta didik sebagai robot-robot pengetahuan yang diciptakannya. Singkatnya, dunia pendidikan kita belum mampu menjadikan manusia menjadi manusia.

Untuk itu tidak salah, jika seorang sarjana ekonomi misalnya, layak melakukan justifikasi, rasionalisasi terhadap apa yang diperbuatnya, sekalipun banyak kesalahan substantif, yang penting mereka mampu menunjukkan bukti-bukti administratif. Jadi semakin cerdas nilai akademik seorang sarjana, maka ia akan semakin cerdas pula untuk melakukan manipulasi data dan jerat hukum pasti akan membebaskannya ketika ia mampu menunjukkan alibi dan bukti atas segala perbuatannya.

Hal yang sama berlaku bagi sarjana Teknik dan sarjana-sarjana lain yang hampir mirip-sejenis. Begitupun dalam soal hukum. Secara akademik, hukum dapat dibalikkan dari normatif ke fungsi administratif-pembuktian. Akibatnya, menjadi wajar ketika persidangan sebuah perkara berlangsung, yang terjadi adalah diskusi akademik di ruang sidang yang berakibat pada hilangnya ruh normatif hukum itu sendiri.

Siapa Yang Salah

Kondisi demikian, secara par exellence memang tidak dapat disalahkan hanya kepada dunia pendidikan. Banyak persoalan yang telah mempengaruhi covert behaviour para sarjana di luar dunia pendidikan. Pengaruh itu, ditinjau dari sudut pandang sosilogi menjadi wajar, karena dunia pendidikan sering hanya mengurung dirinya dalam lingkar menara gading sosial dan berjarak dengan kondisi sosial yang sesungguhnya.

Sekalipun demikian, kondisi tadi, tampaknya didukung oleh guru yang dalam kasus-kasus tertentu, tidak memenuhi persyaratan ideal untuk disebut sebagai guru. Oleh karena itu, upaya apapun untuk meningkatkan profesionalisme guru, harus dianggap sebagai jalan pencerdasan bangsa sekaligus sebagai suatu daya untuk melahirkan kaum terdidik yang cerdas dalam berbagai sisi dan dimensinya, termasuk tanggungnya dalam membentuk kepribadian peserta didik. Prof. Cecep Sumarna bersambung

Komentar
Memuat...